.25. Tidak Tepat

1686 Kata
“Kamu bodoh banget sih?”tegas Raina dengan emosi yang meluap-luap. Sikap Varda waktu tahu Barat selingkuh sangat tidak masuk akal. Bukannya marah, dia malah melempem kayak kerupuk basi. “Mau sampai kapan begini?” “Aku belum siap, Rain.” “Mau sampai kapan? Sampai Gemi tahu semuanya?” “Kamu gila?” “Seharusnya kamu belajar dari aku.”tegasnya dengan mata berkaca-kaca. Dia kembali mengingat betapa perihnya sakit di hati Tasha. Dia membenci dirinya sendiri waktu tahu bapaknya selingkuh. Ya, Tasha sudah beranjak dewasa. Tentu dia tahu seberapa bersalah bapaknya. “Tasha menghancurkan isi kamarnya bahkan hampir mencelakai dirinya sendiri.” “Usahaku menutupi semuanya udah gagal, Var!! Kalau Tasha kenapa-napa, lebih baik aku mati.”lanjutnya dengan wajah berlinang air mata. Kisah ini tak lagi soal hubungan suami istri yang hancur. Ini sudah lebih dari itu. Masa depan seorang anak dipertaruhkan disini. “Aku takut, Rain. Aku benar-benar takut.” Raina memeluknya erat. Pelukan yang benar-benar membuat Varda tenang. Tahun-tahun buruk yang sudah usai tidaklah lebih buruk daripada tahun ini. Ketika segalanya terjadi, Varda tak pernah serapuh ini. Semua karena ekspektasi yang terlalu jauh dari realita. Pelayan mengantar cake dan coklat panas untuk dinikmati. Suara petir semakin terdengar. Diluar sana, orang sedang berjuang melewati derasnya hujan. Dan mereka tak lebih malang dibanding seorang Varda Aningrat. “Apa susahnya melihat foto selingkuhannya?” “Kau tidak mengerti perasaanku.” “Jangan terlalu lemah jadi perempuan.” “Kita beda, Rain. Kau jauh lebih baik daripada aku.” “Apa maksudmu?” “Jelas kalau kau tidak mencintai Ervan.” Tatapan Varda membuat Raina berpikir. Kelihatan kalau sakitnya berkali-kali lipat. Kenapa bisa begini? Dunia ini benar-benar payah untuknya. “Argh, aku bisa gila!” “Aku tidak bisa disamakan denganmu, Rain.” “Maafkan aku. Aku terlalu egois sampai menyalahkanmu.” Pernikahan itu diawali dengan cinta. Beda dengan Raina dan Ervan yang terpaksa demi keinginan keluarga besar. Dan keadaan sekarang tak terlalu membebani Raina. Dia membenci Ervan hanya karena Tasha. Siapa sih ibu yang tega menyakiti anaknya? Tentu saja tidak ada. Sedang Varda? Dia disakiti oleh dua hal sekaligus. Cinta yang ia sangka bertahan sampai mati sudah berakhir. Ini begitu menyayat hatinya. Semakin diingkari, semakin perih juga sakit hati itu. “Aku kira dia masih mencintaiku.” “Aku bingung harus bagaimana.” “Aku kira sikap mama dan papa gak akan pernah membuatnya jadi seperti ini. Aku tahu kok, dia membenciku. Tapi selingkuh rasanya terlalu kejam.” Dia menangis lagi. Bikin Raina stress dan galau. “Jangan paksa aku melihat wajah perempuan itu.”tegasnya lagi. “Baiklah. Tapi kau harus tenang.” Ini kali pertama Raina melihat Varda sepayah ini. Bahkan ketika salah satu cabang Varda Cosmetic mengalami pailit, dia berhasil bangkit tanpa kecemasan yang luar biasa. Lihat sekarang. Tembok pertahanannya runtuh begitu saja. Hanya karena pria yang ia cintai. Sejenak, Raina merasa beruntung. Jika kau diselingkuhi oleh pria yang tak kau cintai, rasa sakitnya tidak terlalu besar.  Mereka memang sudah berbeda sejak dulu. Ketika Varda menikah dengan Barat, Raina sangat iri. Tapi dia tidak akan bisa membenci sahabatnya. Rasa sayangnya lebih besar daripada rasa iri itu. Dunia mereka semakin jauh ketika Ervan bermain wanita. Sibuk check in hotel tanpa peduli dengan rumah.  Raina pernah hampir tumbang. Tapi dia selalu bangkit saat melihat tawa di wajah Tasha. Dia bertahan sampai sekarang cuma demi anak perempuan itu. Jika tak ada dia, surat cerai sudah melayang sejak beberapa tahun yang lalu. Selalu ada alasan kenapa seorang istri bertahan. “Tolong antarkan dia ya.” “Baik, nyonya.” Raina melihat kepergian Varda dengan tatapan sedih. Melihat sahabatnya menderita jauh lebih menyakitkan dibanding melihat dia bahagia. Walau dulu Raina iri, sekarang rasanya jadi ikut kesakitan.  Sebuah taksi terparkir di halaman rumah. Gadis berseragam SMP itu turun dengan wajah lesu. “Kamu udah pulang?” “Iya, ma.” “Mau mama pesan Cheese Cake?” “Gak usah ma. Aku mau tidur.”ucapnya ketus. Raina membatin seorang diri. Tasha sepertinya belum bisa menerima kenyataan. Terakhir kali dia ketemu Ervan, dia teriak-teriak dan marah. Dan Raina gak bisa menghalangi luapan emosi itu. Dia diam saja dan melihat bagaimana reaksi Ervan. Suaminya itu sudah mendarah daging dengan main wanita. Meski tahu kalau dia punya anak gadis, dia masih tetap main belakang. “Demi Tasha. Bukan demi aku!!!” Itulah kalimat terakhir Raina kepada Ervan yang pulang dengan bau alkohol yang menyengat. Kalimat itu ternyata tak terlalu mengusiknya. Lagi dan lagi, dia masih saja melakukan hal yang sama. Walau sekarang lebih tertutup. Raina tetap tahu sebab ia punya orang yang siap mengawasi. “Gimana, Do?” “Ini yang baru saja saya temukan. Hmm, tapi ada sedikit yang mengganjal.” “Apa?” “Berdasarkan historis kunjungan, mereka tak pernah bertemu di hotel dan penginapan yang lain. Hubungan mereka terkesan seperti pacaran biasa.” “Ayolah, Do. Tidak ada pacaran yang tanpa tidur bersama. Kamu cari tahu lebih lanjut.” “Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi.” Raina menarik nafas panjang. Siapapun wajah dibalik dokumen ini, ia harap tak membuat perubahan besar. Setidaknya dia bisa melakukan sesuatu untuk Varda. Sahabat yang terlalu rapuh hingga tidak bisa mengambil keputusan. Dibukanya tali pengikat amplop coklat itu. Dan terlihat beberapa foto. Foto pertama membuat dahinya mengernyit. Ini tidak bisa dipercaya. Foto dua orang yang sedang tersenyum di sebuah kafe.  Untuk lebih yakin, dia mengambil handphonenya dan mencari akun i********: seseorang. Sekarang ia semakin yakin. Wanita itu adalah Serani Floella, influencer yang akhir-akhir ini lagi naik daun. Dia semakin terkenal berkat collaboration bersama Dipta Brigarda. Dan yang lebih mengejutkan, mereka adalah brand ambassador dari Varda Cosmetic. “Argh, ini gila. Gak masuk akal.”keluhnya sambil bersandar di sofa. Dia menatap layar i********: itu. Terlihat jelas kalau Tasha memfollow i********: wanita itu. *** Pintu akhirnya terbuka setelah beberapa ketukan yang bikin bising. Cewek yang selalu modis itu datang dengan kaos dan celana pendek dengan sandal hotel yang terlihat sudah usang.  “Kak Berlin?” “Hai, Kil. Dipta di rumah kan?” “Hmm, iya.” “Gue mau ketemu dia.” “Ayo, masuk aja kak.”ucap Kilau mempersilahkan. Rumah tampak sepi karena beberapa orang sedang di luar.  “By the way, kayak buru-buru kesini?” “Iya. Ada yang penting banget.” “Pantes. Biasanya modis banget.” Akhirnya mereka tiba di lantai 2 yang super crowded. Pasti Dipta merasa gila ketika menginjakkan kaki di tempat itu. Berlin saja udah pengen keluar padahal baru aja nyampe. Kayaknya Dipta perlu diajarin gimana cara menghandle barang-barang ini biar gak looks messy. “Kak Dip, ada Kak Berlin!”panggil Kilau biar Dipta sadar. Kalau lagi kerja, dia fokusnya lebih dari 360 derajat. Jadi bisa dibayangkan betapa tidak pedulinya dia pada hal lain. “Aku ke kamar ya kak.” “Thanks ya, Kil.” Berlin menunggu dengan resah yang tiada henti. Dia menggerakkan jemarinya berulang kali. Hingga akhirnya wajah cowok itu muncul dari balik bilik yang mengarah ke balkon lantai 2. Dipta mengambil handuknya untuk mengelap keringat yang hampir mendarat di wajah bagian bawah.  “Kenapa Ber?”tanyanya sambil berjalan mendekat. “Lo kesini buru-buru? Apa dikejar setan?” “Dip, Sera dimana?” “Hah?” “Gue baru dari rumahnya tapi gak ada orang.” “Oh,, mereka lagi liburan ke Singapura. Katanya sih cuma semingguan.” “Sekeluarga?” “Iya.” “Tapi kok gue telfon dia gak dijawab?” Dipta tertawa mendengarnya. Ayolah, mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Jika Sera tak merespon, itu sudah bisa diwajarkan. Mungkin dia sengaja. “Kenapa malah ketawa sih?” “Hubungan kalian kan lagi gak baik. Jadi mungkin aja dia masih bete.” “Terus, lo sendiri gimana? Dia jawab gak kalau lo yang chat?” “Dijawab kok. Terakhir kali tadi pagi jam 5. Emang sih gue ngirimnya kemarin. Mungkin dia baru ingat. Dan dia lagi liburan, Ber. Gak mau lah gangguin.” Berlin duduk di sofa itu dengan nafas tak beraturan. Dia bingung harus bagaimana. Ditelpon gak diangkat. Ke rumah, tapi rumah kosong. Bagaimana dia menjelaskan semuanya? Berlin tahu kok, dia benar-benar salah. Ya, dia pantas diginiin. Tapi ayolah, kasih kesempatan agar dia bisa minta maaf.  “Belum terlambat kan, Dip?” “Terlambat kenapa sih? Emang mau ngapain ketemu Sera?” “Adalah. Urusan perempuan.”dusta Berlin. Pengen sih dia cerita, tapi gak tega sama Sera. Cukup Sinka yang tahu cerita ini. Tidak bisa dibayangkan jika Dipta juga tahu. Rasa bersalah Berlin akan jadi dua kali lipat. “Mau makan dulu gak? Biar gue pesenin double porsi?” “Pesan apa?” “Nasi uduk langganan.” “Boleh deh.” Sudah lama gak begini. Padahal dulu mereka sering makan bareng. Apalagi zaman-zaman kuliah dulu, rumah ini udah kayak rumah sendiri. Sekarang jauh berbeda. Semakin dewasa dan berkurangnya durasi pertemuan, semakin besar rasa enggan dan canggung di antara mereka.  “Tempenya gue ambil ya.”tawar Dipta tanpa basa basi. Berlin mengangguk. Dipta bahkan masih ingat kalau Berlin gak suka makan tempe. Dia selalu minta disisihkan. Dan Dipta selalu jadi tempat sampah yang siap menampung sisaan itu. Biasanya Berlin yang merengek minta diambilkan. Tapi sekarang, Dipta sendiri yang melakukannya tanpa disuruh. “Makasih, Dip.” “Sama-sama.” “Hmm, udah lama ya kita gak kayak gini.” “Kalau diingat-ingat udah setahun lebih. Sejak kalian jadi orang kaya, maunya makan diluar mulu.”canda Dipta sambil tertawa. “Apaan dah. Gak ada hubungannya.” “Ada dong. Kerja udah ada. Gaji datang tiap bulan. Udah gak level makan warteg.” “Lebay. Emang pada sibuk aja.” “Iya juga sih.” Berlin menikmati hidangan itu sambil melihat wajah Dipta. Meskipun sedang lelah, dia tetap saja terlihat berkharisma. Berapa kali pun cowok itu menolaknya, sulit sekali mengubah rasa cinta di hatinya jadi benci. Cinta sebelah tangan seperti menyerahkan diri pada penindasan. Friendzone juga tindakan beresiko yang menghancurkan segalanya. Bisa dibayangkan, dua hal itu ada dalam diri Berlian Nacita. Berat dan penuh beban. Dia benar-benar payah dan tak bisa menguasai dirinya. Kenapa dia harus jatuh cinta pada orang yang tidak tepat? Pada orang yang membuatnya begitu bersalah kepada Sera?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN