.24. Dosa dan Pengampunan

1140 Kata
Ibeth baru saja selesai menikmati seporsi ketoprak pedas milik bapak yang ada di pinggir jalan itu. Rasanya tidak kalah enak dengan ketoprak langganannya di komplek rumah.  “Pak, makasih ya. Ketopraknya enak.” “Sama-sama neng!” Ibeth langsung kembali ke mobil. Sudah mau satu bulan. Sera terlihat lebih tegar. Menghadapi kenyataan bahwa ia mengidap kanker hati. Dia tidak pernah cerita soal wanita bernama Varda itu. Yang pasti, dia ingin minta maaf padanya. Untuk apa? Kesalahan apa yang Sera buat? Sampai dia harus menahan rasa sakit untuk datang ke tempat ini? Dia duduk dengan wajah puas. Wajahnya masih pucat. “Aku gak lama kan, kak?” “Tenang. Kalau mereka belum kembali, semua akan aman.”balas Ibeth. Dia melaju dengan cepat. Perbuatannya hari ini sudah masuk dalam kategori ilegal. Jika para orang tua itu tahu, Ibeth yang akan kena batunya. “Masih kuat kan?” “Iya.” “Sabar ya, Ra. Aku usahakan biar cepat sampai rumah sakit.”ucap Ibeth menenangkan. Sejuta pertanyaan muncul di benaknya. Sayang, ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Sera perlu memikirkan badannya yang kian hari kian ringkih. “Aku berdosa kak. Aku benar-benar gak tahu diri.” Itulah yang akhir-akhir ini dikumandangkannya. Tentang dosa dan dosa. Perkataan yang bikin Ibeth semakin takut. Apa mungkin itu efek dari rasa sakit ini? Dia sedang berusaha untuk mengakui segala kesalahannya? Tidak. Ibeth selalu berusaha untuk percaya bahwa Sera akan sembuh. Ya, dia pasti sembuh. Mobil itu parkir di pintu belakang rumah sakit. Mereka bergegas naik lift sambil mengendap-endap. Masih ada 15 menit lagi. Jika sesuai dengan prediksi, mereka tidak akan ketahuan. Semua terasa baik-baik saja hingga mereka membuka pintu ruang pasien. Disana sudah berdiri orang tua Sera dengan tatapan tajam. Tidak cuma mereka, ada Reza dan Putri. “Ayo, Ra. Kamu istirahat.”ucap Ibeth sambil menuntun Sera untuk tidur di kasur pasien. Dia ngos-ngosan karena berlari untuk bisa sampai di tempat ini. “Ma, aku yang maksa Kak Ibeth. Jadi,,,” “Gak apa-apa. Kamu istirahat ya, biar operasinya lancar.”balas mama dengan wajah sendunya. Pucat pasi. “Iya, ma.” Ibeth ditarik Reza untuk keluar dari ruangan itu. Dia meninggalkan Putri yang sibuk bermain dengan bonekanya. “Apa-apaan sih kamu, Beth? Kamu gak mikir keadaan Sera?” “Ini keinginan Sera, Mas. Dia pengen banget ketemu sama orang itu.” “Kamu bisa kan menentukan yang baik dan tidak?” “Tetap aja, dia sudah sampai nangis. Aku gak tega.” “Kalau dia mati di jalan gimana? Kamu mau tanggung jawab?” “Apa sih, Mas? Dia itu sepupu aku. Aku gak mungkin bikin dia dalam bahaya.” “Dengan bawa dia ke sana aja, kamu udah bikin dia bahaya. Sekali lagi, jangan berbuat kayak gini lagi. Kamu cuma nyakitin om sama tante.”tegas Reza dalam kewibawaannya. Ibeth menarik nafas panjang. Suaminya itu selalu saja drama. Segalanya di dramatisasi. Padahal semua sudah baik-baik saja. Dia selalu saja mengungkit kesalahan. Setelah kepergian Reza, Tante Pi datang. Dia terlihat sedih dan kosong. Bikin Ibeth tambah bersalah. Dia duduk di kursi tunggu dengan pandangan mata yang samar-samar. Ibeth langsung duduk disampingnya. Menemaninya atau sedikit memberinya warna. “Maafkan aku, Tan.”ucap Ibeth penuh rasa bersalah. “Aku bawa dia karena kasihan. Dia nangis bahkan sampai memohon. Aku gak tega.” “Makasih, Beth. Udah jadi ruang untuk dia melakukan keinginannya.” “Tante gak marah?” “Om mu yang marah. Tante semakin takut dengan keadaan Sera. Untuk marah saja, sudah tidak sanggup.”ucapnya dengan air mata yang kini mengalir di pipinya. Dukacita terbesar orang tua adalah melihat anaknya pergi lebih dulu. Andaikan bisa, orang tua manapun tak ingin menghadiri upacara pemakamanan anaknya. Sangat menyakitkan. Membayangkannya saja sudah bikin merinding. Gimana kalau beneran terjadi? “Dia bilang gak kenapa kesana?”Tanya Tante Pi. Ibeth menggeleng. “Akhir-akhir ini, dia sering pergi. Tapi dia gak pernah mau cerita. Kalau cuma ke tempat Dipta, tante bisa ngerti kok. Tapi dia pergi ke tempat lain.” “Apa gak kita tanya aja, Tan?” “Gak usah. Biar dia yang bicara sendiri.” Tante Pi bukan wanita lemah. Dia selalu terlihat kuat di depan Sera. Dia cuma punya anak tunggal. Kenapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini? Merasa tidak adil, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Tapi untuk menangis di depan Sera, dia tak pernah berani. “Tante tenang aja, aku yakin Sera bisa bertahan.” “Aku tahu, Beth. Tapi kemarin dia bilang sama tante. Dia takut kalau operasi kali ini gagal, dia tidak akan punya kesempatan untuk menebus dosanya. Entah apa maksudnya.” Pantas saja dia ngebet ke tempat itu. Dia melakukan sesuatu pada seseorang. Dan mungkin dia sudah berhasil meminta maaf. Dosa identik dalam diri manusia. Begitu juga dengan penghakiman. Tapi, hanya orang terpilih yang berani mengakui dosa-dosa itu. “Tante tenang aja. Tadi dia juga bilang sama aku. Dia mau bertahan karena masih ada yang mau dia lakukan.” “Semoga ya, Beth. Jadwal operasi tinggal sepuluh jam lagi. Rasanya cepat sekali.” Ibeth mendekat dan memeluk wanita itu. Pelukan hangat bisa meredakan sesak di d**a yang semakin menggila. Andai Ibeth tahu apa yang terjadi, ingin sekali ia membantu Sera. Tapi Sera terlalu tertutup tentang dirinya. Ketertutupan itu berlangsung satu bulan belakangan. Padahal dulu dia sering curhat soal pacar, sahabat dan pekerjaan.  Apa mungkin ini ada kaitannya dengan pacarnya?  “Oh ya, Tan. Sera masih pacaran sama,,,,, siapa ya namanya..”tanya Ibeth sambil berpikir keras. “Barat?” “Oh, iya. Barat.” “Udah putus, Beth. Putusnya udah dua bulanan kalau gak salah.” “Putus kenapa?” “Sera gak ngasih tahu. Cuman, mereka masih berteman baik.” Mencurigakan. Bisa saja ini ada hubungannya dengan Barat. Kalaupun tidak, setidaknya Ibeth sudah memastikan sendiri. Jika bukan Barat, tentu ini ada hubungannya dengan kedua sahabatnya. Dua orang yang bahkan belum tahu keadaannya saat ini. Kenapa Sera begitu niat merahasiakan fakta itu? Mereka itu udah sahabatan sejak dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Ini terlalu gila jika dipikirkan dengan logika. “Dipta masih sering ke rumah gak, Tan?”tanya Ibeth lagi. “Kalau soal Dipta, Sera yang sering ke rumahnya. Katanya sih ada kerjaan gitu. Dipta kan sekarang udah punya banyak followers di Instagram.” “Oh, kalau Berlin?” “Jarang sih, Beth. Tapi kata Sera, dia sibuk banget di butik. Wajar aja, tante juga melihat beberapa artikel promosikan produknya Berlin.” Tidak. Ini tidak benar. Sesibuk apapun mereka, tak mungkin akan jadi seperti ini. Apakah dosa itu ada hubungannya dengan Berlin? Atau Barat? Mungkin saja Dipta? Rasa penasaran Ibeth semakin menjadi. Dia akan mencari tahu dan coba membantu. Apapun kesalahan Sera di masa lalu, dia tetaplah seorang adik untuk Ibeth.  Tak ada dosa yang tak bisa diampuni.  Persepsi yang bahkan diaplikasikan dalam dunia hukum di Indonesia saat ini. Dosa itu bisa ditebus dengan hukuman. Dan selalu ada pengampunan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN