.23. Tidak Biasa

1410 Kata
Senja datang membawa nikmat. Kenikmatan mata akan indahnya warna langit di sore hari. Wanita itu duduk sambil memandangi indahnya ciptaan Tuhan. Jika rusak, manusialah penyebabnya.  “Nyonya, ada tamu di depan.” “Suruh masuk aja ya. Ke ruangan saya.” “Baik, nyonya!” Wanita itu mengambil blazer yang menggantung di dinding. Blazer yang sudah disiapkan sedari tadi. Ia berjalan menuju ke lantai tiga untuk memenuhi janjinya dengan seseorang. Saat pintu lift terbuka, kepala pelayan menyambut dengan anggukan badan penuh hormat. “Barat udah balik?” “Belum, nyonya. Katanya hari ini akan lembur.” “Oh, baik. Kamu boleh istirahat.” “Baik, nyonya.” Wanita itu pergi disusul mata Varda yang penuh selidik. Dia akan memastikan tak ada air mata di rumah ini. Sampai waktunya nanti. Dia tak mau Gemini bernasib sama seperti Natasha. Melihat Natasha penuh derita, dia bisa memastikan kalau Gemini akan seperti itu. Berkaca dari pengalaman, harusnya Varda lebih aware kepada keluarganya. “Jadi bagaimana? Apa yang kamu temukan?”tanya Varda pada pria itu. Pria yang ia minta untuk menyelidiki Barat. Tentu dengan jaminan kalau dia bisa menjaga rahasia. Sesungguhnya, keluarga ini punya banyak orang kepercayaan. Tapi Varda tak ingin melibatkan mereka. Apalagi, Varda ingin ini jadi rahasia sampai waktunya tiba. “Benar kalau beliau bersama perempuan lain. Dan sesuai data yang saya dapat, ini sudah berlangsung sekitar lebih dari dua tahun.”ucap pria itu menjelaskan. “Ini foto,,” “Tidak. Tolong singkirkan itu dari saya!”tegas Varda. “Maaf, tapi saya belum siap melihatnya. Selanjutnya akan saya kabari via telepon. Terima kasih.” “Baik, bu. Saya permisi!” *** Jika ditelusuri, ada beberapa daftar reaksi dari wanita yang tahu suaminya selingkuh. Ada yang kalem tapi mematikan. Ada yang murka dan tak bisa dihentikan. Yang pasti, segalanya akan tampak begitu menyakitkan. Si empunya kuasa tak henti-hentinya menyisakan luka. Dan mereka cenderung tidak sadar diri. Sikap yang mereka anggap biasa begitu kejam untuk pasangannya. Sebab adanya perubahan, Varda berniat untuk melupakan hal itu. Dia ingin berubah demi perubahan yang mungkin akan terjadi pada Barat. Apakah itu cuma sekedar harapan? “Selamat makan, putriku tersayang!” “Selamat makan, pa.” Belum sempat merasakan suapan pertama, langkah kaki itu membuat keduanya menoleh. Sosok yang baru muncul itu membuat mereka bereaksi. Gemini dengan tawa di wajahnya dan Barat dengan tatapan datar. “Maaa!!” “Kamu kok gak ngajak mama?” “Biasanya kan, mama udah berangkat kerja?” Varda duduk tanpa menatap wajah Barat. “Pengen makan bareng kamu.”ucapnya sambil terkekeh. “Yash, besok juga ya, ma. Aku kangen makan bareng sama mama. Tiap hari makannya sama papa mulu. Bosan.” Barat tersenyum kecil mendengar ocehan putrinya itu.Tapi dia berusaha tidak terlihat.  “Kalau mama ada waktu, pasti mama sarapan bareng. Boleh kan, pa?”tanyanya. Pertanyaan yang membuat Barat mendongakkan kepala.  “Ya, boleh.”balasnya singkat.  Pagi ini, Gemini bicara banyak sekali tentang sekolah. Dia begitu bersemangat sampai lupa waktu. Entah kenapa, Barat suka sekali Gemini yang seperti ini. Anak yang ceria, suka bicara dan tentu saja, suka bercanda. Beda banget dari biasanya. “Aku boleh ikut mengantar Gemini ke sekolah?”tanya Varda saat Gemini sudah masuk mobil. Perkataan itu jelas membuat Barat membeku. Ada gerangan apa? “Ya.” “Aku sedang banyak waktu senggang. Jadi sekalian saja.” “Kalau kau mau, kau bisa mengantarkannya. Biar aku langsung ke kantor.” “Tidak. Aku cuma mau menumpang sampai sekolah. Tenang saja.”balas Varda seakan tahu isi hati Barat. Hari ini mereka tampak seperti keluarga harmonis. Bukan untuk pencitraan tapi sikap yang berasal dari hati. Jauh di lubuk hatinya, Barat curiga dengan sikap Varda. Kenapa tiba-tiba sekali? Ini tanda untuk kabar baik atau bukan? “Aku senang banget. Mama sama papa nganterin aku ke sekolah. Sekarang, aku bisa bikin cerita baru untuk dibacakan di depan kelas. Teman-teman pasti iri dengan ceritaku.”omel Gemini dengan imajinasinya. “Ingat kata papa kan?” “Jangan mau pergi bareng orang yang gak dikenal. Kalau ada yang jemput harus mama, papa, Om Lukas atau Bi Irin.” “Bagus!” “Aku pergi ma.”ucapnya ceria. Dia berjalan dengan cepat sambil melambaikan tangan kepada Barat dan Varda. Anak kecil itu mudah dimanipulasi. Bahkan tentang hubungan baik orang tuanya. Dia gampang senang hanya dengan melihat orang tuanya duduk bersama dalam satu mobil.  “Ehmm, kalau begitu aku berangkat kerja.” “Tunggu dulu, Bar. Boleh bicara sebentar?” Tepat di pinggir jalan, ada warung kecil yang buka di pagi hari. Warung itu menyediakan minuman hangat untuk para pekerja yang setiap pagi sudah harus berjuang melawan dunia. “Bicaralah. Aku takut terlambat masuk kantor.” “Begini,,”balas Varda ragu. “Aku butuh kau untuk ikut acara ulang tahun Varda Cosmetic.” “Maaf, aku tidak bisa.” “Ada apa? Kenapa tidak bisa?” “Aku hanya tidak ingin. Kau tak akan mengerti meskipun kuceritakan.”tegas Barat tanpa ada keraguan. Ketegasan itu membuat Varda berkaca. Tapi belum nemu jawaban.  “Aku tak akan memaksamu untuk bicara di depan umum atau apapun itu. Tapi aku ingin kau datang. Setidaknya, orang-orang bisa tahu kalau aku sudah bersuami.” “Apa pentingnya itu? Selama ini semua baik-baik saja.” “Sekarang aku tidak baik-baik saja!”tegas Varda dengan marah. Nada suara yang bikin Barat melihatnya dalam. “Aku-aku cuma ingin terlihat sempurna.”dusta Varda dengan berbagai alasan. Barat menghela nafas. Kesempurnaan cuma milik Tuhan. Tapi manusia selalu berusaha untuk terlihat sempurna. Jika tidak bisa sempurna, terlihat sempurna juga tidak masalah. Itulah yang sering ada di benak manusia. “Baik. Tidak masalah. Kirimkan saja jadwalnya. Aku akan datang.”tegasa Barat dan pergi meninggalkan Varda.  Varda  menarik nafas panjang. Kesal dan bingung. Ingin marah tapi bingung caranya bagaimana. Dering panggilan membuatnya berhenti merenung.  “Ibu, apakah ada janji dengan Mbak Sera? Dia datang ke kantor katanya mau bicara dengan ibu.” “Waduh. Saya rasa gak ada janji.” “Katanya dia mau nungguin aja.” “Oh, ya sudah. Ini saya segera berangkat ke kantor.” Varda sibuk memikirkan Barat. Segalanya tampak lebih sulit setelah dia tahu kenyataan ini. Masih sanggupkah ia menerima Barat? Apakah ia bisa seperti Raina? Sahabatnya itu bermental baja sejak dulu. Tidak seperti Varda yang suka menangis kala seorang diri. “Kenapa?” Pertanyaan yang berkali-kali melintas dalam pikirannya. Jika sebab masa lalu, dia tetap tidak pantas melakukan itu. Tak sekalipun dia butuh penjelasan. Semua berlalu seperti tidak ada yang terjadi.  Dia berjalan dengan sepatu hak tinggi yang menambah keanggunannya. Pegawainya langsung memberitahu bahwa tamu itu sudah menunggunya sedari tadi. Tamu yang belum masuk dalam daftar janjinya untuk hari ini. Mau bagaimana lagi, dia orang penting untuk promosi produk Varda Cosmetic. “Selamat siang!” “Selamat siang, Mbak. Maaf kalau saya tiba-tiba datang.” “Tidak apa-apa. Maaf juga kalau udah bikin kamu nungguin.”balas Varda dengan keramahannya. “Kamu baik-baik saja?”tanyanya saat memperhatikan wajah Sera lebih dekat. Dia tampak pucat. Tidak seperti biasanya. “Iya, saya gak apa-apa.”balas Sera dibumbui senyuman tipis. “Jadi, ada apa nih? Ada yang mau dibicarakan?” Sera mengusap wajahnya yang berkeringat. Dia seperti orang sakit yang memaksakan diri. Seharusnya, kalau sakit berobat. Dia malah datang ke tempat ini. Tempat sumpek penuh barang-barang yang crowded. Situasi yang tak menenangkan sedikitpun. “Sebelumnya saya mau minta maaf. Tapi bolehkah kontrak ini dibatalkan saja?”ucapnya sambil menyerahkan dokumen yang pernah ia tandatangani sebelumnya. Varda mengernyitkan dahi bingung. “Ini tak ada hubungannya dengan apapun. Saya hanya merasa tidak mampu melanjutkannya. Tapi saya janji, saya akan terus membantu Dipta. Tapi itu cuma untuk sementara saja. Tidak bisa sesuai dengan kontrak yang tertulis disini.” “Kamu mengira kontrak ini bisa dijadikan permainan?” “Tidak. Tentu tidak!”tegas Sera dengan wajah malang itu. “Makanya saya kesini dan ingin bicara dengan anda. Itu juga karena saya sangat menghargai kerjasama ini sedari awal. Hanya saja, saya benar-benar tidak bisa.” Varda menarik nafas panjang. Masalah beginian akan mempengaruhi banyak hal. Terutama soal produksi yang bisa ditingkatkan. Takutnya, malah terjadi penurunan permintaan dari customer. Segala sesuatu sangat beresiko.  “Berikan saya satu alasan. Jika tidak masuk akal, tentu saya akan menuntut.”ucap Varda tegas. Dalam bisnis, teman bisa jadi musuh. Begitupun sebaliknya. Profesional adalah yang sangat penting dan dijunjung tinggi. Hati nurani bisa saja ikut andil. Tapi tentu harus ada sebab akibat yang nyata. “Saya sakit.”balas Sera singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN