.22. Diburu Waktu

1085 Kata
Tak kenal maka tak sayang. Kalau sudah kenal, belum tentu masih sayang. Tahun berubah, zaman berubah. Dunia saja berubah apalagi manusia. Yang tidak berubah cuma Tuhan si pemilik semesta ini. Dicuekin satu minggu dan baru diajak ketemu di hari kedelapan membuat Barat marah. Jika dengan alasan, dia bisa memaklumi. Tapi ini tidak.  “Maksudnya apa, Ra? Bisa gak jangan ngilang tiba-tiba?”tegas Barat dengan suara beratnya. “Kamu bikin khawatir dengan semua ini. Aku bahkan nelpon Dipta buat nanyain kamu baik-baik aja atau engga. Kamu kira gak capek?” “Ma-af.” Barat mendengus kesal. Dia menarik nafas panjang. Tak tega melihat raut wajah itu. Dalam kisah cinta ini, sangat jarang terjadi percekcokan di antara mereka. Semua berjalan semulus jalan tol. Meski begitu, jalan tol tetap saja pernah bikin celaka. Sadar aja, di jalan tol sekalipun bisa terjadi kecelakaan. Barat mengelus kepala Sera. Dia tidak tega untuk murka terlalu lama. “Gak apa-apa. Tapi jangan diulangi!”tegasnya. “Kau baik-baik saja kan?” “Ya. Gak ada masalah kok.” “Syukurlah.” “Tadinya mau ngajak nonton Spiderman. Tapi keburu kelar nonton sama Ray.” “Ih, bagus dong. Aku kan gak terlalu suka sama film semacam itu.”balas Sera tersenyum. “Oh ya, aku pengen kesini.”lanjutnya sambil menunjukkan sebuah hotel yang ada di Jakarta Selatan. Ada di daerah SCBD. Baru-baru ini seorang food blogger menunjukkan kalau di hotel itu ada fasilitas bertamasya dengan tenda. Jadi, tamu bisa menikmati makanan disana. Emang sih, dipastikan harus merogoh kocek yang lumayan. Tapi experience-nya bikin worth it. Sera menjelaskan dengan antusias. Dan seperti biasa, Barat berperan jadi sosok pendengar yang baik. Sifat yang tak bisa Sera temukan di manapun.  “Boleh. Ayo, mau kapan kesana?” “Beneran? Kamu gak sibuk?” “Enggak. Aku selalu available kalau buat kamu.” “Thanks, mas. Kalau mau dua minggu lagi aja.” “Kenapa harus dua minggu lagi?”tanya Barat penuh selidik. “Aku ada kerjaan.” “Kerjaan apa? Bukannya kamu udah gak kerja di Trinita lagi? Atau kamu dapat kerjaan baru?” “Enggak, mas. Aku ada kerjaan sama Dipta. Udah keburu janji.” “Tuh kan, kamu malah milih Dipta dibanding aku.” “Nggak lah. Enak banget dong Dipta.”balas Sera tertawa. Ini adalah yang Sera salutin dari Barat. Gak pernah cemburu dengan kehadiran pria lain di dekatnya. Dan dulu dia pernah bilang kalau siapapun berhak berteman dengan siapa saja. Selagi tidak ada niat untuk main serong, dia akan percaya seratus persen. “Ra, kita udahan yuk. Banyak yang ngantri tuh.” “Hmm, boleh.” “Aku bayar dulu ya.” “Iya, mas.” Sera beranjak berdiri. Pelanggan yang dari tadi sudah menunggu langsung mengambil tempat itu. Nasi goreng di tempat itu emang enak banget. Harga murah dengan suasana kota yang penuh dengan lampu jalan. Asik banget karena ada live music juga tak jauh dari sana. “Mas, kamu anggap aku apa sih?”tanya Sera sambil berjalan. Tangan Barat masih dengan erat menggenggam tangannya. Tak ada suara balasan atas pertanyaan itu. “Aku nunggu lama loh buat kamu kenalin keluarga kamu.”lanjutnya dengan suara parau. “Apa aku gak begitu layak ya?” “Ra, jangan ngomong begitu.” “Yah, habisnya kamu gak pernah cerita soal keluarga kamu. Aku aja cerita soal mama, papa bahkan sepupuku si Ibeth. Bahkan, aku juga ceritain soal Dipta sama Berlin. Tapi kamu..” “Aku udah gak punya orang tua. Mereka pergi waktu aku masih SMP.” “Ma,,,” “Gak usah minta maaf, Ra. Aku gak apa-apa.”balas Barat dengan cepat. Dia menarik nafas sambil mencoba ingat tentang kejadian di masa lalu itu. “Mereka meninggal karena sakit. Pertama kali, papa meninggal. Lalu, mama nyusul dengan alasan depresi. Tapi itu sudah masa lalu kok. Dan itu bukan hal yang perlu di sesali lagi.” “Aku turut berduka, mas.” “Makasih, Ra. Aku juga gak pernah iri dengan siapapun yang punya keluarga. Karena aku tahu persis keluarga yang sebenarnya itu bukan cuma orangnya tapi sikapnya juga. Banyak kan keluarga yang sifatnya melebihi orang asing? Mereka bertindak seolah-olah tahu segalanya. Padahal, mereka gak tahu apa-apa.”ucap Barat dengan penuh emosional. “Dan bahkan, ada keluarga yang lebih baik kepada orang lain ketimbang keluarganya sendiri.” Sera mengangguk setuju.  “Kamu paham kan yang aku bilang?” “Iya, mas. Dan percayalah, keluarga yang sesungguhnya itu bisa kita ciptakan.” “Ya, aku sepaham denganmu.”ucap Barat dengan senyumnya yang khas. Senyum manis dan mempesona milik Barat Daya Argara. Pria terbaik di hati Sera hingga kini. Hingga kini, saat ia tahu Barat ternyata sudah beristri.  Pepatah bilang, mengagumi boleh asal jangan merebut. Benarkah Sera mengimani kata-kata itu? Mereka duduk di sisi air mancur yang dirancang sedemikian rupa agar terlihat indah. Mobil dan bus berlalu lalang menambah daya tarik tempat itu. Rumah tak mungkin indah jika tanpa pemiliknya. Jalanan juga begitu. Tak akan indah jika tanpa transportasi yang sibuk melintas setiap hari. “Terus mas, kau yakin bisa menciptakan keluarga?”tanya Sera dengan wajah polosnya. “Hah?” “Kalau gagal gimana? Masih mau bertahan?” “Ah, Eh, hmm, tergantung situasi dan kondisi.” “Iya juga sih.” “Menurutmu harus bagaimana?”tanya Barat padanya. Sera melihat air mancur itu. Keindahannya begitu memanjakan mata. Mengingatkan Sera tentang masa-masa yang sudah usai. Tak ada penyesalan untuk semua itu. Sebab, berapa banyak bahagia yang harus hilang jika kita bisa mengubah masa itu?  “Bertahan.”jawab Sera setelah beberapa saat. “Kalau sudah terlanjur, cobalah untuk bertahan.” “Jika begitu menyakitkan, masih tetap bertahan?” “Tentu saja. Kalau mau menyerah kenapa gak dari dulu. Anggap saja rasa sakit itu jaminan kalau nanti akan ada rasa itu bisa berubah jadi manis.” “Kau percaya dengan hal itu, Ra?” “Of course!”jawab Sera dengan ceria. Dia tersenyum dan merangkul lengan Barat yang disebelah kiri. “Ayo foto lagi.”lanjutnya sambil mengambil handphonenya. Karena hasilnya kurang memuaskan, dia meminta tolong pada orang yang lewat. Kenangan bisa terlupa dan abadi. Kenangan yang terlupa bisa diingat dengan lembar memori dalam wujud benda mati. Sera ingin menyimpan banyak kenangan bersama Barat. Bukan cuma satu fakta itu, tapi waktu juga membuatnya semakin diburu. Akhir dari perburuan adalah menemukan target mangsa. Akhir dari kisah cinta ini adalah waktu yang tak bisa diputar ulang. Ini bukan musik yang biasa didengar di Spotify. Ini adalah siaran radio yang akan berlalu jika lupa waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN