.21. The Reason

1345 Kata
******** Alasan bertahan bukan lagi cinta atau tidak, sayang atau tidak, cocok atau tidak. Tapi kesetiaan. ******** Sudah jelas sekarang. Sera tak pernah menyukai Dipta. Jika benar, kenapa dia nyuruh Dipta nonton bareng sama Berlin? Tidak masuk akal. Wanita mana yang rela melempar gebetannya ke tangan lawan? Tidak ada. “Seru gak? Gak nyesel kan?” “Engga kok. Seru banget malah. Lain kali ayo nonton lagi.” “Hmm, boleh sih.” “Oh ya, Dip. Minggu depan kakakku mau nikah, datang ya.”ujar Berlin sambil menyerahkan kertas undangan. “Kakakmu yang di Jogja itu kan ya?”tanya Dipta memastikan. Dulu mereka pernah ketemu. Masa muda yang penuh dengan rasa penasaran. Waktu itu, tiga sekawan itu ngumpulin uang buat bisa jalan-jalan ke Jogja. Dan dengan bantuan Kak Pras, mereka dapat penginapan, transportasi dan makanan yang murah. “Iya. Dia udah dapat cewek Jogja yang katanya manis dan ayu.”ucap Berlin sambil tertawa. “Hmm, sekalian kasih ini buat Sera yah. Kamu kan sering ketemu dia.”lanjutnya sambil menyerahkan amplop kedua. Kali ini diberi nama Serani Floella di lembar mukanya. “Bilang aja, bukan aku yang mau kok. Tapi Kak Pras masih ingat sama dia.”ucapnya membuat alasan. Dipta menerimanya dengan perasaan tidak nyaman. Dia tidak enak hati di depan Berlin. Rumitnya pertemanan memang berpotensi jadi permusuhan. “Siap! Entar aku bilangin.” “Thanks, Dip.” Seusai itu, mereka berjalan-jalan di mall untuk beberapa saat. Sekedar melihat sesuatu yang lucu atau bahkan membelinya jika mau. Tak ada hal spesial bagi Dipta. Tapi sebaliknya, Berlin merasa sangat bahagia. Hari yang biasa ini terasa begitu spesial. Walau tak berbalas, cinta tetaplah cinta. Cinta tetaplah bikin orang bahagia. Sesaat saja bisa terasa seperti waktu luang yang berharga. “Eh, loh, kita ketemu disini lagi.”sapa seseorang. Wanita anggun dengan dress panjang berwarna kuning. Dia bersama gadis kecil yang sedang menikmati ice cream. “Loh, mbak Varda. Ini namanya berjodoh sih.” “Bisa aja kamu, Dip.”balas wanita itu dengan tawa renyah-nya. “Ku kira kamu sama Sera loh.”lanjutnya saat melihat Berlin dari dekat. “Berlin.”ucap Berlin seraya memperkenalkan diri. Dan wanita itu membalas dengan begitu ramah. “Habis dari mana mbak?” “Menuhin keinginan si Gemi. Maklum aja, dia sering marah kalau permintaannya gak diturutin.”balas Varda sambil melihat gadis kecilnya itu. Dia masih asyik dengan ice creamnya. “Ya sudah. Kok saya malah mengganggu. Kalian lanjutkan deh. Saya permisi.”ucapnya mengakhiri. Dia berjalan dengan langkah pendek agar bisa mengikuti langkah Gemini. Setelah kepergiannya, Berlin langsung menghujani Dipta dengan beberapa pertanyaan. “Dia kok kenal sama Sera?” “Dia yang punya brand Varda Cosmetic. Otomatis kenal dong, orang Sera juga ikut jadi bagian promosi produknya.” “Beneran?” “Emang kenapa sih? Kok panik banget?” Berlin tidak salah lihat. Waktu itu, dia melihat Barat bersama wanita itu. Itu bukan mimpi karena disana juga ada anak kecil barusan. Sungguh ini membuat Berlin syok. Jadi, Sera bekerja dengan istri sah Barat? Ini sudah gila. Dia harus tahu semuanya. Tapi bagaimana caranya? “Kenapa Ber?”tanya Dipta menghentikan lamunan yang terlalu jauh itu. “Hmm, eng–nggak apa-apa kok.”balas Berlin dengan nada datar. Kepikiran dengan Sera yang semakin dekat dengan hal yang tidak baik. Kalau sampai dia ketahuan, bukan cuma hidupnya yang hancur. Reputasinya di bumi pertiwi Indonesia akan buruk. Padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia cuma korban dari pria b******k itu. “Be careful, Ber. Kasih tahu kalau sudah sampai rumah.”pesan Dipta sebelum berpisah dengan Berlin. Mereka menempuh jalan masing-masing karena arah rumah emang beda. Dan lagi, mereka sama-sama bawa mobil ke tempat itu. “You too, Dip.” Berlin langsung menutup pintu dan memutar lagu kesukaannya. Tentu dengan volume sedang karena dia langsung menelpon Sinka. Satu-satunya tempat curhat yang available. “Hello, beib!” “Sin, aku mau ngomong.” “Yowes. Ada apa?” “Aku rasa dunia ini makin gila deh. Tahu kan Dipta sama Sera kerja untuk brand Varda Cosmetic?” “Hooh. Terus?” “Tahu siapa pemilik brand itu?” “Ya, mana ku tahu.” “Pemiliknya itu istrinya Barat, Sin.”ungkap Berlin dengan penuh antusiasme. Dia greget banget sampai gak bisa menahan semua fakta itu. “Bercanda nih pasti. Ya kali, kebetulan banget.” “Aku juga mikir gitu. Tapi ini nyata.” “Kalau sampai Sera tahu tentang kita, kamu yang tanggung jawab.”ucap Sinka seakan takut dengan fakta bahwa mereka menyembunyikan fakta itu. Andai mereka ngasih tahu, mungkin Sera tak akan terlibat sejauh ini. Menjadi orang ketiga itu kan serba salah. Kalau sengaja mah bodo amat. Kalau gak sengaja? “Ish, kok gitu sih? Kamu jahat banget.” “Bercanda, Ber. Terus gimana? Kita kasih tahu aja ya? Kamu dimana sekarang? Kita ke rumah Sera deh. Aku jadi overthinking banget nih.” “Gak. Gak bisa gitu. Hubunganku sama dia juga lagi gak baik. Kita ketemu aja dulu buat ngebahas ini. Kamu dimana?” “Masih di kantor. Ada lembur nih, mumet banget.” “Ini aku OTW ke butik. Kita ketemu disana aja ya. Sekalian ada yang mau dibahas sama Windy.” “Oh, okay. Bye, Ber. My manager is coming.”balas Sinka buru-buru. Berlin menarik nafas agar pikirannya tenang. Dia jadi membuat asumsi baru. Apakah mungkin Varda sudah mengetahui semuanya? Jadi dia mendekati Dipta. Dan melalui Dipta dia bisa mendekati Sera. Shit!! Pikiran macam apa ini? Tidak. Tidak mungkin. Semua pasti akan baik-baik saja. Terutama karena Sera tidak pernah tahu soal Barat. Dia tak bisa disalahkan jika nantinya Varda tahu. Tak perlu waktu lama, dia tiba di butik. Parkirin mobil dan melenggang ke bagian karyawan yang ada di tempat itu. Windy masih disana dengan sejumlah dokumen yang membuat otaknya panas. “Malam, Win.” “Eh, malam mbak! Ini dokumennya..” “Nanti aja ya. Saya mau ke kantor dulu.” “Oh, ok.” Berlin meletakkan tasnya dan duduk di sofa. Menatap lukisan yang dulu pernah membuatnya jatuh hati. Sekarang, lukisan itu tampak biasa saja. Dia merenung sambil memijat kepalanya yang sepertinya lelah berpikir. Ketukan pintu membuatnya mengangkat kepala. “Gila. Capek banget hari ini.”keluh Sinka seraya duduk di sofa. Kerja dari jam 7 sampai jam 10 malam. Dia benar-benar definisi super woman. Emansipasi wanita emang kian merajalela. Walau begitu, wanita tetap butuh sosok pria. Bedanya, pria yang mereka butuhkan harus masuk dalam kategori yang tidak sembarangan. Kalau kata istilah dulu, harus ada bibit, bebet dan bobotnya. Semakin sempurna seorang wanita, semakin sempurna juga pria yang dia inginkan. Makanya, tak jarang wanita karir yang susah dapat jodoh. Dan itu bikin persepsi negatif dalam pikiran sepuh zaman now. “Jadi piye, Ber? Kita harus jujur sama Sera.” “Gimana caranya?” “Lagian, kenapa harus berantem sama dia sih? Padahal kalian temenan udah hampir sepuluh tahun.” Ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini, Windy sudah terlihat di depan pintu. Jelas saja, Sinka yang ceroboh itu kelupaan nutup pintu. “Mbak, ini dokumennya. Maaf kalau ganggu.” “It’s ok, Win. Sini, biar saya tanda tangan dulu.”balas Berlin welcome. Windy memberikan dokumen itu. Seperti biasa, Berlin memeriksa satu demi satu. Dia tidak akan mau terlibat masalah hanya karena tidak teliti membaca. Itu tidak profesional dan bisa merugikan diri sendiri. “Oh, ya, lagi pada ngomongin Mbak Sera?” “Iya, Win. Dia ada masalah lagi sama Sera. Bocah emang mereka berdua.”balas Sinka mengomentari. “Apa karena yang waktu itu?” “Yang waktu itu yang mana?” “Udah lama sih. Tapi aku masih ingat. Mbak Sera mau ketemu Mbak Berlin. Tiba-tiba, Mbak Sera buru-buru pergi setelah dari ruangan ini.” “Kapan? Perasaan dia gak pernah lagi kesini.”balas Berlin sambil terus fokus pada pekerjaannya. “Kalau gak salah sih waktu Mbak Sinka juga disini.” Tangan Berlin berhenti membolak balikkan kertas itu. Dia mengangkat wajahnya dan bertatap-tatapan dengan Sinka. Diam, hening dan gundah. Tatapan mata itu seakan saling tahu apa yang terjadi. Ini tak lagi tebakan. Ini sudah bisa dipastikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN