.20. Sebuah Buku

1076 Kata
Murka bisa menenggelamkan rasa bahagia. Itulah yang dialami Natasha setelah tahu ayahnya selingkuh. Dia tidak sekuat Raina. Dia adalah anak yang punya ekspektasi tinggi akan keluarga harmonis. Pertemuan dengan Dipta yang seharusnya begitu membahagiakan berubah jadi petaka yang menyakitkan hati. Semua properti di ruangan itu hancur dalam sekejap. Raina hanya bisa menghela nafas.  “Biarkan dia sebentar, Rain.” “Dasar bodoh! Gak seharusnya dia nangis karena si b******k itu.” “Tetap aja, dia ayahnya.”ucap Varda sambil berjalan mendekati Dipta yang terlihat melongo di balik wajah tampannya. “Sorry ya, Dip, Ra, kalian jadi ngeliat beginian. Makasih ya, udah foto bareng Tasha.” “Ah, iya mbak. No problem. Kalau begitu, kami izin permisi.”ucap Dipta ramah. Mereka bergegas keluar dari ruangan yang udah kayak kapal pecah itu. Mereka berdua menyimpan perasaan masing-masing. Tak ingin bicara terlalu banyak karena ada hati yang tak ingin dilukai.  “Ra, kita balik aja yuk?” “Ok.” “Kamu tunggu di lobby aja. Biar aku yang ke basement.” “Beneran?” “Iya. Sekalian aku nitip ini. Kan bisa dibawa pake trolly. Entar biar lebih gampang masukin ke mobil.”ucap Dipta. Sera mengangguk setuju. Dia membawa barang yang cukup banyak. Hadiah dari fans hingga barang titipan dari influencer lain.  Saat tiba di lantai 1, Sera berjalan menuju lobby dan menunggu di kursi kosong yang ada disana. Tak jauh dari tempatnya duduk, dia melihat Natasha sedang menangis. Dia duduk dengan kepala tertunduk.  Sera menarik trolly itu mendekat ke arah Natasha. Duduk di sampingnya dengan sikap yang sama.  “Maafkan ayahmu. Meski begitu, dia pasti masih sayang sama kamu.”ucap Sera sambil melihat ke arah jalan yang padat merayap karena tak jauh dari sana ada lampu merah. Tasha menoleh dengan wajah yang memerah. “Tahu apa kamu? Jangan sok tahu kalau kamu gak ada diposisiku. Aku benci sama papa.” “Tetap saja, dia ayahmu kan?” “Tapi dia jahat!” “Terus, kenapa kamu sedih? Kamu boleh marah tapi jangan sedih.” “Apa bedanya? Itu sama aja!” “Berhenti menangis. Mama mu saja gak sedih tuh. Kasihan, hati kamu malah terluka sendiri.”lanjut Sera dengan pandangan kosong. Jika ditelusuri, diri sendiri adalah penyebab luka paling menyakitkan. Dikasih kesempatan untuk sembuh, malah milih terluka.  “Aku pergi ya. Dipta udah nungguin.”ucap Sera sambil berdiri dan menarik trolly itu. Dia meninggalkan Natasha yang sudah berhenti menangis. Rupanya, pesan itu tersampaikan dengan baik. Sera duduk dengan pikiran yang jauh. Begitulah reaksi Gemini kalau tahu Barat selingkuh. Bukankah itu menyakitkan? Dia jadi tahu kalau keluarganya tidak sempurna. Sera mulai sadar diri, dia sangat berpotensi jadi penabur luka di hati orang lain. Argh, kenapa dia begitu jahat? “Mikirin apa, Ra?” “Gak apa-apa, Dip.” “Besok bisa ikut ke Kemang kan? Ada kompetisi gitu, sekalian aku ikut juga.” Sera mengecek jadwal di kalender handphonenya. “Aduh, sorry banget. Untuk besok aku gak bisa.” “Kenapa?” “Acara keluarga.” “Ih, kenapa jadi sering ada acara keluarga sih? Dulu kan gak pernah tuh kamu ada acara dua kali seminggu.” “Ibeth tuh yang bikin. Dia bikin acara kecil-kecilan di rumahnya. Dan aku harus selalu ikut.” “Ya sudahlah. Besok aku sendiri deh.” “Ajak Berlin aja.” “Kamu tuh aneh tahu. Sebenarnya benci apa engga sih sama Berlin?” “Engga.” “Terus, kenapa bikin hubungan malah runyam?” “Tebak?” “Aish, aku gak ngerti jalan pikiranmu, Ra.” “Pokoknya, ajak Berlin aja. Kayaknya dia punya waktu luang.” Dipta hanya diam. Sera ingin sekali mereka bersama. Mungkin, ini saat yang tepat. Selama ini, Sera yang jadi penghalang dua orang itu. Kalau penghalang itu sudah tidak ada, rasanya cukup memungkinkan untuk mereka bersama. Tembok tinggi bukan akhir dari segalanya. Masih ada cara lain. Mungkin dengan menghancurkan tembok itu. Ya, usahanya memang tidak gampang. Tapi ada harapan kan? *** Sebuah artikel terbuka pada tab baru di Google Chrome. 15 cara mengakhiri hubungan. Yang dicari adalah cara terbaik. Bagaimana berpisah dengan baik-baik saja? Persis seperti kisah persahabatan dua orang yang dulunya adalah pasangan kekasih.  “Tak ada yang menarik.”gumamnya. Pintu terbuka dan muncul wajah Ibeth dengan senyum lebar. “Lagi ngapain sih?” “Aku punya teman. Dia pengen putus, tapi bingung gimana caranya?” “Teman atau teman?” “Ok. Aku ngaku deh. Ini aku.” “Loh, bukannya kata tante udah putus ya?” “Belum. Masih dalam rencana. Tapi jangan bilang mama ya, please.” “Iya,iya.”ucap Ibeth. Dia memasang wajah yang sedang menganalisa suatu kasus. Dia melihat wajah Sera dan bicara. “Gak ada masalah apapun?” “Gak.” “Kalau begitu, kamu harus buat masalah.” “Ah, maunya dengan cara baik-baik.” “Ya gak ada.”balas Ibeth singkat. “Tapi kalau ada suatu masalah yang sebenarnya kamu udah maklumi, kamu boleh ungkit kok. Jadikan itu masalah besar.” Ide cemerlang datang. Bicara dengan Ibeth selalu membuka pikirannya. Dia tersenyum dan kembali tidur. Dia tahu kalau Ibeth tetap disana sekitar tiga puluh menit. Waktu yang cukup lama. Dan dia cuma ngeliatin Sera dengan tatapan ambigu.  Setelah Ibeth pergi, Sera langsung terbangun. Merapikan bantal agar dia bisa scrolling handphone dengan leluasa. Dia membuka i********: dan menerima sebuah private story dari Berlin. Foto selfie saat ia bersama Dipta. Yeah, Dipta melakukan apa yang  dia suruh. Harusnya, mereka baik-baik saja tanpa Sera. Benci? Masih. Sayang? Masih. Bagaimanapun, Berlin adalah sahabat yang menyimpan banyak cerita. Sera tak akan pernah lupa sampai kapanpun. Walau sudah dikhianati, Sera ingin berfokus pada hal positif saja. Dalam sebuah buku ada bagian bagus dan jelek. Jika diberikan buku itu, pembaca akan menimbang dengan objektif. Akan diberikan review positif jika bagian bagusnya yang lebih dominan. Dan itulah yang Sera aplikasikan dalam menilai seorang Berlin. Sahabatnya itu lebih banyak positifnya dibanding negatifnya. Maafkan dia dan berikan yang dia inginkan. Sera mematikan layar handphonenya saat kedua orang tuanya datang. Dia bersiap untuk pergi. Sesakit apapun keadaannya, selalu ada tawa yang sedikit mengobati. Cinta dari mereka tak akan pernah sirnah. Bahkan sekedar usang pun tidak akan mungkin. Cinta yang tulus dari orang tua. Mungkin tak semua orang bisa merasakannya. Tapi Sera tak henti-henti mendapat cinta dari mereka. Itu adalah salah satu dasar syukur yang otomatis. Dia berhenti berpikir saat rasa sakit itu datang lagi. Menahannya sungguh usaha yang luar biasa. Jika tidak kuat, dia bisa jadi pusat perhatian lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN