.10. Ingin Diandalkan

1386 Kata
********* Ada dua tipe manusia. Satu, lelah saat dibebankan batu besar di pundaknya. Dua, bangga saat dibebankan batu besar di pundaknya. ********* Dia berjalan dengan tas kamera di tangan kanan. Melangkah ke lantai 3 cafe mewah yang ada di daerah Sudirman. Setibanya disana, dia mencari teman temu yang sudah janjian seminggu yang lalu. Lambaian tangan dari perempuan itu membuatnya tersenyum dan melangkah dengan pasti. Petunjuk memang selalu memudahkan manusia. “What’s up bro! Apa kabar?”tanya pria bernama Joel itu.  “I’m good, lah. Makin berisi aja. Makmur banget kayaknya.”ledek Dipta sambil menaruh barang-barangnya di atas meja. Terutama kamera, benda yang paling berharga yang ada di tangannya. Dibanding handphone keluaran terbaru ini, kamera itu jauh lebih mahal. “Gimana gak berisi, Dip. Kerjanya di BUMN. Uang bukan masalah, apalagi makan.”ucap Sinka ikut nimbrung. “Heh, jangan gitu dong, Sin. Uangnya Dipta jauh lebih banyak kali. Influencer top masa kini.” “Tapi benar sih. Bahkan sepupuku yang masih SMP, ngefans sama kamu loh. Kayaknya, kamu influencer yang berorientasi pada remaja deh.”komentar Sinka seraya berpikir. Kalau dipikir-pikir, iya juga. Beberapa hari yang lalu, dia juga digandrungi anak remaja di mall.  “Hai, guys. Ini makanannya.”ujar Berlin sambil menaruh nampan yang penuh dengan aneka sajian. Dipta langsung membantunya menaruh makanan itu di meja.  “Kenapa malah jadi pelayan sih?”protes Joel seraya geleng kepala. “Gak apa-apa. Ini ngebales janji aku sama kakak. Soalnya kemarin kalah tebak skor.” “Bulutangkis lagi?”tanya Dipta sambil mengoleskan kentang goreng di tangannya ke dalam cup saos sambal. Dia sering lupa makan. Apalagi kalau udah serius kerja. Jadi, kalau disajikan kayak gini, langsung aja diembat. “Iya. Aku mau cerita juga, kalian mana paham.”ucap Berlin sambil duduk di kursi kosong samping Dipta. Cerita soal hobby sama orang yang gak paham sama aja seperti menangkap angin. Gak ada gunanya. Mentok-mentok nya, mereka nanya sekali dan setelahnya bosan. Soalnya kan gak paham. Temu ini hanya untuk hiburan. Sekedar melepas rindu dan bernostalgia tentang masa lalu. Tentang masa SMA yang ternyata lebih indah daripada kuliah. Manusia memang serakah dan banyak maunya. “Kok Sera gak datang sih? Aku kangen banget loh sama dia. Pasti dia makin cantik kan?”komentar Joel seraya menyeruput perasan air jeruk yang melegakan dahaga. Ketika musim panas datang, AC seperti tidak melaksanakan tugasnya. Dimana saja terasa begitu panas. “Sibuk dia, Jo. Kantor hectic ditambah problem sama pacarnya.”balas Berlin. “Masih problem aja? Bukannya udah solve masalah nikah sekarang atau nanti?”ucap Sinka sambil tertawa. “Emang ada masalah kayak gitu?”tanya Joel tidak percaya. Menurut pandangan Joel, Sera itu perempuan yang looking forward. Dia lebih berambisi pada kesuksesan karir daripada berfoya-foya dalam zona pacaran. “Ada. Dia pengen cepat-cepat nikah, tapi pacarnya mungkin belum siap.”seru Sinka memberikan penjelasan. “Cemen ah. Coba aku yang diajak nikah. Aku langsung booking gedung. Bulan depannya siap deh langsung nikah.”balas Joel sambil terkekeh. “Ber, aku boleh nitip charger kamera?” “Eh, boleh. Ayo, biar aku anterin ke lantai 2.” Dipta mengikuti Berlin. Mereka sampai di lantai 2 yang bernuansa bunga-bunga itu. Dan di beberapa sudut ruangan, terdapat poster atlet bulutangkis.  “Nah, charger disini aja. Nanti tinggal dikunci biar aman.” “Aku kesini bukan mau charger kamera. Aku mau bicara.” “Bicara apa, Dip?” “Kamu cerita apa sama Sinka? Kenapa dia fasih banget ngomongin Sera?”tegas Dipta dengan tatapan mata yang dalam. “Maksud kamu apa?” “Kamu bahkan gak ketemu dia dalam satu bulan ini. Tapi kamu berani ngegosipin dia?” “Kamu kenapa sih? Aku gak paham.” “Sinka tahu darimana kalau bukan dari kamu?”tanya Dipta lagi. Tapi kali ini dengan penuh penekanan. Dia sudah menahan emosi sedari tadi. Tak elok rasanya marah di depan Joel dan Sinka. Apalagi, ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. “Emang kenapa kalau aku cerita? Apa salahnya bicara yang sesuai dengan fakta?”balas Berlin dengan suara yang juga keras. Dia berucap sesuai pikirannya sebab sudah terpojok dengan pertanyaan Dipta. “Aku gak habis pikir. Hal pribadi itu malah kamu sebarin sama orang lain. Kamu gak mikirin perasaan Sera? Dia akan sedih kalau tahu kamu begini.” Dipta masih dengan emosional yang tinggi. Bahkan Berlin tidak merasa bersalah ketika Sera dijadikan topik pembicaraan di meja makan tadi. Mereka berteman sudah begitu lama. Tapi durasi tak menjamin kesetiaan. Dipta berjalan hendak keluar dari tempat itu. Dia muak, benci dan sedih. Perasaan yang campur aduk di dalam dirinya. “Kamu gak mikirin perasaanku?”teriak Berlin dengan suara yang lumayan keras. Orang yang ada di ruangan sebelah pasti dapat mendengarnya. Dipta menoleh dengan tatapan datar. “Kamu cuma mikirin perasaan Sera. Tapi kau gak pernah mikirin perasaanku. Bukankah kita bertiga sama-sama bersahabat? Kau saja begitu, jadi jangan merasa paling setia.” “Aku akan ke bawah. Aku mau bicara biasa dengan Joel. Jangan merusak suasana biar pertemuan ini baik-baik saja.”ucapnya tegas. Dia membalikkan badan dan bergegas ke lantai 1. Meninggalkan Berlin yang masih bergumul dengan perasaannya. Dia merasa terpojok. Dan hal itu membuatnya menangis beberapa saat.  *** Lima orang itu tertawa dan bersama-sama berjalan menuju lift. Ini sudah jam pulang dan di ruangan itu sudah tak banyak orang. Beberapa sedang berusaha untuk menyelesaikan target pekerjaan. Ya, iri sekali melihat mereka yang pulang lebih awal. Namun, tanggung jawab tak bisa diabaikan.  “Loh, kirain udah balik, Ra.”ucap Mbak Elfri yang baru saja datang. Ditangannya ada dua cup kopi dingin dengan bungkusan roti yang wangi. “Bukannya udah beres ya?”tanyanya lagi. “Udah mbak. Lagi mager aja. Nunggu bentar lagi deh baru balik.” “Oh, kalau gitu aku kesana dulu ya.” “Iya, mbak.” Sera kembali menatap layar handphonenya. Sibuk melihat instastory Jolin, temannya yang menikah beberapa bulan lalu. Yang diharapkannya malah terjadi pada orang lain. Rasanya sesak meski Tuhan melarang umatnya untuk iri. Di dalam aktivitas yang tidak berguna itu, layar handphonenya berubah dalam mode panggilan masuk. Dari My West. Dia langsung menerimanya tanpa pikir panjang. “Hallo,,” “Hallo, Ra. Kamu masih di kantor kan?” “Hmm,,,,,”Sera tampak berpikir. Ingin berbohong tapi akhirnya diurungkan. “Iya mas.” “Aku di lantai 3 nih. Mau ngasih sesuatu sama kamu. Kesini ya?” “Ngasih apa?” “Rahasia dong. Aku tunggu di Resto 378 ya.”ucap Barat mengakhiri. Tanpa banyak mikir, Karla membereskan mejanya. Menenteng tas kecil yang selalu menemaninya setiap saat. Dia tiba tempat itu dengan lambaian tangan dari Barat. Senyuman pria itu selalu memikat hatinya. Bahkan dia masih sanggup mengaguminya dengan kondisi seperti ini. Kenapa rasa cintanya tak sanggup berubah jadi benci? Sepertinya, cinta itu sudah terlalu besar. “Kenapa mas?” “Aku gak mau ganggu kamu sih. Cuma mau ngasih ini.”ucapnya sambil mengulurkan sesuatu di dalam totebag. Sera langsung membukanya dan menemukan setelan baju dan sepatu. “Please, jangan ditolak. Sudah berapa kali kamu menolak pemberianku?”rengek Barat dengan wajah penuh harap. “Hmm, ya udah. Tapi kita makan malam bareng ya.” “Oke. Siapa takut?” Resto 378 berorientasi pada makanan lokal yang dikemas dengan beraneka ragam. Di tempat itu, semua makanan khas dari sabang sampai merauke dapat ditemukan. Dan keunikan itulah yang membuat pelanggan datang. Hanya saja, harganya lumayan mahal. Tetapi masih sesuai dengan rasa masakannya.  “Mas, aku boleh nanya?” “Ya,,” “Kenapa mas belikan aku baju mahal? Emang gak ada yang harus dibayarin gitu? Aku aja masih punya cicilan Ipad. Ini baru tiga bulan.” “Begini, Ra. Aku selalu punya pengeluaran, tapi gak besar-besar banget. Bahkan nih ya, aku berencana belikan kamu sneakers baru.Tapi kayaknya bakal kamu tolak deh.”balas Barat sambil tertawa ringan. “Pastilah. Aku gak mau jadi beban untuk mas.” “Tapi Ra, gak semua pria benci dijadikan beban. Daripada itu, aku ingin seseorang bersandar di bahuku.”ucapnya dengan nada datar. Dia melihat Sera dengan tatapan kosong. Tetapi kemudian dia sadar. “Jadi, jangan pernah merasa kayak gitu ya.”lanjutnya dengan senyuman tipis. Detik itu juga, Sera mulai memahami Barat. Dia begitu sempurna dan layak dijadikan superhero. Dengan mengandalkannya, dijanjikan ketenangan dan kenyamanan. Betapa beruntung jika Sera bisa memilikinya. Sayang, dia belum mampu menetapkan pilihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN