********
Demi seseorang, luka pun tak begitu terasa sakit.
********
Cinta itu rabun mendekati buta. Ketika seseorang mulai susah melihat, mereka butuh kacamata. Kacamata itu diharap bisa memberikan pandangan yang jelas. Namun, jika menggunakan kacamata yang salah, mereka akan tetap rabun. Bahkan bisa semakin rabun.
“Hallo,,”ucap wanita paruh baya itu. Dia membawa sepiring goreng pisang yang masih panas. “Kilau lagi les bahasa inggris. Jadinya tante yang nganterin.”lanjutnya sambil tersenyum.
“Makasih tan. Harusnya gak usah repot.”
“Gak repot kok. Tante malah senang.”ucap wanita itu. Dia langsung pergi karena takut mengganggu pekerjaan mereka. Bikin video itu susah-susah gampang. Kalau hasilnya gak sesuai, ya ulang lagi dari awal. Itu benar-benar menguras energi. Lain lagi kalau brand kurang setuju dengan konsep yang dibuat. Mereka harus merancang ulang konsepnya. Dan otak harus mikir lagi untuk nyari konsep baru.
Setelah percobaan ketiga, mereka berhasil menemukan video yang pas. Tanpa banyak mikir, langsung di upload ke beberapa platform media sosial.
“Thank you, Dipta Brigarda. Aku siap-siap pulang ya.”ucap Sera sembari merapikan barang-barangnya.
“Kamu masih belum ambil keputusan?”tanya Dipta.
“Susah, Dip. Aku masih sayang sama dia.”
“Tapi kan,,,”
“Gak perlu kamu jelasin, aku juga sudah tahu.”
“Dengar, Ra. Sebelum semuanya makin kacau, kamu akhiri saja. Ini belum terlambat kok.”
“Makasih, Dip. Setidaknya kamu masih peduli samaku. Tapi biar aku yang kelarin masalah ini.”
Dia tampak tidak peduli dengan peringatan itu. Kemana logikanya pergi? Sayang, bicara dengan orang yang dibutakan oleh cinta sama saja dengan memindahkan air dengan tangan. Susah dan pasti butuh waktu yang cukup lama.
“Aku pergi ya. Titip salam sama Kilau.”ucapnya mengakhiri. Dia langsung turun ke lantai 1. Berpamitan dengan ibunya Dipta dan langsung pergi. Dia melihat jam di tangannya, masih ada waktu. Dia hanya butuh satu jam untuk sampai di tempat tujuan.
Mungkin memang sulit untuk jujur. Sayang sekali, Sera belum sanggup mewajarkan hal itu untuk seorang Berlin. Teman yang sejak dulu bagai malaikat di hatinya. Bahkan setelah satu bulan berlalu, dia masih pura-pura tidak tahu. Jahatnya seorang perampok tak separah jahatnya seorang sahabat.
“Hai, Ra.”
“Gitu dong. Kalau diajak ketemu, datang.”
“Sorry about the past. Tapi aku memang sibuk kalau gak bisa ikut.”
“Tumben Berlin gak ikut?”
“Dia sibuk. Maklum aja, Nacita Fashion kan udah gede banget sekarang.”
Berkumpul dengan mereka tidak terlalu buruk. Meski tak sefrekuensi, Sera bisa mengikuti jalan pikiran mereka. Kalau ada yang tidak sesuai, cukup jadikan pelajaran. Jangan diikuti dan masukin ke hati.
Pertemuan anak muda jaman sekarang tak lepas dari dokumentasi. Sekedar mengambil beberapa foto dan menguploadnya di media sosial. Anggaplah ini ajang pamer, tapi sudah jadi hal lumrah. Setelah pamer kemesraan dan solidnya persahabatan, orang lain bisa iri. Dan itu yang diinginkan oleh beberapa orang.
“Makasih ya, semuanya. Terutama buat lo, sudah traktir kita.”
Pertemuan itu akhirnya berakhir. Ini bukan pertemuan yang menyenangkan. Tiba-tiba sebuah panggilan datang. Berlian Nacita.
“Ra, kok lo gak ngajak-ngajak sih? Lo ketemu sama Jolin dkk khan?”
“Iya.”
“Kenapa gak ngasih tahu?”
“Aku kira kamu sibuk.”
“Kok gitu sih?”
“Udah ya, Ber. Mas Barat telepon nih. Nanti aku call kamu lagi.”
Selesai. Ya, secepat itu. Balas dendam ini terasa menyakitkan. Sera menangis lagi. Ini sudah berapa kali dia menangis untuk seorang Berlin. Dia merasa malu saat beberapa orang melirik ke arahnya.
Tanpa berpikir panjang, dia langsung mencari taksi. Duduk dengan badan tegap, menuju ke rumah. Pulang adalah saat paling baik untuk sekarang.
***
Gemini akan bernyanyi. Kontes itu sudah dirancang sebulan lebih. Dan gadis menggemaskan itu sedang bersiap di belakang panggung dengan dress kembang dan pita yang mengikat rambut di kepalanya.
“Pokoknya, nyanyi aja kayak latihan kemarin.”ucap Varda sambil merapikan bagian rok yang agak mengganggu.
“Iya. Papa datang kan ma?”
“Datang. Jadi, kamu harus tampil bagus ya.”
“Iya ma, pasti!”balas Gemini dengan bersemangat. Anak kecil bisa dengan mudah bahagia. Bahagia itu sesederhana support dari kedua orang tua.
Varda bersiap untuk kembali ke bangku penonton. Setiap performer dihandle langsung oleh gurunya. Varda tidak yakin kalau Barat akan datang. Dia sering berjanji, tapi sering juga mengingkari-nya. Terutama soal meluangkan waktu. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya.
“Hmm, sekarang kita mau dengerin apa nih Kak Nana?”
“Kayaknya ya, bakal ada yang nyanyi deh. Kak Timo pasti udah gak sabar kan?”
“Iya. Sekarang aja apa?”
“Boleh dong. Kak Nana udah gak sabar nih. Pasti teman-teman juga udah gak sabar kan?”
“Mari kita sambut teman kita, Gemini Bintang Argara!!”
Gemini masuk panggung disambut dengan riuh gempita. Varda merasa sangat senang dengan melambaikan tangan. Dia mencari handphone di dalam tasnya. Tak pernah lupa mengabadikan momen. Di masa depan, Gemini pasti butuh dokumentasi ini. Ketika mengarahkan pandangan ke depan, seseorang duduk disampingnya. Ya, kursi kosong itu akhirnya terisi oleh si pemilik. Senang dan bahagia. Varda cuma bisa duduk dengan badan tegap dan fokus pada Gemini.
Putrinya yang cantik itu terlihat sangat cantik. Dia tersenyum sumringah saat melihat Varda dan Barat duduk berdampingan. Semangatnya meningkat berkali-kali lipat. Dia bernyanyi dengan begitu baik. Memberi perhatian pada semua orang. Dan dihadiahi tepuk tangan yang meriah.
“Pak, bu, saya boleh minta waktunya sebentar? Gemini mau foto dulu sama teman-temannya.”ujar guru perempuan itu sambil mendekat.
“Oh, boleh bu. Silakan.”
Gemini bergegas menyusul teman-temannya. Mereka sudah membuat posisi duduk yang bagus untuk difoto. Suasana hening hingga Barat memulai pembicaraan.
“Tolong kasih sama mama.”ucapnya sambil memberikan beberapa kertas dokumen.
“Ini apa?”
“Katakan padanya, aku tidak tertarik sedikitpun.”tegas Barat. Varda membaca dan memahami isi dari dokumen tersebut.
“Argh, kenapa mama begini lagi sih?”gumamnya dengan suara yang masih dapat terdengar oleh Barat.
Dering notifikasi membuat Barat menatap layar handphonenya. Mengetik sesuatu dan segera melihat ke arah Gemini yang masih diarahkan untuk mengambil foto terbaik.
“Aku balik duluan ya. Ada urusan dengan teman. Bilang maaf dariku untuk Gemini.”
Varda melihatnya pergi. Tak lama, Gemini kembali dengan wajah sumringah. Dia terlihat mencari Barat.
“Katanya papa pulang duluan. Ada kerjaan.”ucap Varda to the point.
“Yahhh,,,,”
“Gak apa-apa. Nanti kamu boleh makan ice cream.”
“Beneran ma? Tapi ini kan bukan hari jumat?”
“Gak apa-apa. Ini hadiah karena kamu nyanyi-nya bagus.”
Gemini terlihat sangat senang. Beruntung dia masih anak-anak. Kalau tidak, dia akan memahami situasi ini dengan jelas. Rumah tangga ini akan terlihat transparan tanpa pembatas.
“Nanti, kalau dia besar, bisa main sama Natasha.”ujar Raina sambil memperhatikan Gemini begitu dalam.
“Kok Natasha gak ikut?”
“Katanya mau berburu tiket konser Olivia Rodrigo. Dia mau ke LA kalau bisa dapat tiketnya.”
“Neneknya setuju?”tanya Varda tidak percaya.
“Setuju. Kalau sama cucu dia begitu. Kalau sama aku baru banyak pertimbangan.”balas Raina kesal.
Gemini begitu lahap menikmati ice cream kesukaannya. Ben & Jerry’s Vanilla Ice Cream. Es krim mahal yang tak pernah absen untuk dinikmati setiap hari jumat. Varda termasuk orang tua yang aware dengan pola makan anak. Namun, dia selalu membuat satu hari sebagai cheat day. Begitulah cara membatasi pola makan tanpa menghilangkan kenikmatan.
“Oh ya, Var. Suami aku berulah lagi. Dia ketemu sama selingkuhannya yang baru.”ucap Raina dengan nada tinggi. Kali ini dia terlihat lebih emosional daripada sebelumnya.
“Yang baru?”
“Iya. Bukan perempuan yang kemarin. Dia gak pernah kapok meski ibunya marah-marah.”
“Terus, kamu gimana?”
Dia malah tertawa. Raina memang sudah lama mati rasa. Dia membuat tembok pertahanan hanya demi Natasha. Bahkan Natasha tak pernah tahu soal perselingkuhan ayahnya. Raina berprinsip bahwa sakit di hatinya tidaklah seberapa dibanding dia melihat sakit di hati anak perempuannya itu. Semua orang di rumahnya tahu tentang sikap suaminya. Kecuali satu, Natasha. Dia begitu hebat bisa membuat rahasia itu terjaga begitu lama.
“I call her mom. Aku pura-pura gak tahu. Biar mamanya yang menghajar dia.”
“Tapi Rain, sifat kayak gak mungkin berubah kan? Walaupun ibu mertuamu udah ngasih punishment berkali-kali, dia tetap ulangi lagi.”
“I know. But I don’t care.”ucapnya dengan tatapan sedih. Dia hanya sedang membohongi diri sendiri. Menerima dan memaafkan mungkin tidak terlalu susah. Tapi memaafkan orang yang berbuat salah berkali-kali adalah hal yang sangat susah.
“Ya, untuk saat ini. Demi Natasha.”lanjutnya lagi. “Makanya, kamu beruntung Var. Setidaknya Barat tidak pernah selingkuh. Pria setia itu pria yang paling berkelas.”tegas-nya dengan penuh keyakinan.