********
Masa lalu akan tetap sama. Tapi masa depan bisa saja berbeda.
*********
Dulu, kegiatan ini begitu positif di mata Serani Floella. Ketika Barat membuat perjanjian sederhana yang meronakan hati. Saat hari gajian tiba. Satu kali dalam seminggu, dia membayar untuk sesuatu yang Sera inginkan. Apapun itu.
Bagi Sera, uang bukan masalah. Tapi dia tahu, Barat selalu ingin memberinya sesuatu. Dan pemberian itu terasa lebih berharga daripada sekedar uang cash. Kadang Sera minta dibelikan makan malam, cemilan di kaki lima, peralatan make up dan lain-lain. Sera selalu tahu diri. Tak pernah sekalipun dia meminta barang mahal. Awalnya, dia ingin Barat menabung untuk biaya nikah mereka. Ya, perempuan harus ikut andil menuntaskan cita-cita pria yang dicintainya. Jangan jadikan mahar alasan perpisahan.
Anggapan itu ternyata cuma pikiran Sera saja. Itu cuma tebakan yang tidak valid. Nyatanya, tak akan ada pernikahan untuk hubungan ini.
“Jadinya apa, Ra? Kamu mikirnya lama banget.”
“Bawel!”
“Kalau belum nemu, aku beli Tas di Charles & Cath aja gimana?”tawar Barat dengan berbagai pertimbangan.
“Gak. Aku udah nemu. Ayo!”balas Sera sambil mengajak Barat menuju ke supermarket yang ada di mall. Barat tidak yakin apa yang Sera inginkan. Tapi dia mengambil troli belanja.
“Aku mau belanja bulanan.”
“Serius? Kamu kan bisa belanja nanti.”
“Enggak. Aku mau sekarang!”tegasnya sambil menggenggam erat tangan Barat. Mereka berjalan beberapa saat sebelum Sera bicara lagi.
“Aku mau mas yang milih.”
“Emang kenapa?”
“Pengen aja. Please, jangan ditolak.”pinta Sera dengan penuh permohonan. Barat akhirnya mengalah. Dia mulai mengamati setiap sudut. Mencari sesuatu yang cocok untuk Sera. Dia mengawalinya dengan produk makanan sehat. Sayur, buah dan daging yang berkualitas tinggi.
“Ye, jangan ditolak ya. Kamu sendiri yang nyuruh.”tegas Barat saat Sera hendak melakukan interupsi. Akhirnya dia mengalah dan mengurungkan niatnya untuk komplain.
“Daging ini bisa kamu grill. Enak loh, apa kamu gak ada alat grill-nya?”
“Ada. Ada kok.”tegas Sera. dia gak mau Barat belikan barang mahal itu. Lagian, daging itu bisa diolah sedemikian rupa. Banyak jalan menuju ke roma.
Selanjutnya, mereka ke tempat face wash dan sabun-sabun. Sera memilih yang cocok untuknya. Dan Barat langsung mengambil 5 buah setiap merk. Bikin Sera semakin tidak enak.
“Gak apa-apa. Biar kamu ada stok.”
“Tapi ini kebanyakan mas. Lama-lama, aku disuruh makan skincare nih.”
“Hahaha. Bercanda mulu.”
“Aku serius!”
“Aku juga serius. Aku gak masalah beliin kamu itu.”tegas Barat lagi. Sera tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak menyangka, Barat malah beliin begitu banyak. Saking banyaknya, Sera berpikir kalau ini semua mimpi. Mimpi mendapat rejeki nomplok dan dibelikan barang oleh crazy rich surabaya.
Sera mengangkat barang belanjaan itu dengan susah payah. Dia masuk rumah dan membuat kegaduhan di wajah mama.
“Kamu kenapa, Ra? Lagi ada rejeki nomplok? Kok banyak banget belanjaannya?”
“Kalau punya uang ditabung. Jangan dibiasakan jiwa konsumtifnya.”tegas papa di sofa dengan koran di tangannya. Dia lebih suka baca koran daripada baca di portal berita online. Sudah berkali-kali diajak move on dari platform jadul, tapi belum bisa. Terlalu betah sampai tidak mau mencoba platform yang up to date.
“Hmm, ada voucher ma. Jadi gak pakai uang. Voucher dari kantor.”balas Sera mencari alasan. Alasan paling klise tapi dapat diterima akal sehat.
“Jangan dengerin papamu. Ayo, sini mama bantu.”
Setelah ganti baju, Sera membantu mamanya membereskan barang-barang itu. Terutama benda cair yang gampang pecah kalau dibiarkan berlama-lama.
“Harusnya kamu istirahat aja, Ra. Biar mama yang beresin.”
“Engga ma. Kalau berdua kan lebih ringan. Kasihan mama capek sendiri.”
Akhirnya, mereka merapikan nya. Dan memang, rasanya lebih ringan. Sama seperti berat barang dalam timbangan. Hidup juga begitu. Kalau dua orang mengerjakan sesuatu, akan lebih ringan dan mudah.
“Pekerjaan lancar kan? Kamu udah gak bermasalah lagi?”
“Masalah?”
“Masalah yang waktu itu kamu sampai nangis.”
“Oh, engga lagi kok ma. Semua sudah baik-baik saja.”
“Terus, pacar kamu gimana?”tanyanya lagi. Sera tak ingin menjawabnya. Tapi mama melihatnya dengan begitu dalam. Tatapan yang penuh harap akan jawaban.
“Ma, jangan kaget ya.”
“Kaget kenapa?”
“Aku udah putus sama Mas Barat.”
“Kamu serius? Tapi kok kayak gak pernah galau?”
“Bukan gak pernah. Tapi kita putus baik-baik kok. Jadi udah gak ada masalah.”
“Anak muda sekarang kan pasti nangis-nangis tuh kalau putus. Kamu kok biasa aja sih. Emang putus kenapa?”
“Putus karena sudah bosan.”
Anggaplah itu kebenaran. Andai Sera bisa bosan sama pria itu. Semakin hari, dia semakin cinta saja. Bahkan rasa cintanya jauh lebih besar dari tiga tahun yang lalu. Pertemuan pertama saat mereka ada di atap gedung. Saat itu, Sera hanya kagum dengan sosok senior tempat magangnya. Sekarang rasa cinta itu sudah jauh berbeda.
“Kok gitu sih. Zamannya mama, gak ada putus karena bosan. Norak banget.”
“Ih, mama ya. Emang mama pernah putus dari papa?”
“Gak pernah. Tapi mama punya banyak mantan. Mama kan dulu banyak fans. Gak kayak kamu.”
“Ish, jahat banget sama anak sendiri.”
“Kamu sama Dipta ajalah. Dia tipe mama banget.”
“Ye. Dia teman aku ma. Lagian, kalau mama mau gak apa-apa. Dia jadi bapak tiriku.”
Mama langsung mencubit-nya. Kesal juga bicara dengan putrinya itu. Dia selalu punya sanggahan untuk setiap pernyataan.
Setelah mengobrol banyak, Sera kembali ke kamarnya. Dia membalas pesan dari Barat. Seketika, dia menangis. Tapi cuma sebentar. Dia berjuang untuk berpikir normal. Mari, jangan menangis lagi. Cukup untuk hari ini.
Saat mau tidur, dia teralihkan oleh notifikasi i********:. Dia menyalakan lonceng notifikasi untuk dua orang saja. Dipta dan Berlin. Sudah sejak lama dia melakukan hal itu. Dan kali ini, Insta Story dari Berlin.
Terlihat Berlin sedang berkunjung ke rumah Joel. Dia bersama dengan Sinka. Kali ini tanpa mengabari terlebih dulu. Dia membuat caption yang sedikit memohon.
“Dengan teman yang beneran teman!”
Baiklah. Dia sedang balas dendam. Mari berikan waktu untuk Berlin meningkatkan keegoisannya. Bukannya sedih, Sera malah lega. Ya, sudah seharusnya Berlin membalas perbuatannya itu. Dengan penuh keyakinan, dia ingin menambah emosional di dalam diri Berlin.
Reply to this Instastory.
Have fun, Ber!!
Dia menaruh handphone dengan lebih dulu log out dari i********:. Matanya tertuju pada bintang kertas yang ditempel di langit-langit kamar. Tak lama, dia tertidur lelap.
Malam ini dia menggantungkan harapan pada ketiadaan. Cinta di hatinya tidak pernah berubah. Tapi ketika dunia berubah, tak selamanya cinta bisa bertahan. Seperti halnya pernikahan, biar maut yang memisahkan. Bukanlah lebih baik cinta ini juga berakhir dengan maut? Biar tidak ada rasa yang tertinggal. Begitu juga dengan sesal yang menggunung. Seandainya bisa, sepertinya itu lebih baik.