********
I’ll Be There For You
********
Berlin kesal hingga tak bisa tenang. Di hari senin yang seharusnya penuh semangat ini, dia malah overthinking. Windy datang memecah keheningannya. Dia menaruh dokumen di atas meja. Recap penjualan bulan ini.
“Ada masalah, mbak?”tanyanya sambil menaruh dokumen itu teratur.
“Gak apa-apa, Win. Cuma lagi bad mood aja.”
“Mbak harus melihat total keuntungan kita. Harusnya bad mood itu hilang ya.”ucapnya dengan tatapan yakin. Sambil menghela nafas, dia memeriksa dokumen itu. Hasil penjualan meningkat tajam. Dan ini akan jadi tolak ukur untuk kerjasama dengan perusahaan besar. Berlin tersenyum bangga.
“Thanks, Win. Semua atas kerja keras kita.”
“Makasih juga, mbak. By the way, kita juga butuh karyawan baru deh kayaknya.”
“Boleh. Nanti aku urus ke Linda. Biar dia yang atur iklan lowongan kerja.”
“Baik. Siap, mbak.”balas Windy sebelum pergi. Kepergian Windy meningkatkan Berlin akan Sera. Lagi dan lagi, hubungan mereka semakin membingungkan. Bukankah seharusnya dia marah? Kenapa yang terjadi sebaliknya?
Have fun, Ber!!
Pesan singkat yang jadi beban di hati Berlin. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Dipta? Tidak masuk akal. Tak mungkin Dipta sengaja membuat Sera jadi seperti ini. Sera yang pertama kali meet up tanpa mengikutsertakannya. Wajar kan kalau Berlin marah?
Getar handphone membuatnya berhenti berpikir.
“Hello..”
“Ber, ada kabar baik.”terdengar suara Sinka begitu antusias.
“Kabar baik apa?”
“Coba cek Instagramnya Dipta. Gila, mereka lagi trending di twitter. Gue rasa, se-indonesia bakal ngikutin cara mereka promosi brand.”
“Ok. Aku cek dulu, Sin.”
Berlin langsung menutup panggilan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia membuka aplikasi i********: dan melihat konten terbaru yang sudah di upload. Video singkat itu memperlihatkan promosi produk yang tidak biasa. Dalam satu waktu di buat tertawa dan semakin penasaran. Produk kosmetik yang unisex. Produk itu sangat hidup di wajah tampan Dipta dan wajah cantik Serani. Mereka mengemasnya dengan sangat menarik.
Semua masih biasa, sampai Berlin membaca komentar yang jumlahnya sampai puluhan ribu.
“Kak Dipta cocok banget sama Kak Sera.”
“Iya banget, beneran couple goals gak sih?”
“Ayo, siapa yang mau jadi masuk fanbase mereka?’
“Dukung sampai ke pelaminan.”
Komentar itu terlihat biasa dan lumrah. Tapi tidak bagi Berlin. Dia merasa terancam. Dia sakit hati atas egonya sendiri. Dipta adalah alasan kenapa dia meniadakan fakta itu dari Sera. Takut jika Sera putus akan membuka peluang untuk mereka berdua.
Kekhawatiran itu mencuat sejak tiga tahun lalu. Ketika tidak sengaja mendengar percakapan Dipta dan Joel. Hari itu diadakan reunian dengan teman SMA. Ketika malam semakin larut, tinggallah disana beberapa orang saja. Sera baru saja dijemput Barat, pacar barunya saat itu. Sedang Berlin dan Sinka bergegas ke toilet sebelum pulang. Di meja besar itu, hanya ada Dipta dan Joel. Mereka masih betah mengobrol dengan menikmati Bir Bintang yang sedikit memabukkan.
“Aku harus gimana, Jo? Aku sudah terlambat.”ucap Dipta dengan memukul kepalanya berkali-kali.
“Belum tentu.”tegas Joel berusaha menghibur. “Tunggu sampai waktunya tiba. Pasti mereka akan putus.”
“Gimana kalau gak putus? Gimana kalau dia menikah sama cowok itu?”tanya Dipta dengan begitu putus asa. Dia meneguk minuman itu lagi. “Aku benar-benar bodoh, Jo. Harusnya dari dulu aku ngomong. Sekarang,,,,,,”
Berlin menyaksikan langsung kejadian itu. Hatinya terluka dengan fakta yang begitu menyakitkan.
Kejadian itu tak akan pernah hilang dari ingatannya. Jika Sera bukan sahabatnya, mungkin akan lebih mudah. Sayang, mereka bertiga terikat oleh hubungan yang sukar diakhiri. Bahkan semakin hari, Berlin semakin ketergantungan pada hubungan itu. Dia marah saat Sera pergi tanpa mengajaknya. Dia benci ketika Sera merespon pertemuannya dengan sekedar. Sewajarnya dia menuntut sesuatu dari Berlin.
Dengan pikiran-pikiran liar itu, Berlin akhirnya sadar. Dia berbuat salah pada Sera. Tapi apa?
****
Wanita itu berdiri dengan berkacak pinggang. Dia sangat marah sampai lelah menahan emosi di dalam hatinya.
“Kamu selalu marah. Padahal mama membantu dengan ikhlas.”
“Mau sampai kapan mama ikut campur? Aku udah pernah bilang, biar pekerjaan itu urusan kami.”
“Mau sampai kapan dia jadi staff terus? Kapan naik jabatan? Usia sudah matang tapi malah bisnis kamu yang menghasilkan lebih banyak uang.”
Rasa kesal Varda semakin memuncak. Dia tidak pernah sadar diri. Ucapannya berimbas pada rumah tangga Varda. Tahun tahun berlalu begitu hambar. Bukannya selesai, setiap masalah malah terkubur semakin dalam.
“Terserah kami ma. Kenapa mama menuntut terus?”
“Demi harga diri mama.”
“Mama gak pernah mengerti. Barat pernah hampir menyerah gara-gara mama. Dia bertahan juga demi Gemini.”
“Kamu yang bodoh, Var. Kamu salah memilih suami.”
Varda kian kesal mendengarnya. Kedatangan pria beruban itu membuat mereka berhenti berdebat. Varda hanya ingin memenuhi janji untuk makan siang bersama. Hanya dia yang bisa datang. Gemini harus sekolah. Barat juga bekerja di siang hari seperti ini.
“Cucu papa sehat kan?”
“Sehat pa.”
“Lain kali ajak kesini. Suamimu juga.”
“Baik, pa.”balas Varda singkat. Makan siang ini seharusnya jadi rutinitas bagi mereka. Sudah sejak lama Barat absen dari kegiatan ini. Sejak hubungan mereka seperti minyak dan air. Meski berada dalam satu wadah, keduanya tidak mungkin bersatu. Yang pasti, selalu ada alasan untuk bertahan.
Setelah berpamitan, Varda bergegas ke kantor pusat di Tangerang. Dia sumringah mendapat kabar baik dari karyawannya. Penjualan produk kosmetik unisex meningkat tajam setelah video yang diupload oleh Dipta. Luar biasa! Analisa Varda tidak salah terhadap Dipta. Dia punya visual yang tidak biasa.
Saat mobil melaju sekitar 30 menit, dia mendapat pesan dari orang yang jarang mengirimkannya pesan. Barat Daya Argara. Dengan cepat, Varda langsung membuka pesan itu. Dia mengirim attachment file pdf dengan pesan singkat.
“Aku baru saja naik jabatan ke level manajer personalia. Akan ada acara di hari jumat minggu depan. Jika berkenan, kau bisa datang.”
Seketika Varda tersenyum. Bangga dan senang bercampur jadi satu. Rasa kesalnya setelah bertemu orang tua berubah begitu saja. Bahagia itu memang sederhana. Benar kata Raina. Semua akan baik-baik saja. Raina saja bisa tahan dengan suami yang selingkuh berkali-kali. Hubungan ini tidak seburuk itu. Varda hanya tidak punya kesempatan untuk menyelesaikan masalah dan kesakitan di masa lalu.
***
Enam bulan adalah waktu yang tersisa. Semesta begitu setia menunggu akhir yang cukup menarik. Enam bulan bukan waktu yang singkat. Dia sangat bersyukur. Syukur yang dibalut dalam tangisan.
“Ini yang kau inginkan?”
“Dulu. Sekarang tidak.”
“Kenapa kau pernah menginginkan ini?”
“Dulu aku menyesal akan hubungan itu. Ternyata, tidak masalah juga jadi orang ketiga.”
“Hahaha, kau gila. Tapi, kok bisa?”
“Jangan melihat wajah polos ini. Wajah tak selalu mencerminkan hati.”
“Bukan itu. Kenapa jadi orang ketiga bukan masalah lagi?”
“Sebab aku tetap bahagia. Meski tahu tak bisa memilikinya, aku tetap bahagia.”
“Kau tak memikirkan keluarganya?”
“Aku memikirkan mereka. Makanya aku senang dikasih hukuman oleh semesta. Rasanya jadi setimpal dengan perbuatanku itu.”
“Baru kali ini aku mencintai pihak ketiga.”