.16. Kecewa

1216 Kata
*********** Ekspektasi yang setinggi menara adalah awal dari kecewa yang sedalam jurang. *********** STAY, lagu dari Justin Bieber feat The Kid LAROI terdengar di ruangan itu. Ruangan besar yang langsung menampilkan pemandangan indah dari lantai 2. Perempuan itu sibuk mereview video yang di take kemarin. Rambutnya dikuncir tinggi. Sera semakin menikmati pekerjaan ini.  Tak jauh dari tempatnya, Kilau merapikan barang-barang yang baru saja dipakai. Bermodalkan Iphone 13, dia menuruti semua permintaan Dipta. “Jadi, kakak gak nyesel resign dari kantor itu? Gak dimarahin sama orang rumah?”tanya Kilau sambil mencari krim wajah yang terselip di antara box itu. “Engga.” “Kok bisa sih? Sepupuku malah dilarang resign sama tante.” “Yang penting mah tetap ada duit, Kil.” “Iya juga sih. Tapi mama tetap marahin Bang Dipta. Katanya, kerjaan Kak Dipta gak menjamin masa depan. Lebih baik jadi PNS atau pegawai BUMN.” “Makanya Kil, kamu yang ikutin kemauan mereka.”ucap Dipta dari balik pintu. Di tangannya ada box besar. Kiriman endorse untuk Dipta Brigarda. “Gak mau. Aku mau bikin Webtoon, bang.” “Kamu mau bernasib kayak abang?”balas Dipta mematahkan mimpi Kilau. Memang benar, berat jadi seorang Dipta. Semua usaha sudah dibuat, tapi tak ada panggilan. Pilihan terakhir malah membuat rekeningnya bengkak. Mau senang, tapi terasa belum cukup. Orang tuanya yang patriarki itu semakin gemas menggaungkan prestasi anak tetangga.  “By the way, ini punya kamu, Ra?”tanya-nya. Sebuah botol berisi obat. Dipta sudah bertanya kepada semua orang rumah. Tak ada yang merasa barang ini miliknya. Dan orang lain yang terpikirkan adalah Sera. “Oh, i-iya.” “Obat apa?” “Obat sakit kepala. Aku takut tiba-tiba pusing.” “Ohh,,,” Ketika satu kiriman barang datang, mereka harus kembali sibuk. Memikirkan konsep yang tepat dan bagaimana eksekusinya. Tidak mudah, tapi bukan masalah jika dikerjakan berdua.  Saat hari sudah sore, semua beres. Sekarang sudah pukul 5 sore. Dipta memilih tiduran sambil mengoreksi konten yang sudah dibuat. Kilau bernafas lega karena akhirnya bisa berkutat kembali di kamarnya.  “Mas, aku OTW bentar lagi.” Pesan yang baru saja dikirim kepada Barat. Dia tersenyum di wajah sedihnya. Dia mendorong badan Dipta, lalu duduk disampingnya. “Aku pergi ya.” “Ketemu dia lagi?” Sera mengangguk. Dia mengangkat kakinya dan duduk bersila di sofa itu. Dia menarik nafas panjang. Lelah dengan semua ini? Tentu saja. “Sampai kapan?” “Tidak akan lama, Dip.” “Entar keburu nyaman. Sekarang kamu mikir begini, besok kan belum tentu.” “Ish, jangan suudzon dong.”balas Sera sambil tertawa.  “Bukan cuma itu. Bukannya lebih sakit kalau kamu begini terus? Bahkan kamu gak mikirin diri sendiri.” Sera diam sambil menatap ke depan. Mencoba menelusuri tiap kejadian dalam hidupnya. Kebanyakan dari kejadian itu adalah hal indah dan baik. Dia masih percaya, semesta tak pernah jahat pada pribadinya. Ditambah lagi, tidak masalah jika akhirnya dia dipenuhi rasa sakit. “Dengar, Ra.”ucap Dipta sambil mengubah posisi tubuhnya. Tubuh yang berhadapan langsung dengan Sera. “Aku selalu ada, apapun masalahmu. Jangan pernah berpikir kau sendirian.” “Aku tahu, Dip.” “Terus, kenapa dengan Berlin? Waktu ketemu minggu lalu, kau terlihat marah padanya.” Ya, Dipta belum tahu soal Berlin. Dia tidak tahu bahwa sahabatnya itu sangat kejam. Tak cukup sepuluh tahun membuatnya jadi sahabat yang sesungguhnya. Dia berani menyimpan rahasia sebesar itu. Demi apapun, Sera tak akan memaafkannya. Jikapun dia jujur, Sera masih berpikir dua kali untuk memberi maaf. “Aku hanya tidak suka padanya.” “Kenapa? Dia punya salah apa?” “Dia tidak bersalah. Aku merasa, merasa..”Sera berpikir keras dalam mencari alasan. “Merasa kalau sudah seharusnya persahabatan ini diakhiri.” Sesuai dugaan. Dipta marah. Marah yang cuma terlihat beberapa kali selama ini. Dia bukan orang yang suka marah. Sera rasa, motto hidup yang cocok untuknya adalah MENGALAH SETIAP WAKTU.” Pria yang mengorbankan dirinya demi meminimalisir masalah. “Kau gila, Ra?” “Realistis aja, Dip. Kita udah dewasa. Berteman aja kayak biasa. Bukannya aku mau memutus pertemanan. Tapi aku mau pertemanan yang biasa.” “Kamu gak menghargai sepuluh tahun kita? Kita kan udah pernah janji satu sama lain?” “Persahabatan kita terlalu kaku, Dip. Dan, dan, dan tidak menyenangkan. Aku suka pertemanan yang biasa.” Amarah mendominasi dirinya. Tak pernah ada kejadian ini dalam hidupnya. Kata-kata yang tidak masuk akal keluar dari Serani Floella. Ini aneh dan tidak mungkin. Walaupun karena hubungannya dengan Barat, rasanya tidak mungkin dia berani mengambil keputusan kacau ini.  “Aku anggap kau bicara omong kosong!”tegas Dipta setelah beberapa saat. Dia beranjak dan merapikan beberapa hal.  “Aku pulang ya, Dip.”ucap Sera mengakhiri. Dia pergi tanpa balasan dari Dipta. Dia tahu kok, dia ngerti banget perasaan Dipta. Tapi mau bagaimana? Bukankah luka seharusnya dihindari? Bukankah tak baik berpura-pura? Lebih baik jujur daripada makan hati. Yang lebih baik adalah makan hati ayam. Bukan makan hati dan membiarkan diri disakiti terus-terusan. Taxi berhenti di Hotel Fairmont, Jakarta Selatan. Dengan dress panjang, dia turun dan berjalan ke lobby. Mencari pria itu dengan serius. Dia melambaikan tangan saat melihatnya di ujung sana. Dia datang dari arah yang berbeda karena dia harus memarkirkan mobil dahulu. Sampai di lift, Barat menekan tombol lantai 5. Mereka tiba disana, sebuah tempat yang menyajikan aneka makanan. Kalau mau kesana, harus booking terlebih dahulu. Sajian makanannya sangat enak. Itulah yang Barat temukan di situs pencarian. Sedang Sera siap menerima setiap keputusan. Di mana saja tidak masalah. Yang pasti, mereka harus merayakan prestasi Barat yang baru saja naik jabatan. Pertama kali, pelayan menawarkan minuman. Lalu, mereka tinggal memilih makanan yang diinginkan. Semua ada, makanan western, india, jepang, dan Indonesia. Disediakan juga aneka dessert yang beragam. Sangat memanjakan mata. “Hmm, aku bakal ngambil makanan buat kamu. Jadi kamu duduk santai aja.” “Emang boleh gitu? Kapan kamu bisa makan kalau kayak gitu?” “Abis aku ambil, kita makan bareng. Kamu mau apa?” “Hmmm, samain aja. Aku mau makan makanan yang sama kayak kamu.” Barat mengangguk paham. Sera mengambil handphonenya untuk mengambil foto. Dia memotret setiap makanan yang dibawa Barat. Terlihat sekali sumringah di wajahnya. Hari spesial selalu layak untuk dimasukkan dalam memori terdalam.  “Kenapa jadi sering ngambil foto sih? Emang mau kemana?” “Pengen aja. Terus, gimana ceritanya? Kok kamu bisa naik jabatan? Katanya banyak private problem di kantor.” “Manajer yang dulu kan udah pindah. Manajer yang baru welcome banget. Jadi, aku tunjukin kemampuanku disitu. First, bukan karena mau dapat jabatan. Tahu sendiri, aku udah nyerah sejak dulu.”ucap Barat  sambil tertawa. “I know.” “Anehnya, performance aku malah dijadiin kategori untuk naik jabatan.” “Tuh kan, berarti kamu memang hebat. Congrats again!” “Thanks, Ra.” “Percaya deh, pasti selalu ada waktu untuk segala sesuatu.” “Aku percaya karena kamu yang bilang.” “Ih, kok gombal sih.” “Aku selalu percaya sama kamu, Ra. Kamu gak pernah bikin aku kecewa.” “Kalau kamu gimana?” “Hah?” “Apa kamu juga gak bakal bikin aku kecewa?” “Aku akan selalu berusaha.” Usaha macam apa yang akan dia lakukan? Bukankah sudah jelas? Sera tersenyum dibalik kekecewaannya. Kecewa itu milik manusia. Namun, tak baik jika terus-terusan dikecewakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN