.17. My Flower

1238 Kata
“Mom, are you ok?” Pertanyaan gadis mungil itu membuat Varda menghentikan lamunannya. Varda tersenyum dan melihat buku gambar yang penuh coretan itu. Gemi menunjukkan hasil kerjanya yang mendapat nilai terbaik ketiga di kelas. Dia sangat bangga. “Kenapa tadi?” “Ma, kata bu guru, minggu depan ngegambar foto keluarga. Aku bingung gambarnya gimana.” “Sorry ya, Gem. Mama malah ngelamun. Nanti kamu gambar foto yang ada di ruang depan aja ya?” “Aku mau foto baru ma. Kata bu guru, pake foto keluarga yang baru.” “Ya sudah. Nanti mama atur.”balas Varda mengalah. Gemi senyum sumringah mendengarnya. Dia kembali sibuk dengan buku gambarnya. Mobil berhenti di depan rumah mewah itu. Varda menuntun Gemi menuju lift. Gemi tak pernah lepas dari pengawasannya. Kehadiran Gemi di hidupnya seperti nafas yang menghidupkan.  Raina menyambut mereka dengan pelukan hangat. Gemi tidak mempedulikannya. Dia langsung berlari ke ruang bermain yang tak jauh dari tempat itu. Raina menyuruh pembantunya untuk mengawasi Gemi. “Tasha mana?”tanya Varda sambil menaruh tas-nya di atas meja. “Di kamar. Dia sibuk banget ngurusin sesuatu yang aku gak paham. Kamarnya penuh sama poster-poster gak jelas.”keluh Raina sambil menghela nafas. “Suami gak beres, mertua gak beres, anak juga gak beres. Gak ada yang beres di rumah ini.” “Jangan begitu. Proyek yang baru udah beres?” “Udah. Apartemen itu udah balik lagi atas namaku. Biar jaga-jaga kalau dia ngajak cerai.”balas Raina dengan senyuman licik. “Baguslah.”balas Varda singkat. “Rain, aku boleh nanya?” “Apa?” “Sepertinya, Barat selingkuh.”ucap Varda memberanikan diri. Sudah tiga hari dia memendam semua ini. Rasanya berat dan lelah. “Bercanda kan, Var? Ayolah, ini gak lucu loh. Jangan bikin cerita konyol kayak gitu dong.” Varda diam. Reaksi yang membuat Raina panik. Dia masih tidak percaya. “Kamu serius?” “Tiga hari yang lalu, aku gak sengaja melihat chattingan di handphonenya. Bukan niat dan gak ada pikiran apa-apa. Aku cuma heran, kenapa dia begitu bahagia mengetik sesuatu di handphonenya.” “Terus?” “Dia memberi nama My Flower untuk perempuan itu.” Raina sampai berdiri saking tidak percayanya. Pandangannya tentang Barat begitu sempurna. Dia pria yang bertanggung jawab, pekerja keras dan ayah yang baik. Bahkan setelah semua yang terjadi, dia tak pernah memperlakukan Varda dengan kasar.  “Gak mungkin!”gumam-nya lagi. “Aku harus gimana, Rain? Aku harus gimana? Apakah benar membiarkan semua ini? Lalu, Gemini bagaimana?” “Tenang, Var!” “Aku bingung harus bagaimana. Jika ada di posisi-mu, aku mungkin bisa marah. Tapi tidak dengan posisiku sekarang. Hubungan kami tak pernah baik. Aku merasa tak punya hak untuk marah.” “Siapa bilang? Kau istri sahnya.”tegas Raina. “Tapi sudah lama kami tak seperti suami istri.” “Argh, sial! Ini semua karena orang tua payah itu. Kenapa orang tua zaman sekarang sering bikin masalah?” Rumah tangga itu seperti dunia baru yang aneh. Keputusan dua orang harus sejalan dengan keputusan keluarga besar. Ketika terjadi beda persepsi, maka keluarga akan ikut bersinergi memecah tatanan yang sudah ada. Dan terkadang, pihak yang egois hanya menyisakan sakit hati bagi seseorang. Itulah yang terjadi pada mereka. “Kau tahu kan, Rain. Aku sudah berusaha keras menerima hidup yang seperti ini. Tapi melihat dia selingkuh, rasanya lebih berat dari apapun.” “Ya, aku paham. Kau tak bisa sepertiku karena kau masih mencintainya.” Banyak yang bertahan, mungkin demi anak. Namun, yang memilih berpisah adalah yang masih mencintai. Tidak sanggup menahan sakit di hati hingga terpaksa mengorbankan anak. “Mungkin aku akan segera mengurus surat cerai.” “Tidak. Jangan lakukan itu.” “Apa yang harus ditunggu?” “Begini saja. Buat keputusan dengan kepala dingin.”ucap Raina memberi saran. Varda terlihat tegar tapi juga sedih. Dia melihat Gemi yang melambaikan tangan. Tasha menemuinya dan bermain bersama. Tasha memang suka anak-anak. Makanya dia pernah meminta adik pada Raina. Raina jelas tidak mau. Dia tak ingin menambah korban kelakuan suaminya. Cukup Tasha yang menerima semua itu. Dia sudah terlanjur ada saat Raina tahu suaminya doyan selingkuh. “Pikirkan dengan matang. Kau punya banyak pilihan. Perbaiki hubungan, melabrak selingkuhannya, meminta penjelasan dan lain sebagainya. Ayolah Var, mulai bertindak. Sudah cukup tiga tahun kau dan dia pasif dalam menajalani hidup. Kalian sangat konyol!” *** Kamera harga 20 juta itu digenggam erat. Dia duduk di halte busway yang sepi pengunjung. Sekarang pukul 10.30 pagi. Saat yang tepat untuk healing di tempat ini. Jakarta selalu punya sisi menarik yang jarang diperhatikan orang-orang kantoran. Mereka sibuk dengan pekerjaannya hingga lupa memperhatikan sekitar.  Dipta meletakkan sebotol air mineral di samping Sera. Dia duduk dan memperhatikan spot bagus untuk merealisasikan konten yang dirancang bersama Sera.  “Tau gak, banyak yang suka kalau kita bikin video bareng.” “Emang. Aku kan pembawa rejeki.” “Sombong banget.” “Hahaha.” “By the way, kemarin Berlin ngajak ketemuan. Kamu mau gak?” “Boleh aja. Sinka sama Joel ikut juga kan?” “Engga. Kita bertiga aja.” Sera diam.  “Kenapa sih, Ra? Masih ada yang tidak beres di antara kalian?” “Dip, bilang sama dia aku sibuk. Minggu ini juga ada acara keluarga. Ok?” “Kenapa? Kenapa kamu gak mau ketemu dia?” “Belum waktunya aja. Hmm, kamu aja yang ketemu sama dia. Berdua.” “Apaan sih!” “Kalian cocok tahu kalau berdua. Jadi kayak couple goals.” “Udah diem. Sini kameranya, aku mau ngambil foto dulu.”Dipta merebut kamera itu tanpa diberikan oleh Sera. Dia marah tapi menyembunyikannya. Dia berjalan cukup jauh dari tempat Sera. Mengambil sembarang foto yang menurutnya bagus. Saat dia kembali, dia melihat Sera sedang merenung. Apapun yang dipikirkan cewek itu, pasti semua berhubungan dengan Barat. Pria j*****m yang tak bisa dihajar langsung oleh Dipta.  Dia langsung mengambil foto Sera. Masih cantik, seperti yang dulu. Sesudah itu, mereka membuat konten dengan serius. Kalau sudah serius, semua bisa selesai dengan cepat. Banyak yang bilang, jangan jadikan sahabatmu sebagai rekan bisnis. Sebab bisnis, bisa menghancurkan persahabatan. Itu adalah fakta. Tetapi tak semua fakta berlaku untuk setiap orang. Dipta selalu bersyukur dengan semua pencapaian ini. Percaya atau tidak, Sera selalu ada di setiap momennya ketika menanjak semakin tinggi. Sera itu seperti dewi keberuntungan. Akhirnya, mereka memilih Lawson sebagai tempat teduh dari hujan yang semakin deras. Dipta sibuk menyelamatkan kameranya. Benda itu dijaga dengan baik. Sesuailah dengan harganya yang selangit. Sera kembali dengan dua cup udon hangat. Tak lupa minuman yang menyegarkan. Dia sangat excited mencoba makanan yang lagi viral itu.  “Katanya, ini enak banget.” “Kata siapa?” “Kata orang-orang di Tiktok.”balas Sera sambil menikmati suapan pertama. Wajahnya menunjukkan reaksi yang tepat. Dia tersenyum dan menyuap untuk kedua kalinya. Dan seketika, dia memukul punggung Dipta. “Enak banget Dip. Ayo, cobain cepat.” “Iya, sabar!” “Aku tuh gak nyangka. Makanan yang ada di media sosial itu beneran enak kalau yang ngereview orang biasa.” “Emang. Kalau influencer yang nge review, pasti yang gak enak juga jadi enak.”ledek Dipta. “Kamu juga gitu kan?” “Iya lah. Kan, yang penting duit.”balasnya sambil tertawa. Sera terlihat sangat puas menikmati makanan itu. Banyak hal yang menyenangkan luput dari pandangannya. Dia selalu fokus pada yang ada di depan mata. Padahal, di luar sana, selalu ada gula yang bisa mengubah rasa pahit itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN