.18. Mengakhiri Persahabatan

1271 Kata
********* Cinta segitiga melukai tiga orang sekaligus! ******** Untuk memenuhi janji temunya, Sera sengaja mengenakan gaun sederhana yang dibelinya dua hari lalu. Gaun ini dibeli atas rekomendasi Dipta. Gaun dengan warna soft dan ornamen yang tidak terlalu ramai.  Setelah sempurna dengan pakaian, dia duduk di meja rias. Memeriksa setiap sudut wajahnya. Penampilannya semakin sempurna dengan riasan seadanya. Terakhir, dia mengatur bentuk rambutnya jadi lebih bergelombang. Dan ditambah dengan olesan di bibir dengan warna merah tua.  Dia mengambil tas dan sepatu. Segera menuju RM Padang yang berlokasi di Jakarta Pusat. Akhir-akhir ini, dia jadi sering bertemu teman-teman kuliah. Dia baru sadar kalau ternyata mereka tak seburuk itu. Kisah-kisah mereka memberi Sera pandangan tentang masa depan. Masa yang mungkin tak akan dialaminya. Seperti pada umumnya, semua jenis makanan disajikan lengkap. Pelanggan tinggal memilih menu yang mereka sukai. Awalnya semua sibuk memilih makanan itu. Rasa lapar membuat mereka fokus pada makanan saja. “Sebenarnya suamiku mau ikut. Tapi katanya malu, soalnya kita cewek-cewek semua.” “Hahah, wajar sih. Aku juga gak bakal mau ketemuan kalau temannya suami cowok semua.” “By the way, katanya Berlin mau datang loh, Ra. Kamu gak dikabarin?” “Oh iya? Lupa kali ya. Saking sibuknya.” “Itu dia sudah datang.” Berlin muncul seperti guru BK yang mau menceramahi anak didiknya. Sera melirik seadanya tanpa gesture yang cukup berarti. Berlin menyapa semua orang kecuali Sera. Dia terlihat emosional. Sera sudah sering melihat wajah itu. Wajah yang mudah marah hanya karena masalah sepele. Ya, sifat itu sudah mendarah daging. “Ayo,  Ber, makan! Kita keburu lapar sampai lupa kalau kamu mau datang.” Berlin tersenyum sambil menatap Sera. Tapi Sera terlihat tak mengindahkannya. Dia fokus menikmati ayam bakar yang wanginya semakin menggugah selera. Baginya, tatapan Berlin sama sekali tak mengusiknya. Bagaimanapun ini terlihat aneh. Berlin duduk di hadapannya tanpa disengaja. Semua menikmati makanan dengan celotehan sederhana. Gosip terbaru sampai berita yang lagi hangat. Tak ada reaksi yang berlebihan dari Sera dan Berlin. Mereka berdua berakting sehingga terkesan tak ada masalah. “Kita nge mall yuk. Bosan juga kalau langsung pulang.” “Aku sebenarnya perlu bicara sama Sera!”ucap Berlin dengan tatapan tajam ke arah Sera. Dia kira perempuan itu akan merasa bersalah. Ternyata tidak, dia malah membalas tatapan itu. Mereka terlihat memendam sesuatu yang tak terkatakan. “Kalau mau bicara langsung aja. Basa basi kan gak penting.”balas Sera dengan nada menyindir. Semua terdiam dalam kebingungan. Sera tak pernah begini sebelumnya. Dia tipikal orang yang suka mengalah daripada membalas kemarahan. Dan sekarang, yang terjadi malah sebaliknya.  “Aku ada salah apa? Kita berteman sudah lama, tapi kau malah bersikap kekanak-kanakan.”ucap Berlin tak habis pikir. “Kau beneran semudah itu memutus pertemanan? Apa yang sudah berlalu gak ada gunanya buatmu?” “Aku gak ngerti. Itu cuma perasaanmu aja.” “Aku salah apa, Ra? Kau berubah entah sejak kapan.” Semua melihat mereka berdua tanpa bicara. Kaget dan bingung harus bagaimana. Untung saja tempat itu sedang ramai pelanggan. Jadi kejadian ini tidak menarik perhatian orang lain. “Kau mau apa? Bilang sekarang. Aku gak mau makan hati sendirian. Berharap menyelesaikan masalah tapi kau terus menghindar. Kau tidak menghargai usahaku.” “Tenang, Ber. Jangan keras-keras! Malu diliatin orang.” “Sekarang, kasih tahu aja. Aku siap kok ngelakuin apa yang kau suruh!”teriak Berlin dengan suara yang lebih keras. Makin dilarang, makin greget untuk dilakukan. “Terserah mau gimana!”tegasnya untuk kesekian kalinya.  Sera berdehem dan meneguk es jeruk di atas meja. Semua hening sambil menunggu respon dari perempuan itu. Jarang melihatnya marah, tapi sekalinya marah, dunia bisa terguncang luar biasa. “Aku tahu kau sudah lama suka sama Dipta.”ucap Sera mengawali. Fakta yang membuat semua orang menganga kaget. Ini adalah hal baru yang belum pernah tersiar sampai ke telinga mereka. Mereka menyimpan rasa penasaran dalam-dalam. Tak ada kesempatan kala keadaan sedang tidak baik-baik saja. “Aku juga menyukainya. Dan itu yang bikin kita gak bisa lagi berteman.” “Gak mungkin! Kau lagi mengarang cerita ya?” “Ya. Aku baru tahu kalau sebenarnya aku suka sama dia. Biar kita bisa bersaing sehat, mending kita tak usah terlalu dekat.” Pesona Dipta memang luar biasa. Namun, siapa sangka dua sahabatnya malah terlibat cinta segitiga. Itulah yang ada dipikiran yang lain. Persahabatan memang gampang retak. Terutama jika menyangkut seorang cowok. Walau demikian, Dipta tak terlihat seperti playboy cap buaya laut. Dia masuk dalam pria tampan yang berperilaku baik. Jarang bukan menemukan orang yang paket lengkap seperti dia? “Stop guys! Kalian bisa bicarain hal ini berdua.”ucap Jolin dewasa. Dia sangat peka terhadap situasi ini. “Thanks Jol. Tapi aku udah gak mau pura-pura di depan kalian. Jadi, kalau begini kan semua udah jelas.”ucap Sera sambil tersenyum. Dia masih sanggup tersenyum disaat Berlin mau menangis.  “Aku pulang duluan ya. Aku ikut ke mall lain kali aja. Bon-nya nanti share aja di grup.” “Selow, Ra. Katanya Naomi yang bakal traktir.” “Oh, thanks Nao.”balas Sera seraya mengecek isi tasnya. Takut ada yang ketinggalan dan sebagainya. “Ok. See you later guys.”lanjutnya mengakhiri. Dia pergi seperti tidak ada masalah. Semua langsung diam dan hening. Ini benar-benar aneh sekaligus membingungkan.  “Are you ok, Ber?”tanya Jolin sambil menepuk pundak Berlin. Berlin hanya menoleh dengan tatapan sendunya. Dia terlihat tak baik.  “Aku pulang duluan!”ucap Berlin tanpa banyak basa basi. Dia berjalan menuju ke parkiran. Dia sangat tidak terima dengan ucapan Sera. Dia tahu banget kalau Sera sangat mencintai Barat. Ya, dia sedang membual barusan. Perkataan itu cuma untuk mempermalukannya di depan teman-teman yang lain.  “Mau ke rumah Pak Brigarda, pak.”ucapnya sambil membuka jendela mobil. Satpam mengangguk setelah memastikan hal itu. Berlin melaju dengan lambat karena sudah memasuki area perumahan. Mobil terparkir di depan pintu gerbang. Berlin berjalan dengan cepat untuk menemui Dipta. “Eh, Non Berlin. Mau ketemu Mas Dipta?”tanya Bi Mirna. “Iya, Bi. Dipta di rumah kan ya?” “Iya, Non. Masuk aja.” Saat Berlin berjalan ke lantai atas, dia melihat Kilau baru mau turun. Kilau tersenyum menyambutnya. “Eh, Kak Ber!” “Hey Kil. Dipta dimana?” “Di ruang kerja, Kak. Masuk aja.” “Thanks, Kil.” Berlin masuk dengan perlahan. Dia melihat Dipta sedang sibuk mengemas barang yang banyak. Dia menunggu sampai cowok itu menyadari kehadirannya. Cukup lama dia disana dengan menahan air matanya jatuh. Dan saat Dipta menoleh, dia langsung menangis. Dipta kaget dan langsung mendekatinya. “Kamu kenapa, Ber? Kamu gak apa-apa?” Bukannya tenang, Berlin semakin terisak. Seringnya, putus asa itu terlihat saat bersama orang yang tepat. Rintihan hati mulai berani menyiarkan dukanya. Hati yang butuh pelukan disertai dengan tangis yang terisak. Cukup lama Berlin menangis. Dipta menutup pintu ruang kerjanya agar tak ada orang yang melihat hal itu. Dia mengenal Berlin. Cewek itu tak suka menangis di depan umum. Dia lebih suka menangis sendirian atas rasa gengsi yang tinggi. Dipta coba menghibur meski tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.  Setelah tiga puluh menit berlalu, dia berhenti menangis. Mungkin saja kadar air matanya perlahan menurun. “Aku udah gak apa-apa, Dip. Makasih ya udah mau menerima meski kamu sibuk.” “Ayolah, Ber. Kita kan sahabat. Jangan pernah berpikir kalau ini menyusahkanku. Aku sama sekali tidak keberatan.”Berlin mendengarnya dengan hati yang sedikit terluka. Dia tak ingin memperdebatkan Sera di tempat ini. Niatnya untuk meminta penjelasan hilang begitu saja. Dipta terlalu baik, bahkan sangat baik. Sakit hatinya biarlah jadi bebannya sendiri. Meskipun ia tahu, ia belum bisa melupakan Sera begitu saja. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN