Julian menghentikan motor maticnya di depan sebuah bangunan besar bertingkat dengan desain minimalis bercat putih dan abu-abu. Dengan jendela-jendela besar menghiasi setiap sisi bangunan. Terlihat mewah sekaligus elegan. Seorang pria paruh baya nampak sudah menunggu kedatangan mereka dengan menjinjing tas milik Julian yang di bawa dari rumah kecil mereka tadi. Aina yang wajahnya masih di tekuk karena kesal dengan Julian enggan melangkah setelah turun dari motornya. Bagaimana tidak? Setelah berhenti sebentar untuk membeli s**u Arik di sebuah minimarket, Julian malah sudah duduk di depan kemudi dengan cengirannya. Jika tahu Julian bisa mengendarai motor, kenapa baru mengatakannya setelah sepanjang perjalanan menahan malu karena ulah lelaki itu yang tak berhenti memeluknya. Salah Aina juga

