Dering di ponsel Aina tak henti berbunyi. Melihat nama 'Kangaroo' yang tertera di layar membuat Aina mendengus malas. Setiap setengah jam Julian mengirimkan pesan atau menelponnya jika Aina tidak membalas pesannya. Bahkan sebelum pergi bekerja tadi pria itu memintanya video call padahal malamnya bahkan mereka tidur seranjang bertiga. Benar-benar seperti bayi kangguru yang menempel dengan ibunya batin Aina. "Angkat dulu Na!" titah Maya yang duduk di depan Aina yang masih menyeduh 50 cup espreso pesanan Maya. "Biarin lah May, nanti aku telepon balik, lagi sibuk nih," jawab Aina serius dengan mata yang fokus pada hal yang dikerjakannya. Maya yang melihat tingkah Aina hanya geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya dia mengabaikan suami yang shinning, shimmering, splendid seperti Julian. Padahal

