Lima tahun kemudian.
Kegaduhan terdengar dari sebuah rumah mungil di pinggir kota kecil Sampit, Kalimantan Tengah. Ya, sedari subuh Aina dan Maya sudah repot menyiapkan berbagai keperluan piknik mereka ke pantai hari ini.
Seorang dokter tampan dengan setia menunggu di depan minibus yang akan mereka tumpangi.
"Benar nih bos nggak apa kalau kami ikut?" sekali lagi Aina memastikan dengan malu-malu.
"Tentu saja Aina, ini acara family gathering rumah sakit tempatku bekerja, berhubung mami menolak ikut, lebih baik kalian yang ku ajak," jawab dokter muda itu semangat.
Dia tidak akan menyiakan kesempatannya untuk lebih dekat dengan gadis pujaan di depannya ini. Walaupun tak hanya Aina yang ikut serta, tapi itu adalah kesempatan emas untuknya bisa menyatakan perasaan di pantai yang indah seperti khayalannya selama ini. Terdengar romantis bukan?
" Tapi di sana pasti banyak dokter, perawat dan staf rumah sakit, apa boleh karyawan minimarket sepertiku ikut?" sekali lagi Aina memastikan.
"Staf rumah sakit dan ke-lu-ar-ga-nya," ucap dokter itu dengan mengeja kata keluarga.
"Keluarga mereka juga bukan hanya tenaga medis kan, ada juga karyawan swasta bidang lain."
Kali ini Aina tersenyum manis, menampilkan lesung di pipi sebelah kirinya dan deretan gigi putihnya. Bulu mata lentiknya juga seolah ikut tersenyum. Senyum itu sungguh membuat hati dokter tampan itu meleleh. Ah, ingin rasanya ia memiliki senyum itu seutuhnya, hanya untuknya seorang.
Dokter muda itu berdehem untuk menenangkan perasaannya.
"Lagi pula kamu kan karyawan minimarket milikku, selama ini aku belum pernah memberimu jatah cuti, anggap saja ini bonus untukmu Aina".
"Huh curang, bonus karyawan sendiri tapi gratisan dari rumah sakit," Aina berkelakar sambil melipat kedua tangannya di d**a.
Sebenarnya ia cukup senang diajak liburan ke pantai oleh dokter sekaligus pemilik minimarket tempatnya bekerja ini. Pantai adalah keinginan Arik putra tersayangnya sejak lama.
Selama ini Aina tidak punya kesempatan untuk mengajak putranya berlibur. Selain sayang menghamburkan uang, juga karena kesibukannya bekerja untuk memenuhi keperluan mereka.
Dokter muda tampan yang biasa di panggil olehnya bos Rian itu tertawa dengan kerasnya. Membuat tawa itu menulari Aina.
"Oke kita akan berlibur lagi lain kali dengan uang hasil keuntungan minimarket. Ayo cepat siap-siap kita sudah ketinggalan rombongan".
Aina memberi hormat ala militer kepada bosnya itu, kemudian sedikit berlari masuk ke dalam rumah. Mengeluarkan koper dan memanggil Maya serta Arik yang tak kunjung selesai berbenah.
Arik yang bingung dengan mainan mana saja yang akan dibawa dan Maya yang sedari tadi menimang baju mana yang cocok untuk dipakai di pantai. Tak lupa skin care dan segala t***k bengek wanita.
Bu Hana wanita paruh baya ibu kandung dari Maya yang juga malaikat penolong bagi Aina, keluar menghampiri Rian.
" Hati-hati bawa mobilnya ya nak Rian, Ibu takut si Arik mabuk dalam perjalanan," ucap wanita itu lembut.
" Baik Bu, percayakan mereka kepada Rian," balas Rian dengan percaya diri.
Tak lama Maya keluar lebih dahulu dari rumah membawa tas jinjing berukuran cukup besar, disusul Arik dengan rubik yang masih ia putar-putar dengan serius.
Lalu Aina dengan sebuah koper sedang dan ransel kecil Captain America milik Arik di punggungnya.
Rian melangkah menuju mereka bermaksud menolong membawakan bawaan dan memasukkannya dalam bagasi mobil.
Maya mengulurkan tas jinjing di tangannya sambil menatap tak berkedip dokter tampan itu. Namun Rian melaluinya begitu saja menghampiri Aina dengan koper dan ranselnya.
Semburat kecewa itu sudah biasa hadir di wajah Maya, namun ia tetap bersyukur bisa berada dekat dengan dokter pujaannya. Teman yang diam-diam di sukainya sejak di bangku sekolah.
Ya, dokter Rian Nugraha, cinta pertamanya. Meskipun Maya tau, tatapan memuja Rian hanya untuk Aina bukan dirinya.
"Halo boy," sapa Rian sambil mengambil alih koper di tangan Aina. Anak lelaki 5 tahun itu hanya mengacungkan jempolnya membalas sapaan Rian, khas Arik yang cool.
Rian memasukkan semua barang dalam bagasi, setelah semua penumpang juga masuk dalam minibus nya. Sebenarnya ia agak bingung, kenapa sebanyak ini barang bawaan para wanita sementara mereka hanya berlibur selama dua hari. Dia saja hanya membawa satu ransel kecil. Tapi pertanyaan itu disimpannya sendiri.
"Sudah semua?" tanya dokter itu.
Aina, Arik dan Bu Hana yang berdiri disamping pintu mobil kompak menatap ke arah Maya.
Dengan polosnya Maya menunjuk dengan bibirnya dua koper besar di depan pintu. Mata Rian melotot melihat ke arah koper itu.
Senyum jahil terbit di bibir Maya, begitu juga Aina yang sudah hafal betul dengan watak usil Maya yang sudah seperti saudaranya itu.
"Maklum nak Rian, mereka memang kurang piknik," senyum itu juga menulari Bu Hana.
"EKA MAYA!!"