3. Bertemu

567 Kata
Semilir angin di pantai Ujung Pandaran membuai Aina yang sedang berdiri menghadap pantai menatap senja. Terhanyut dalam lamunan tentang keluarganya di Jakarta. Apa kabar bapak, ibu, dan Dita adiknya di sana? Pertanyaan itu menghadirkan rindu di hati Aina. Hamparan senja yang jingga dan laut yang biru di pantai benar-benar membawa kenangan hangat mereka saat masih bersama dulu. Aina menarik nafas dalam, sekarang dia tidak bisa kembali, meskipun Aina rindu setengah mati. Dia ingat perkataan bapak waktu itu, "Kamu bukan putri saya lagi, silakan pergi dan jangan pernah kembali!" Tekan bapak dengan genangan air di kedua kelopak mata tuanya. Aina Adriana, putri yang selalu dibangga-banggakannya di depan keluarga maupun tetangga, teganya hamil di luar nikah. Menghancurkan segala harapan dan martabatnya berkeping-keping. Putri yang selalu membawa segudang prestasi itu kini menorehkan aib di wajah mereka. Aina benar-benar merasa bersalah namun juga tidak memiliki kuasa untuk mengubah apa yang sudah terjadi. Dan Julian Malik Djuanda lelaki yang mengubah mimpi Aina itu walaupun bertanggung jawab dengan menikahinya, nyatanya yang menambah garam di setiap luka itu. Ah, sudahlah Aina tidak ingin lagi mengingat lelaki itu. "Woww, asyiikkk!" teriak Maya dari banana boat memecah lamunan Aina. Gadis ceria itu telah akrab dengan staf rumah sakit dan bermain bersama. Aina melambaikan kedua tangannya ke arah Maya turut tertawa. Arik, jangan ditanya. Setelah puas bermain pasir dan bercebur sebentar di laut, ia meminta balik ke vila dan tertidur. Nampaknya Arik memang agak mabuk perjalanan meskipun jarak Kota Sampit dan Pantai Ujung Pandaran ini tidak memakan waktu sampai setengah hari. Tempat Aina berdiri tak jauh dari vila, dia tidak ingin ketika Arik bangun, bocah lelaki itu menagis karena mencarinya. Lagi pula, vila yang disewa dokter Rian khusus untuk mereka adalah vila terbaik dengan pemandangan pantai yang terindah. Meskipun setiap sudut di pantai itu indah, namun di depan vila mereka matahari terbit dan tenggelam akan sangat jelas terlihat. Sangat indah. Aina tidak menyadari sedari tadi dia berdiri, Rian mengawasinya penuh kagum. Pemuda itu sedang memberanikan diri ingin menyatakan perasaannya pada wanita yang memakai terusan moca di bawah lutut itu. Rian hanya mampu memandang pundak ramping yang tertutupi rambut indah tergerai Aina yang ditiup angin. Gemuruh itu tak bisa dia redam ketika berdekatan dengan wanita cantik itu. Dia tidak ingin terlihat bodoh di depan Aina. Semilir angin di pantai berbalut senja tak luput ikut menerbangkan pasir putih halus di sekitarnya. Aina sedikit terganggu dengan butiran pasir yang menghinggapi matanya. Dia mengucek-ngucek matanya pelan. Rian yang semula ragu mendekat melihat itu sontak berlari mengarah menuju Aina. "Kamu ngga apa-apa?" tanyanya khawatir. "Kelilipan," balas Aina masih sambil mengucek mata kirinya. Rian menahan tangan Aina dan menangkup wajah cantik itu berniat meniup mata indah itu dari butiran pasir. Namun gerakannya tertahan. Ini pertama kalinya dia sedekat ini dengan Aina. Wajah yang ditangkupnya itu terpejam menahan perih. Rian terpaku menatap indahnya ciptaan Tuhan di depannya ini. Lebih indah dari pantai. Lebih cantik dari senja. Bulu mata lentik itu seperti tersenyum. Hidung mancungnya, pipi merona itu, bibir seksi berwarna merah muda alami yang begitu menggoda untuk di kecup. Persetan! Rian tidak bisa menahannya lagi. Dia mendekatkan wajahnya ke arah Aina, bermaksud merasai manis bibir indah itu. Namun belum sempat bibir mereka bertemu, bariton itu menghentikan kegiatannya. "AINA ADRIANA!" Merasa nama lengkapnya dipanggil dengan jelas, Aina membalikkan tubuhnya ke arah suara. Meski masih sambil menahan perih di matanya. Namun ketika mata indah itu menangkap sosok dari suara itu berasal. Mata itu membola sempurna. "Julian!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN