6. Pulang

757 Kata
"Kenapa harus pulang sih?" Maya mesuh-mesuh sendiri di kursi belakang. Ya, kini mereka sudah berada dalam minibus Rian, setelah Aina bersikeras ingin pulang. Rian tau ada sesuatu yang tidak beres dengan Aina setelah bertemu dengan lelaki di pantai itu. Makanya dia mau saja diajak pulang. Walaupun harus mendengarkan protes keras dari Maya si penggangu. "Aku belum pakai semua baju yang aku bawa Aina, aku juga belum sempat foto dengan dokter Kris!" Maya benar-benar kesal. "Kalau mau pakai semua baju yang kamu bawa, satu bulan disini juga nggak cukup", balas Aina. " Tapi kenapa harus pulang? Sia-sia aku ambil cuti kalau gini ceritanya." lagi, kalimat itu yang diulang Maya. " Aku mendadak nggak enak badan Maya". "Percuma famghat dengan para dokter dan perawat serumah sakit terkenal di Sampit, kalau kamu sakit nggak ada yang bisa obatin", Maya tak mau kalah dengan argumennya. " Aku... juga mendadak kangen ibu", balas Aina sambil menunduk dan mengelus rambut Arik tertidur di pangkuannya. "Sudah-sudah", kini Rian ikut angkat bicara sambil mengemudi. " Kalian berdua jangan ribut, kasian Arik terganggu tidurnya". "Lagi pula, aku juga ada pasien yang minta secara khusus mau ketemu", Rian ikut membela Aina tentu saja. " Tapi aku belum foto sama dokter Kris", rengek Maya lagi. "Alah, mana mau dokter Kris foto sama mahkluk kaya kamu, dia itu anti kuman tau!" ejek Rian. Mendengar kalimat Rian, mata Maya melotot. Dia meletakkan tangannya di pinggang sambil menarik nafas panjang dan berteriak sekuat tenaga "DOKTER SIALAN!" Sontak teriakannya itu menggangu Arik, bocah lima tahun itu mengubah posisinya namun masih memejamkan matanya. Aina dan Rian pun kompak berbalik dan melotot ke arah Maya di kursi belakang. Mereka sama-sama berucap, "Bawel!" *** Sementara di mobil Triton hitam yang tak jauh jaraknya dari minibus rombongan Aina, Burhan kembali mengeluarkan suaranya memecah keheningan di dalam mobil itu. "Apa kita langsung ke bandara Pak Julian?" Julian yang di ajak bicara hanya melirik sebentar dan mengarahkan kembali pandangannya ke depan. Dia tengah konsentrasi menyetir mengikuti mobil di depannya itu. "Tidak, saya sudah menemukan rumah saya", jawabnya singkat. Di otaknya, Julian sedang berpikir keras. Banyak pertanyaan yang meminta jawaban Aina. Bagaimana Aina bisa sampai di kota ini? Sedangkan semua kartu identitas diri dan ATMnya semua ada di Jakarta. waktu itu Aina hanya membawa sedikit baju dan uang. Bahkan handphone nya yang rusak pun belum diganti. Apa yang dilakukannya disini? Piknik keluarga? Honeymoon? Apa hubungannya dengan laki-laki yang hampir menciumnya di pantai tadi? Apa anak yang ditutupi jaket wajahnya dan digendong Aina memasuki minibus itu adalah anaknya? Ah mengingat anak itu hati Julian menghangat, itukah anaknya? Keturunanya yang dilahirkan dari rahim Aina. Jika melihat rentang usia kemungkinan besar itu memang darah dagingnya. Dia memang tidak melihat langsung sosok anak itu, karena Aina menutupi kepalanya dengan jaket. Namun entah mengapa hatinya sangat bahagia. Anaknya sudah besar dan sehat. Burhan di samping Julian menarik nafas lelah. Lagi-lagi dia hanya menelan ludahnya tidak mengerti dengan maksud bos robotnya itu. Namun untuk sekedar bertanya Burhan tidak berani. Burhan pasti akan kebingungan menjawab pertanyaan dari bos besarnya di Jakarta. Ya, siapa lagi kalau bukan Bapak Djuanda ataupun istrinya. Atau malah telepon dari wanita yang nampak mencari perhatian dari sang bos. Siapa lagi kalau bukan Anabella Laura. *** Arik masih asik memutar-mutar rubik nya, sementara Maya menyendokkan es krim ke mulutnya dan Arik bergantian. Maya perlu makanan manis dan dingin untuk meredakan jengkelnya. Dibiarkan begitu saja coloteh dari tv yang menemani kegiatan mereka. Bu Hana mengetuk kamar Aina pelan. Sejak pulang dari pantai Aina tidak keluar kamar bahkan Aina belum menyentuh makan malamnya. Bu Hana merasa sedikit khawatir. " Ada apa Aina? Sejak pulang dari pantai ibu lihat kamu malah murung", langkah ibu mendekat ke arah Aina yang termenung di depan jendela. Aina berbalik dan justru memeluk ibu erat. Aina benar-benar perlu pelukan itu untuk menguatkannya. Menatap sorot mata tajam itu kembali seolah mengoyak lukanya. Dia sudah berusaha melupakan sosok itu, meskipun ketika melihat wajah Arik sosok itu kembali hadir. Arik benar-benar mewarisi garis wajah Julian. "Aku takut bu, aku takut dia akan mengacaukan hidupku lagi, aku takut dia akan mengambil Arik", tumpah sudah pikiran negatif yang berputar di otaknya seharian ini. Sesak itu benar-benar menggerogotinya. " Tenang Aina, tidak ada orang yang mau ganggu kamu", ucap ibu sambil mengelus punggung bergetar Aina. "Dia sudah datang bu, dia datang", ucap Aina kebingungan. " Siapa? Katakan sama ibu", "Dia, dia Papanya Arik," Aina menutup wajah dengan kedua tangan gusar. Melihat wajah Julian kembali benar-benar mengusik ketenangannya. Maya yang tak sengaja mendengar percakapan Ibu dan Aina terdiam di depan pintu. Dia mulai mengerti akan situsi yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN