7. Hari Biasa

933 Kata
Benar saja, dua hari setelah pertemuan di pantai itu, tak ada kejadian yang menyangkut Julian. Julian tidak mencari atau ingin mengambil Arik anaknya seperti yang di takutkan Aina. "Kau terlalu percaya diri Aina, dia bahkan tidak peduli", gumam Aina kepada dirinya sendiri. Pertemuan itu tidak ada arti apa-apa untuk Julian. Mungkin saja Julian sudah hidup bahagia bersama Bella dan anak mereka. Mereka hanya tidak sengaja bertemu di pantai waktu itu. Toh selama ini hanya Aina yang menjadi penghalang mereka bersatu. Setelah lima tahun ini mereka pasti sudah mewujudkan mimpi indah mereka, menikah. Miris sekali batin Aina meratapi nasibnya yang masih terluka karena masa lalu. Pagi ini dijalani Aina seperti hari-hari biasa. Mengantar Arik sekolah, bekerja, membantu pekerja ibu di rumah kalau ibu sedang ada pesanan kue. Hari ini, Aina juga membantu ibu menyiapkan puding karamel pesanan dari hotel tempat Maya bekerja. Kebetulan chef yang biasa menyiapkan desert untuk para tamu sedang sakit. Maya selaku asisten restauran manager terpaksa harus menghandle kekacauan dengan melibatkan semua orang. Selain ibu, Aina dan Arik juga terkena imbasnya. Aina terkena shift malam untuk bekerja di minimarket dan cafe ada sedikit renovasi, sehingga dia punya banyak waktu luang siangnya. " Harus istimewa ya bu, ini untuk tamu vip", Maya memperingatkan dengan kedua tangan berada di pinggang. "Puding karamel buatan ibu belum pernah mengecewakan, selalu istimewa", puji Aina seraya menampilkan lesung pipinya. " Aduh ibu jadi ge er", balas ibu seraya memasukkan puding ke dalam wadah, mereka tertawa bersama. Arik yang bertugas sebagai food tester tak peduli dengan obrolan orang dewasa itu, dia asyik sendiri menikmati pudingnya. "Maya berangkat dulu ya, jangan lupa Aina antarin pas semua sudah ready oke?" "Siap bos", jawab Aina sambil mengangkat tangan hormat. Begitu Maya berangkat, Arik juga sudah selesai dengan pudingnya. Dia kembali ke kamar mengambil tas sekolahnya, tak lupa memasukkan beberapa mainan yang paling disukanya. " Sebentar, ini mainan siapa Arik?" tanya Aina melihat rubik segitiga di tangan anak itu. "Punya Arik ma". "Dibeliin ante Maya?" Arik hanya menggeleng sebagai jawaban. "Trus?" "Dikasih om ganteng", jawab Arik enteng. "Om Rian maksud kamu?" Aina semakin penasaran. Lagi-lagi Arik hanya menggeleng. "Ini ucapan terima kasih karena Arik bantu ambil in kacamata om ganteng yang jatuh, aneh deh ma, masa om itu peluk Arik, lamaaa banget", celoteh anak itu polos. Deg, hati Aina mendadak tidak tenang. Dia takut Arik diculik, dilukai atau dijahati orang tak dikenal. " Arik, lain kali kalau ada orang asing, jangan berani dekat-dekat ya, nanti mama minta ibu Susi supaya lebih mengawasi Arik". Arik mengangkat bahu cuek mendengar kekhawatiran mamanya. Selesai Arik bersiap, puding karamel ibu juga sudah di packing rapi. Aina dan Arik menuju taman kanak-kanak tempat Arik sekolah dengan motor maticnya. Sementara puding yang dimasukkan ke dalam box, diikat dijok belakang. Sebelum pergi Aina benar-benar berpesan dengan bu Susi untuk lebih mengawasi Arik. Melarangnya mendekati pagar sekolah dan berinteraksi dengan orang asing. Aina gegas menuju hotel tempat Maya bekerja, karena ponsel Aina sedari tadi tidak berhenti berdering tanda Maya diseberang sana benar-benar sudah tidak sabar. Aina menghembuskan nafasnya selesai memarkirkan motornya di tempat parkir hotel. Buru-buru ia mengangkat box berisi puding itu menuju lobi. Sialnya baterai ponselnya sudah habis, sehingga untuk menghubungi Maya dia kesulitan. Aina sedikit bingung harus bagaimana sesampainya di hotel, ini pertama kalinya dia ke tempat Maya bekerja itu. Melihat Aina yang kebingungan seorang laki-laki berdasi dan jas rapi dengan name tag "Burhan Suseno" menghampirinya. "Ada yang bisa saya bantu nona?" sapa laki-laki itu ramah. "Ah ini saya mau mengantar pesanan untuk Maya, dia asisten restauran manager", Aina sedikit lega ada yang bisa dimintanya bantuan. "Mari ikut saya," laki-laki itu menunjuk jalan dengan tangannya dengan sopan dan mengambil bawaan Aina. Dia berjalan lebih dulu ke arah lift disusul Aina di belakang. Beberapa karyawan hotel nampak memandangi Aina dari atas sampai bawah. Bahkan ada yang berbisik-bisik. Aina ikut memandangi dirinya, rasanya tidak ada yang aneh dengan pakaiannya. Dia jadi merasa risih. Sebelum memasuki lift Aina bersuara. "Ehmm, Bisa saya mempercayakan pesanan ini kepada Anda? Biar saya pulang saja, tidak perlu bertemu Maya, saya akan menelponnya setelah mengisi daya ponsel di rumah", ucap Aina. " Tidak, Anda harus mengantar pesanan ini sendiri, saya sendiri sejujurnya tidak tahu mana karyawan disini yang bernama Maya," ucap laki-laki itu tegas. "Jadi, anda mau mengantar saya kemana?" tanya Aina mulai tidak enak hati. Lelaki itu tersenyum simpul, "Jangan takut, saya tidak akan berbuat macam-macam, saya akan mengantar anda ke ruang karyawan". Aina jadi tidak enak hati, mendengar ucapan laki-laki itu seolah bisa membaca pikirannya. Dia pun ikut saja ke dalam lift tanpa bantahan lagi. Setelah sampai entah di lantai berapa Aina tidak melihat dengan jelas. Hanya saja, dia merasa tempat itu terlalu mewah untuk ruang karyawan. Ah mungkin begitulah standar hotel ini pikir Aina lagi tak mau berpikir aneh-aneh. "Silakan masuk ke ruangan itu nona, saya akan menunggu di situ", ucapnya sambil menyerahkan box puding kembali pada Aina dan meninggalkan Aina menuju arah meja kerjanya di sudut ruangan. Tanpa curiga Aina masuk ke ruangan itu setelah mengetuk dan tidak ada jawaban. Dengan langkah pelan Aina masuk dan melihat tidak ada siapa-siapa di ruangan luas itu. " Maya.." panggil Aina pelan sembari melihat ke sekeliling ruangan yang tampak elegan dan rapi. Merasa tidak ada orang dia ingin berbalik dan keluar dari ruangan itu. Namun sebelum dia berbalik tiba-tiba ada sepasang tangan besar yang memeluknya dari belakang. Wangi parfum ini adalah yang sangat indra penciumannya kenal. Wangi yang sudah lama tidak tercium olehnya. Aina mematung, dia menggenggam erat box puding menahan gemuruh dihatinya. "Saya rindu kamu, Aina..." suara berat itu begitu dekat dengan telinga Aina, bahkan hidungnya juga menempel di lehernya. "Julian", Aina bergetar hebat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN