"Saya rindu kamu," suara berat itu begitu dekat dengan telinga Aina, bahkan hidungnya juga menempel di lehernya.
"Julian!" Aina bergetar hebat. Mencengkeram box puding di tangannya.
Aina terpaku ditempatnya. Kakinya gemetar. Sampai ketika ciuman basah itu mendarat tepat di lehernya, kesadarannya seolah ditarik kembali.
Sekuat tenaga Aina melepas pelukan itu. Dia berontak dan berbalik menatap Julian nyalang.
"Apa yang kamu lakukan?" Aina sedikit berteriak.
"Memeluk istri yang berani melarikan diri dari suaminya", balas Julian santai. Kakinya mendekat ke arah Aina seiring langkah mundur Aina.
Dua hari ini dia sudah menahan diri untuk tidak menemui Aina. Melihat respon wanita itu saat bertemu di pantai, membuatnya harus memikirkan cara agar Aina bisa di dekatnya dan tidak lari lagi. Walaupun penolakan yang akan dia dapat. Tapi bukan Julian namanya, yang keinginannya harus dipenuhi. Apalagi dia sudah menunggu selama lima tahun ini.
"Bukankah kita sudah berakhir, jangan mengusik kehidupanku lagi Julian".
Julian agak terusik dengan perkataan Aina, selama ini dia sudah menahan kerinduannya. Dia tidak terima penolakan.
"Siapa bilang kita sudah berakhir, kita belum bercerai, bukankah ada tali kuat yang mengikat kita", smirk itu muncul di wajah tampannya.
Aina mundur dua langkah, pikirannya langsung tertuju kepada Arik buah hatinya. Dan pernyataan Julian bahwa mereka belum bercerai, benarkah? Bukankan itu yang diinginkannya selama ini. Surat cerai sudah Aina tanda tangani sebelum dia pergi. Lantas kenapa sekarang Julian justru mengelak.
Seiring dengan langkah mundur Aina diikuti dengan langkah maju Julian, rahangnya mengeras.
"Saya sudah bilang akan menjemputmu, kenapa kamu pergi?" Apa kamu sengaja mau memisahkan saya dan anak saya, hmm?" ucapan Julian terdengar lembut tapi sangat menusuk di telinga Aina.
Julian sudah memerangkap tubuh Aina dengan meja kerja dibelakang tubuhnya. Tangannya membelai lembut pipi Aina.
Aina menepis tangan Julian dan tersenyum simpul, "bukankah dulu kau tidak mengakuinya? kau juga tidak menganggapku sebagai istri bukan?" Aina menarik nafasnya kemudian kembali berujar .
"Berbahagia lah dengan wanita yang selama ini kau inginkan Julian, jangan ganggu aku dan anakku laammppphh".
Julian membungkam Aina dengan bibirnya. Ciuman lembut itu mendarat sukses di bibir merah muda Aina membuat dia terkesiap dengan tindakan Julian yang tiba-tiba. Aina hanya mampu terpaku, matanya membola, bibir Julian terus mencumbunya semakin dalam dengan sebelah lengan Julian menahan tengkuk Aina. Aina melepas paksa ciuman itu. Menghapus jejak ciuman itu dengan kasar. Dadanya naik turun menahan gemuruh di hatinya. Aina benci Julian setengah mati.
Mata Aina dan Julian saling menatap. Ada banyak kata yang tidak bisa mereka ungkapkan. Kebencian, kekecewaan sekaligus kerinduan. Aina merasa sesak berada di dekat lelaki ini. Aina ingin menjauh.
"Ayo kita bicara Aina," pinta Julian.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas sejak dulu."
Aina mendorong tubuh Julian dan melaluinya. Dia bukan lagi Aina yang dulu. Yang penurut dan diam saja saat disakiti. Dia berjalan mendekati pintu. Namun sebelum dia membuka gagang pintu itu, ucapan Julian menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau inginkan agar mau kembali pada saya?"
"Untuk apa? kau ingin tawar menawar denganku?" sinis Aina.
"Saya tidak peduli apa yang kau pikirkan, saya hanya menginginkan kita kembali bersama, kamu dan anak kita!" walau terdengar seperti permohonan, tapi Julian mengatakan nya dengan datar, khas seorang Julian.
"Tidak, terima kasih tuan Julian. Cukup sudah kebodohan yang ku lakukan dulu. Aku tidak akan pernah sudi bersamamu lagi".
Aina pergi meninggalkan ruangan itu menuju lift dan turun kembali ke lobi. Luruh sudah airmata yang ditahannya sejak tadi. Aina tidak ingin menangis di depan Julian, dia tidak ingin terlihat lemah di depan laki-laki itu. Sementara Julian mengepalkan tangannya, dia tidak pernah ditolak. Dulu untuk menatap mata Julian saja, Aina tidak berani. Tapi sekarang bahkan wanita itu menatap nyalang ke arahnya penuh kebencian. Apa sebesar itu kesalahannya pada Aina. Ahh, Julian benci semua tidak berjalan sesuai keinginannya.
***
"Ainaa, dari mana aja, hampir saja aku dipec...", belum selesai kalimat Maya, dia melihat raut wajah muram dan mata sembab dari Aina.
"Maafkan aku Maya", ucap Aina menyerahkan box yang sedari tadi di peluknya. Aina berlalu dari hotel itu meninggalkan Maya yang kebingungan.
Sedangkan Julian yang memantung dari balik jendela memandang kepergiannya dari jauh. Julian menyentuh bibirnya, mengingat kembali lembutnya bibir istrinya yang sangat dirindukan. Dia berpikir cara untuk mendapatkan Aina kembali. Aina bukan gadis penurut seperti dulu lagi, ada luka dihatinya yang harus Julian sembuhkan.
"Kau harus kembali sayang".