9. Girls Talk

804 Kata
"O M G" teriak Maya histeris seraya melotot dan menutup mulutnya. Karena khawatir melihat Aina yang keluar dari lift dengan mata berair, Maya menyusul Aina pulang. Dia takut terjadi sesuatu kepada Aina. "Jadi, bapak Julian Malik Djuanda itu suami kamu? Papa kandungnya Arik?" Maya masih menggebu-gebu tak percaya. Aina hanya menjawab dengan anggukan. "Ehmm, mantan suami!" Aina berdiri membelakangi Maya sambil memasang kancing seragam minimarketnya. "Dia itu pemilik hotel tempat aku kerja Aina, bos dari Djuanda corporation group, hotelnya ada dimana-mana tau?" "Trus?" Aina tidak mengerti dengan ucapan Maya. Dia masih mematut dirinya di depan cermin. Menata rambut dan memakai bedak tipis. "Pantas kemaren pak Burhan sekretarisnya pak Julian jadi banyak tanya, padahal biasanya irit bicara. Tanya soal keluarga aku, sekolah, rumah, nggak taunya mengorek informasi tentang kamu." "Berarti kamu itu ibu bos, orang kaya, uang kamu nggak bakal habis tujuh turunan", sambung Maya semangat, dia seperti mengumpulkan puzzel ingatannya yang terpisah "Aku bukan ibu bos, kami sudah berpisah lima tahun lalu. Aku cuma karyawan minimarket biasa, bos Rian baru bos aku", balas Aina santai, dia sudah tidak lagi menangis, terhibur dengan tingkah Maya yang berlebihan itu. Aina sudah menceritakan kejadian tadi siang kepada Maya dan siapa sosok Julian Malik Djuanda itu, minus adegan ciuman pastinya. "Ini orang otaknya kecebur di pantai apa ya? Pak Julian mau balik sama kamu, kalau kamu sama bos Julian kamu bisa hidup bahagia se-la-ma-nya, ngga perlu capek-capek kerja, buang-buang uang juga kamu capek, nggak habis-habis soalnya", cerocos Maya penuh penekanan sambil menyatukan kedua tangannya di pinggang. "Kebahagiaan nggak selamanya bisa dibeli dengan uang Maya, buat apa banyak uang kalau tiap hari makan hati", balas Aina retoris. "Halah, selama ini kamu kerja siang malam, buat apa coba? Buat cari uang kan, biar bisa hidup enak", Maya masih sengit menyampaikan pendapatnya. "Untuk Arik, May, semua untuk dia, biar bisa sekolah di tempat yang bagus sampai kuliah, makan yang sehat tiap hari, tidak kekurangan." Raut Aina berubah serius. Wajah cantiknya terlihat tenang mengatakan kalimat itu namun matanya terlihat mulai memerah. Melihat perubahan wajah Aina, Maya menyadari kalau mungkin dia sudah keterlaluan. Dia menghembuskan nafasnya lelah. "Enak banget jadi kamu Na, ditaksir dua cogan sekaligus. Satu Turki, satunya Korea", celetuk Maya asal. "Hmm?" "Pak Julian kaya, ganteng, berwibawa, muka orang Turki. Dokter Rian pekerja keras, manis, cute, ramah, kaya orang Korea", Maya tersenyum malu menyebut nama dokter Rian. "Bagi aku satu kek Na", cicit Maya lagi sambil menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Akhirnya tawa Aina pecah juga. Berbicara dengan Maya memang membuatnya selalu terhibur. "Bukannya kamu sama bos Rian selalu berantem kalau ketemu", goda Aina. "Ck dia aja suka ngatain aku, nah itu nilai minusnya dokter Rian, mulutnya lemes, pedes lagi." Maya mengubah raut wajahnya manyun. Aina tak berhenti tertawa. Menampilkan lesung pipinya. Dia sudah selesai mematut dirinya. Aina hanya memoles make up tipis di wajahnya. Mengikat rambutnya ke atas. Menyisakan sedikit anak rambut. Tapi sudah berhasil mendapat pujian dari Maya dalam hatinya. Pantas saja dua laki-laki itu menyukai Aina. Walaupun penampilannya sedehana tapi dia tetap terlihat mahal, anggun dan mempesona. Maya sebagai sesama perempuan saja mengakui itu. "Ih kenapa jadi ngomongin aku sih, kembali ke topik awal, jadi bener kamu nggak mau kembali ke pak Julian?" oceh Maya lagi. "Iya Maya, aku yakin seyakin-yakinnya, puas?" "Nggak dipikir dulu? Pikirin juga Arik, Na, jangan terbawa emosi kalau memutuskan sesuatu". Aina terdiam mendengar nasehat Maya. Benar, satu hal yang Aina lupa, Arik. Anak itu memang tidak pernah bertanya tentang papanya. Tapi Aina tahu dari sorot matanya saat melihat teman-temannya ketika bersama papa mereka. Selama ini sosok Rian memang hadir mengisi kekosongan itu sesekali, tapi tetap saja itu berbeda. Aina menghembuskan nafas lelah. Dia tidak ingin berpikir masalah ini untuk sementara. "Ah sudahlah May, capek bahas ini. Aku pergi kerja dulu," ucap Aina berlalu meninggalkan kamar dan Maya di dalam. "Dasar cewek keras kepala", ucap Maya seraya menghempaskan badannya di kasur. Diluar kamar, Aina melihat Arik dan ibu sedang menonton TV. Arik masih memutar-mutar rubik segitiganya, sambil sesekali menengok acara TV. "Bu, Aina berangkat kerja dulu ya?" sapa Aina sambil mengulurkan tangan bermaksud menciumnya. "Iya, hati-hati, pulangnya nggak usah mampir-mampir nanti kemalaman", balas ibu menjabat tangan Aina lembut. Aina mengangguk dan tersenyum manis. "Arik, mama pergi dulu ya, boboknya jangan kemalaman, besok kan sekolah," ucap Aina berpamitan kepada buah hatinya itu. Arik mendongak menatap Aina sebentar dan mengangguk. "Nggak mau peluk mama?" ucap Aina memelas. Arik bangkit dan memeluk sebentar mamanya itu. Aina mencium gemas pipi Arik. Arik sedikit menghindar, selama ini dia memang tidak suka dicium. Katanya "malu, sudah besar". "Kamu mau mama bawain apa?" Arik melihat ke atas nampak berpikir, namun sedetik kemudian menggelengkan kepalanya. Aina mengacak pelan rambut Arik dan berbalik menuju pintu. Tapi tiba-tiba Arik bertanya dengan suara pelan namun masih bisa di dengar jelas oleh Aina dan ibu yang ada di ruang TV. "Ma, apa benar papa sudah pulang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN