Tak jauh dari rumah sederhana yang tampak asri itu, mobil sedan hitam sedari tadi tak bergerak terparkir tepat di depannya. Didalamnya dua orang laki-laki dengan intens mengawasi pergerakan dari rumah itu.
"Burhan, informasi apa saja yang kamu dapatkan?" tanya Julian tanpa menoleh ke arah Burhan yang duduk di balik kemudi, matanya tak berkedip menatap ke arah rumah.
Ya, sejak siang hingga petang, kedua laki-laki itu sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah yang ditinggali Aina.
Burhan menarik nafas sebelum melaporkan informasi yang didapatnya dari Maya. Tidak sulit mengorek informasi dari gadis itu yang memang banyak bicara, tanpa curiga sedikitpun.
"Nyonya bekerja di sebuah minimarket, setiap pagi nyonya mengantar anaknya ke taman kanak-kanak dan menjemputnya ketika pulang. Lalu nyonya juga selalu mengantar kue buatan bu Hana ke toko-toko dan membantu belanja ke pasar. Kalau terkena shif malam di minimarket, maka siangnya nyonya membantu di cafe tak jauh dari hotel kita, Pak."
Laporan dari Burhan membuat Julian menarik nafas panjang. Ternyata hidup istrinya tidaklah mudah selama ini. Berjuang sendiri untuk anaknya yang mati-matian dipertahankannya.
"Oh ya, setiap akhir pekan nyonya juga mengajar anak-anak kampung membaca dan berhitung secara gratis," sambung Burhan lagi.
Garis lurus tercetak di bibir Julian, Aina tetaplah Aina yang dulu dia kenal, baik hati, lembut dan perhatian.
"Lalu apa kamu tau, dari mana Aina mengenal Maya dan keluarganya? Apa mereka ada hubungan darah?" rasa penasaran itu tak bisa Julian tutupi, bagaimana bisa Aina bersama anaknya terdampar di kota ini. Kalimantan, bukan tempat yang terpikirkan oleh Julian sebelumnya.
"Menurut cerita Maya, mereka bertemu dengan Aina di Jakarta saat Maya mengikuti wisuda sebelum pulang kesini. Hanya itu yang saya tau Pak, sepertinya mereka tidak ada hubungan darah".
Julian kembali menarik nafas panjang. Masih banyak pertanyaan dibenaknya yang belum memiliki jawaban. Sebelum bertanya lagi kepada Burhan, matanya menangkap sosok yang jadi bahan pembicaraan mereka sejak tadi keluar halaman dengan mengendarai sepeda motor maticnya. Aina nampak sudah terbiasa membawa kendaraan itu, yang Julian tau dulunya Aina tidak pernah pergi kemanapun kecuali dengan taksi.
"Ikuti dia Burhan", perintah Julian datar.
Punggung kecil Aina tak luput dari tatapan mata elang Julian yang menyiratkan kecemasan. "Apa dia tidak kedinginan? Apa pinggangnya tidak sakit? Bagaimana bisa dia berkendara tanpa memakai jaket?" rasa khawatir itu tiba-tiba saja muncul di benak Julian.
Dulu saat masih bersamanya, jangankan mengendarai sepeda motor, jalan kaki ke supermarket saja Aina bisa tersesat. Aina seolah harus bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup. Itulah yang selalu membuat Julian khawatir jika meninggalkan Aina sendiri saat bekerja. Dia selalu ingin cepat pulang melihat wajah istrinya. Tanpa dia sadari itulah cinta. Julian memang bodoh karena menyadarinya saat istrinya justru sudah pergi karena ulahnya sendiri.
"Menurutmu apa yang harus saya lakukan agar bisa kembali bersama dia?" Julian meminta saran.
Burhan nampak berpikir sejenak, kemudian kembali berucap, "Saya tidak tau masalah apa yang terjadi antara Bapak dan nyonya sebelumnya, tapi tak ada salahnya meminta maaf lebih dulu".
Perkataan Burhan masuk akal bagi Julian, dia bahkan belum meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Aina. Tapi selama hidupnya, Julian belum pernah melakukan hal itu.
"Dan.. perempuan biasanya suka kalau sedikit digombali, tidak ada salahnya sedikit menurunkan harga diri di depan wanita yang sedang ngambek," sambung Burhan sedikit terkekeh dengan ucapannya.
Julian yang selalu bersikap dingin dan terkesan angkuh itu, bisakah menggombal. Bahkan teman saja Julian hampir tidak punya. Tapi, apapun akan coba ia lakukan untuk bisa bersama Aina.
"Aina aku akan berjuang, mengambil hatimu kembali," batin Julian.
Burhan kembali bersuara memecah lamunan Julian.
"Apa Ibu ada menelepon anda?" tanya Burhan.
"Hmm, untuk sementara kontak saya yang lama tidak aktif. Hubungi saya ke kontak baru, dan jangan pernah memberitahukan kontak saya pada siapapun," peringat Julian tegas.
Burhan menarik nafas lelah, dia sudah kehabisan alasan untuk menutupi keberadaan Julian sekarang.
"Bu Ranty, Pak Hendra, Eyang, selalu bergantian menghubungi saya Pak. Saya sudah kehabisan kata-kata untuk berbohong."
"Banyaklah membaca untuk menambah kosakata mu," jawab Julian ringan.
Burhan menganga mendengar jawaban tuan mudanya itu.
"Nih Nona Bella menelepon lagi, saya merasa seperti operator sekarang, Pak," timpal Burhan sambil menunjukkan ponselnya ke arah Julian yang menampilkan nama 'Bella'.
"Blokir saja nomor itu," jawab Julian datar.
Hingga saat lampu merah menyala dan mereka menghentikan laju mobilnya persis di sebelah motor Aina berhenti. Julian dan Aina hanya di pisahkan sedikit jarak dan kaca yang membatasi. Julian menyentuh kaca tepat saat rintik air turun mengaburkan penglihatannya ke arah Aina.
Tuhan, ingin sekali Julian mendekap wanita itu. Menciumi nya. Menyalurkan segala rasa rindunya yang terasa menyiksa. Wanita ini semakin cantik di mata Julian, meski dengan tampilannya yang sederhana. Semakin Aina tidak mencoba menarik perhatian siapapun semakin Julian tertarik padanya.
Aneh memang, disaat semua wanita suka sela menyerahkan diri pada Julian, dia justru tertarik dengan wanita yang jelas-jelas menolaknya. Istrinya, Aina.
Hingga lampu hijau menyala, seluruh kendaraan mulai melajukan lagi kendaraannya. Begitu juga dengan kendaraan Julian dan Aina. Namun Aina tiba-tiba saja mengerem motornya mendadak hingga tergelincir karena jalanan yang basah. Dia hampir saja menabrak seorang remaja yang tiba-tiba menyebrang.
Jantung Julian seperti dipompa dengan kencang, dia refleks keluar dari mobil ingin menghampiri Aina yang malah menolong remaja itu tanpa memperdulikan dirinya sendiri di bawah gerimis.
Suara klakson dari belakang membuat Burhan terpaksa menepikan mobilnya agar pengendara lain bisa lewat. Julian menghalau kendaraan lain dengan tubuhnya untuk melindungi Aina yang baru mau mulai melajukan kembali kendaraannya setelah menolong remaja itu.
Julian kesal setengah mati dengan kecerobohan Aina. Tindakannya bahkan bisa membahayakan keselamatannya sendiri. Kini Julian akan terus merasa khawatir kembali dengan wanitanya ini. Aina masih tetap Aina. Wanita cerobohnya.