21. Janji

1065 Kata
Sesuatu yang basah menyentuh dahi Julian, mengusik tidurnya. Kepalanya masih berdenyut nyeri. Namun dia juga penasaran tangan siapa yang menyentuh hangat pipinya. Perlahan dia membuka matanya. Wajah cantik Aina berada tepat di depannya. Apa ini mimpi? Julian tidak percaya dengan penglihatannya. Dia berusaha bangun dengan sambil memegang kompres di kepalanya. "Kamu sudah minum obatnya?" Ya, itu bukan mimpi. Itu jelas suara Aina. Julian berdehem menetralkan perasaan senang di hatinya. "Belum." "Makan dulu, baru minum obatnya," meskipun terdengar datar, namun jelas sekali perhatian itu dari Aina untuknya. Aina meletakkan semangkuk bubur dan segelas air putih di atas meja di depan Julian. Kemudian mendudukkan bokongnya di kursi single samping Julian. Aina menatap Julian yang hanya diam saja tidak bergerak. Dilihatnya lelaki tampan di depannya ini tampak lemah. Pipinya agak tirus, matanya sungguh sangat jelas menampilkan kelelahan. Meskipun tak banyak merubah ketampanannya, namun terlihat jelas Julian memang sedikit lebih kurus dari waktu dulu. Selama dua hari di rumah ini, Julian mungkin tidak bisa beristirahat dengan cukup pikir Aina. Bahkan kursi panjang tempatnya tidur tidak mampu menampung tubuh tinggi Julian. Ditambah lagi pekerjaannya yang selalu di kerjakannya malam hari yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Karena siangnya sibuk bermain dengan Arik. Aina sebenarnya tidak ingin peduli. Tapi hati kecilnya tidak bisa dibohongi. Dia tidak bisa mengabaikan lelaki di depannya ini. Aina menarik nafas lelah. "Mau aku suapi?" "Kamu nggak kerja?" Julian malah mengalihkan pembicaraan. Aina mengambil mangkuk bubur itu kemudian menyendokkannya ke mulut Julian. "Berjuang juga perlu tenaga kan," Aina tidak menjawab pertanyaan Julian, tapi terus menyendokkan bubur ke mulutnya. "Buka mulutnya." Seperti terhipnotis Julian menatap mata Aina, dia pun membuka mulutnya dan hanya diam ketika disuapi hingga bubur habis. Aina menyerahkan gelas berisi air putih dan sebutir obat yang sudah di keluarkan dari bungkusnya. Julian meraih obat itu namun juga tidak melepaskan tangan Aina. Aina berusaha menarik tangannya, namun Julian semakin erat menggenggamnya. "Forgive me," bisiknya parau. Aina hanya diam dan sedikit tersenyum. Dia terus memasukkan obat ke mulut Julian dan memberikan air. "Kamu tidurnya di kamar aja, aku beresin sebentar kamarnya." Aina berdiri dan membalikkan badan menuju kamar. Namun Julian berhasil menariknya sehingga Aina terduduk ke pangkuan Julian. Tanpa jeda Julian memeluk pinggang Aina erat dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Aina. Aina merasa suhu tubuh Julian memang benar-benar panas. Bahkan saat masih bersama dulu Julian tidak pernah sakit. Aina berusaha melepaskan diri. Namun perkataan Julian menghentikan geraknya. "Beri saya waktu untuk membuktikan ke kamu kalau saya tidak pernah menceraikan kamu," pinta Julian. "Untuk apa semua itu Julian? Tidak akan ada bedanya. Kita juga nggak mungkin bisa bersama lagi." "Kenapa?" Julian mengernyit tidak suka namun semakin melesakan kepalanya ke leher Aina "Kamuu..." Aina ragu. "Hmmm?" "Kamu nggak kembali sama Bella? Anak kalian bagaimana?" Julian menjauhkan kepalanya dan sedikit membalik tubuh Aina. Menatapnya bingung. "Anak?" Aina mengangguk, "Anak kamu dan Bella." "Saya tidak punya anak selain Arik, Aina," protes Julian. "Dulu memang saya menginginkan Bella. Menurut saya dia orang yang selalu bisa membuat saya senang dan nggak kesepian. Lama-lama saya menyadari, bukan Bella yang saya butuhkan. Saya nggak butuh kehidupan hedonis yang tiap hari menghabiskan waktu untuk pesta dan hura-hura." "Tapi Bella hamil anak kamu kan?" Aina masih tidak percaya. "Bukan, anak produser di agensinya yang sudah punya anak dan istri," jawab Julian cepat. Aina menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tidak menyangka Bella orang yang seperti itu. Jadi selama ini apa dia juga sengaja ingin merebut suaminya. Tapi Aina tidak ingin terlalu terbuai, mengingat sikap buruk Julian dulu kepadanya, rasanya tidak mungkin sekarang Julian kembali padanya karena cinta bukan? Mungkin itu hanya rasa bersalah. "Saya akan cari tau siapa yang sudah berani bermain dengan saya." Kali ini Julian mengeraskan rahangnya. Dia benar-benar marah. Karena harus terpisah selama lima tahun dengan istri dan anaknya karena kesalahpahaman. Aina menangkup sebelah pipi Julian, kemudian berkata," Oke, aku tunggu berita dari kamu. Tapi sebelumnya, aku mau kamu pindah dari rumah ini. Kam..." "Kenapa? Saya nggak mau pisah lagi sama kamu dan Arik," Julian mengeratkan kembali pelukannya. Kali ini wajah Aina di d**a bidangnya. "Kamu boleh tiap hari main ataupun jalan sama Arik. Kamu juga boleh ke sini tiap kali kamu mau. Tapi please, jangan tidur atau menginap di rumah ini. Aku nggak enak sama tetangga." "Ck, memangnya kenapa? Saya suami kamu." "Kamu kan sudah janji mau membuktikannya dulu tadi," Julian mendengus tidak suka. Kemudian wajahnya kembali datar dan menatap Aina dalam. "Aina?" "Mmm" "Apa kamu masih mencintai saya?" Deg Entah mengapa itu pertanyaan sulit untuk Aina jawab. Padahal dia sudah tau jawabannya. "Aku nggak tau," jawabnya cepat. Julian mengangguk. "Oke, ini mungkin terlalu cepat buat kamu, saya memang harus memberi kamu ruang dan waktu. Dan saya akan merebut kembali cinta kamu itu." "Ya, memang seharusnya ki hmmppp," Julian membungkam bibir Aina yang sedari tadi menggodanya, ditambah posisi mereka yang sedekat ini, Julian tidak akan tahan. Julian melumat bibir itu penuh nafsu dan tanpa ampun. Menjelajahi seluruh ruang di mulut Aina dengan lidahnya. Menyesapnya dalam. Julian benar-benar dimabukkan olehnya. Aina memukul-mukul d**a Julian tak bisa bernafas. "Kamu banyak bicara sayang..." ucap Julian sambil menghapus bibir basah Aina dengan jarinya. Aina tersengal-sengal. Dadanya naik turun menghirup rakus udara untuk bernafas. "Orang sakit masih bisa senafsu kamu ya?" ketus Aina kesal. "Bisa! Ayo kita buktikan!" Julian mendorong tubuh Aina agar terlentang. "Eit, stop stop!" Aina mendorong tubuh Julian. "Satu lagi, aku mau kamu janji tidak ada kontak fisik sebelum bukti kamu akurat! Aku masih ragu untuk status suami istri seperti yang kamu bilang," Aina benar-benar akan lari kalau perkataannya ini tidak didengar oleh julian. "What? Seriously?" "Hei, aku nggak mau kamu salah paham ya, kita belum baikkan, aku belum menerima kamu!" Julian mengacak rambutnya frustasi. Hah, kenapa dia tidak sakit yang lebih parah saja agar Aina lebih iba padanya dan mau bersama lagi. "Makanya kamu berjuang lebih keras lagi, jangan asal sosor aja. Sehat dulu baru bisa mikir ya kan?" kali ini Aina bisa membebaskan diri. "Oke, bersiaplah kecewa karena ternyata kamu salah. Secepatnya saya akan buktikan sama kamu. Pegang janji saya Aina." Kali ini Julian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Aina untuknya. Dulu dia sudah banyak menyakiti hati Aina, sekarang waktunya dia membayar semua itu. Aina berdiri dan membereskan bekas makan Julian tadi. Kemudian kembali sambil merapikan baju dan rambutnya. Semua tidak luput dari tatapan Julian. "Tidur di kamar aja, aku mau ke minimarket," Aina mengambil sling bag nya dan berjalan ke arah pintu. Julian tersenyum senang kemudian berkata, "As you wish, queen."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN