Semilir angin pantai berhembus halus menerbangkan rambut hitam sebahu gadis ceria di depan Burhan. Dia nampak tidak sabar menunggu potongan cumi yang di panggang di atas grill itu matang.
Dua hari bekerja bersama gadis itu membuat sedikit kekakuan di antara mereka terkikis. Maya seorang sekretaris yang cepat belajar. Banyak pekerjaan Burhan yang sedikit terbantu karena kehadirannya.
Pantai Ujung pandaran dan Eka Maya tampaknya memang dua hal yang serasi. Senyum gadis itu tak henti terkembang.
Sepulang meninjau keadaan proyek dan berdiskusi sebentar dengan kontraktor, Burhan dan Maya memilih kembali ke resort menikmati makan siang mereka bersama karyawan lain tentunya.
Sebenarnya Maya dan Burhan tidak harus menginap di sini hanya untuk memantau proyek. Ini tentu saja akal-akalan sang bos yang secara halus menyingkirkan Maya dari rumah agar digantikan dengan dirinya. Julian hanya merasa kehadirannya di rumah itu akan membuat Maya tidak nyaman. Dan hanya alasan untuk memuluskan usahanya untuk merebut hati istrinya.
Burhan jadi tersenyum sendiri mengingat tingkah aneh bosnya yang kaku itu.
"Bapak kok senyum gitu, saya norak ya?" Maya sadar akan sikapnya yang dari tadi membolak balik cumi tidak sabaran.
"Ck berapa kali saya harus bilang, jangan panggil 'Bapak' kalau diluar jam kerja. Kesannya saya tua banget. Padahal kita cuma beda dua tahun kan."
"Tetap aja nggak enak didengar karyawan lain pak," Maya mendekat sedikit berbisik sambil melihat ke sekeliling.
"Kamu sekretaris, saya asisten bos, beda tipis kan".
"Tetap aja, Bapak senior saya," Maya tetap tidak mau kalah.
"Eh, ngomong-ngomong rahasia Bapak bisa betah kerja sama Pak Julian apa ya? Dia kan agak galak, sedikit sombong, nggak bisa dibantah, suka nyuruh-nyuruh. Yah, walaupun gantengnya kebanyakan..." seloroh Maya.
""Karena gajinya gede," jawab Burhan santai sambil meminum jusnya.
"Wah, berati Bapak sekarang mapan ya karena sudah bertahun-tahun kerja, sudah siap berumah tangga berarti itu. Sudah ada calonnya kan Pak?"
Oke Maya mulai kelepasan. Bicara kelewat santai dengan atasannya ini.
Burhan menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum mengejek.
"Belum, saya belum ada calon. Kamu mau jadi calon saya?"
"Uhhuk uhuk uhuk"
Maya meraih gelas berisi air di depannya kemudian meminumnya hingga tandas. Burhan justru tertawa melihatnya. Pipi Maya sedikit memerah mendapat serangan tak terduga dari Burhan. Entah itu hanya bercanda atau serius.
Drrttt
❤️ RianQ calling...
Big Boss calling...
Handphone keduanya sama-sama bergetar menandakan ada panggilan masuk. Keduanya meraih ponsel masing-masing kemudian saling pandang sebentar dan sama-sama tersenyum.
"Kayaknya kita emang cocok deh May, gimana kalau kita coba dulu?" Burhan menaik turunkan kedua alisnya.
"Emang baju di coba?" ketus Maya seraya menjauh mengangkat panggilan itu.
Burhan kembali menatap layar androidnya dan menggeser tombol hijau.
"Ya, Pak Julian?"
"Burhan, Saya mau kamu pulang sekarang juga ke Jakarta, ada sesuatu yang kamu harus selidiki," perintah Julian tegas tanpa ingin bantahan meskipun suaranya terdengar agak parau di telinga Burhan.
Apa bosnya ini sedang bercanda? Baru saja Burhan kelimpungan memesan berbagai mainan dan belum setengah jam bersantai. Dia sudah mendapat tugas baru lagi dari bosnya. Burhan menarik nafas panjang.
Lagi-lagi, Burhan hanya bisa pasrah sebagai seorang bawahan. Tidak mudah baginya bekerja dengan seorang Julian Malik Djuanda. Namun banyak pengalaman berharga dipelajarinya dari seorang Julian.
Yah selain sekarang mencari pekerjaan cukup sulit dengan gajih sebesar dirinya sekarang. Namun di sisi lain Burhan juga merasa bangga mendapat kepercayaan penuh dari bosnya itu.
***
"Kenapa telpon-telpon?" suara Maya tanpa ba bi bu.
"Ck, kamu dimana sih?" Rian di seberang sana nampak semakin kesal.
"Kenapa kamu?" Maya tak menjawab pertanyaan Rian.
"Kenapa sih si beruang kutub itu nempelin Aina melulu? Mereka kan sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi? Mana Arik bela-belain dia juga. Pakai nggak mau di ajak jalan, kan Aina ikutan nggak mau."
Rian sebenarnya ragu dengan kalimat terakhirnya itu, namun dia coba meyakinkan diri dan kembali berkata, "Kalau bukan karena Aina, aku sudah hajar tuh beruang sampai balik ke Jakarta."
"Whahaa Julian, nama beruang itu Julian. Beruang beruang gitu dia CEO loh..." Maya tergelak hebat.
"Nggak lucu Eka Maya."
Maya berusaha meredakan tawanya.
"Oke oke, denger ya dokter Rian, mereka itu ada masa lalu yang belum selesai. Ada Arik diantara mereka yang selalu jadi pengikat. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dulu, seperti yang aku sama Ibu lakukan. Beri mereka waktu."
"Ck, keburu diserobot Ainaku..." Rian benar-benar frustasi.
'Ainaku?' Ada sedikit rasa getir di hati Maya, namun buru-buru ditepisnya.
"Aku tau kamu suka sama Aina..."
"Cinta," Rian buru-buru mengoreksi.
"Iya, bucin, tapi kamu harus percaya sama Aina, kalau memang dia takdir kamu, suatu saat akan berdiri tuh banner dengan tulisan Rian Nugraha dan Aina Adriana selamat menempuh hidup baru..."
Senyum itu kembali terbit di bibir Rian. Entah kenapa setiap berbicara dengan sahabatnya ini dapat sedikit menenangkannya. Padahal jika di tempat kerja dia tidak pernah bersikap kekanak-kanakan seperti pada Maya.
"Ohh ya? kamu bisa aja menghibur aku May hehehe" Rian mengulum senyum.
"Traktir pizza nanti tuh! Eh sudah dulu ya, atasan aku nungguin lama."
"Bentar dulu, kamu dimana memangnya? Kok nggak kelihatan dari kemaren."
"Di tugasin Pak Julian, mantau proyek resort di Ujung Pandaran," Maya tersenyum bangga dengan pekerjaan barunya itu.
"Hah, nginep? Sama siapa?"
"Iya rencana seminggu di sini. Sama Pak Burhan asistennya bos Julian." jawab Maya sekenanya.
"APA? Jangan bercanda kamu May!"