Rizki langsung membaca pesan dari Jeslin di ponsel Edward yang bertuliskan, Tiba-tiba aku merindukan Rizki dan ingin sekali memeluknya, bisa kamu ajak Rizki ke apartemen saat pulang nanti? Bukan aku yang mau, tapi anak kita. Aku tidak mau jika keinginannya tidak dituruti. “Aku tidak mau!” jawab Rizki tegas sambil meletakkan ponsel Edward. “Kamu pikir aku mau?!” balas Edward masih dengan nada ketus sambil berkacak pinggang di depan meja Rizki. “Lalu kenapa kamu memberitahu aku?” “Anakku yang mau. Aku tidak mau Jeslin marah padaku hanya karena tidak bisa membawamu pulang!” “Edward, yang benar saja! Jeslin itu is— maksudku keka— ck! Aku bingung harusnya menyebut apa,” ujar Rizki saat kesulitan menyebutkan status Jeslin bagi Edward. “Sebut saja dia milikku!” jawab Edward dengan lirikan s

