“Aku sudah lama tidak menghukum bibir ini. Apa rasanya masih sama? Atau sudah sedikit berbeda karena kamu terlalu banyak mencari hiburan dari berbagai wanita?” ucap Kaifa dan berpikir Rizki tidak mengetahui cumbuannya kemarin malam. “Aku tidak pernah menyentuh wanita mana pun!” “Kita buktikan!” “Fa, jangan di sini!” cegah Rizki sebisa mungkin dengan nafas tercekat, menahan gairah. Ia takut tidak bisa mengendalikan diri karena ia juga sudah cukup lama tidak meluapkan hasratnya. “Berhenti mengatur dan mengambil keputusan atas diriku! Aku yang pegang kendali saat ini. Kamu cukup diam dan ikuti permainanku!” Nada bicara Kaifa semakin sensual dengan nafas memburu. Rizki dapat melihat dengan jelas hasrat yang menggebu dari mata Kaifa. “Aku sangat merindukanmu,” bisik Kaifa di telinga Rizki

