Setelah bisa menghentikan tangis harunya, Rizki segera membangunkan Kaifa dengan lembut. “Fa, bangun, kita sudah sampai!" Kaifa tidak bergerak sedikit pun dan tetap terlelap dalam tidurnya. “Kamu pasti sangat lelah sampai tidur sepulas ini. Apa setiap hari kamu seperti ini? Pulang larut malam karena jalan kaki dan kurang istirahat.” Rizki membelai wajah Kaifa dengan sayang. “Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak tega membangunkanmu, tetapi aku lebih tidak tega lagi melihatmu tidur di sini terlalu lama.” Rizki dengan berat hati terpaksa membangunkan Kaifa agar mereka bisa segera pulang ke rumah masing-masing dan Kaifa bisa segera melanjutkan tidurnya di kasur. “Fa, bangun, Sayang,” panggil Rizki, lembut sambil menepuk pipinya. “Hmm ...,” sahut Kaifa. “Bangun, Sayang, kita sudah samp

