Berkunjung

2420 Kata
"Kita akan ke minimarket, sebentar.” “Untuk apa?” tanya Kaifa lagi. “Memangnya kamu tidak ingin membelikan sesuatu untuk ibumu?” “Tidak, Tuan. Saya sedang tidak ingin membelikan apa-apa!” tolak Kaifa halus. “Ya sudah, kalau begitu aku yang ingin membelikan ibumu sesuatu,” balas Rizki, sedikit memaksa. “Tidak perlu, Tuan. Saya sudah biasa pulang tanpa membeli apa pun.” “Aku yang belum terbiasa bertamu dengan tangan kosong.” Rizki tetap memaksa hingga Kaifa tidak bisa menolak lagi. “Baiklah,” ujar Kaifa pasrah. “Apa makanan kesukaan ibumu?” “Ibu saya suka martabak telur dan roti bakar keju, Tuan,” jawab Kaifa dengan antusias yang berbanding terbalik dengan penolakannya barusan karena mendadak ia ingin makan martabak telur begitu mendengar pertanyaan Rizki. “Apa kamu ingin membeli keduanya?” “Tidak, Tuan. Beli martabak saja.” “Kenapa?!” “Karena saya tidak suka roti bakar keju dan ibu pasti tidak akan bisa menghabiskan satu porsi sendirian, jadi lebih baik beli martabak telur saja karena saya lebih suka itu dan kami bisa menghabiskannya bersama.” “Ya sudah. Setelah dari minimarket, kita langsung membeli martabak.” “Baik, Tuan.” Lima menit kemudian Rizki memarkirkan mobilnya di depan minimarket lalu sama-sama keluar dari mobil. Saat di dalam minimarket, Rizki menyuruh Kaifa membeli bahan-bahan sembako. Bahkan, ketika Kaifa hanya mengambil satu macam produk, Rizki malah menambahkan lagi beberapa produk yang sama. Lalu saat Rizki membayar total harga barang yang mereka beli, Kaifa membelalakkan mata terkejut. “Tuan, apa ini tidak terlalu banyak?” “Apa delapan ratus ribu menurutmu banyak?” Rizki balik bertanya dan Kaifa membalas dengan anggukan cepat. Rizki hanya tersenyum kemudian mendorong troli keluar minimarket. "Baru saja mengeluarkan uang delapan ratus ribu, tapi dia sesantai itu. Apa menurutnya delapan ratus ribu itu sedikit?" gumam Kaifa lalu mengikuti Rizki keluar minimarket. Keduanya memindahkan barang yang mereka beli ke bagasi mobil, setelah itu mobil melaju pergi selama sepuluh menit dan kembali berhenti untuk membeli martabak sesuai keinginan Kaifa. Rizki membelikan Kaifa dua porsi martabak telur ukuran jumbo yang membuat Kaifa tersenyum lebar. Tepat pukul tujuh malam keduanya tiba di kediaman Kaifa. Pertama kali melihat rumah Kaifa, Rizki sedikit prihatin melihat bangunan yang hanya terbuat dari batu bata tanpa dilapisi semen atau apa pun dan lantai hanya terbuat dari semen tanpa keramik. Namun, begitu melihat ke bagian dalam, ia dibuat takjub melihat barang-barang keluaran lama yang tersusun rapi di tempatnya juga kebersihan yang terjaga. Tidak jauh dari Rizki membuka pintu, terdapat tiga kursi yang terbuat dari kayu dan satu meja kecil di tengah-tengah kursi. Di depan kursi terdapat meja yang lebih tinggi dari meja yang ada di tengah kursi kayu dan di atas meja tersebut terdapat satu buah televisi layar cembung dengan antena tepat di atasnya. “Mari, Tuan. Silahkan duduk.” Kaifa mempersilahkan Rizki yang sedang berdiri di pintu memperhatikan keadaan rumah. “Ya, terima kasih," balas Rizki lalu duduk. “Saya permisi dulu, Tuan. Saya ingin memanggil Ibu.” pamit Kaifa sambil membungkukkan badan. "Iya." Selama lima menit ditinggal, Rizki terus menatap ke sekeliling rumah dengan perasaan antara prihatin dengan bangunan dan takjub pada kebersihannya. Di samping kiri Rizki terdapat dua pintu kamar yang ia yakini adalah kamar Kaifa dan ibunya. Di samping kanan ada dua jendela berjajar rapi dengan kayu yang sudah keropos. Lalu di belakang kursi yang ia duduki terdapat tembok dan di balik tembok sepertinya bagian dapur karena, ia dapat mendengar dengan jelas suara gemercik air yang dituang ke dalam gelas. “Apa Kaifa semiskin ini?” pikir Rizki. “Ini, Tuan. Silahkan diminum tehnya,” tawar Kaifa menyuguhkan satu gelas teh dan sepiring martabak telur yang Rizki beli tadi. Rizki menghentikan kegiatan matanya yang terus memperhatikan keadaan rumah saat mendengar suara Kaifa. “Ke mana ibumu?” “Ibu sedang mandi, Tuan. Mungkin sebentar lagi selesai.” “Oh,” balas Rizki singkat lalu melihat apa yang Kaifa suguhkan. “Kenapa kamu memberikan aku martabak?” “Maaf, Tuan, saya hanya punya ini.” Kaifa tersenyum canggung karena merasa Rizki tidak puas dengan apa yang ia hidangkan. “Bukan begitu. Maksudku, kamu tidak perlu repot-repot menyuguhkan apa pun untukku.” “Tidak apa-apa, Tuan.” “Eh, ada tamu rupanya," sapa Tami saat keluar dari dapur. Melihat Tami datang, Rizki langsung berdiri untuk berjabat tangan. “Sore, Bu.” “Sore, Nak ...?” Tami bingung menyebutkan nama Rizki hingga menggantung ucapannya. “Rizki, Bu.” Rizki segera menyebutkan namanya saat memahami kebingungan Tami. “Ah, iya, Nak Rizki. Ada perlu apa datang kesini? Apa Kaifa kerjanya tidak benar, ya?” tanya Tami, khawatir. “Tidak, Bu, aku hanya kebetulan pulang siang hari ini dan melihat Kaifa di jalan, jadi aku berniat mengantarkannya pulang,” ucap Rizki. “Oh ... Ibu kira Kaifa bikin salah,” balas Tami sambil terkekeh. "Tidak, Bu. Kaifa cukup baik dalam semua pekerjaannya." "Syukurlah anak Ibu tidak membuat masalah." “Tuan, saya permisi dulu, mau ke belakang,” pamit Kaifa menyela obrolan Tami dan Rizki. “Ya, silahkan.” Kaifa bangkit dari duduknya dan meninggalkan dua orang berbeda generasi itu. Saat Kaifa tiba di kamar mandi, ia tersenyum sendiri membayangkan betapa sopannya Rizki saat berbicara pada ibunya hingga membuat kekagumannya semakin bertambah. “Tuan Rizki memang benar-benar lelaki idaman,” puji Kaifa saat membuka baju. Selama ditinggal Kaifa mandi, Rizki dan Tami asyik mengobrol dengan dominan Tami yang lebih banyak bertanya tentang kinerja Kaifa sedangkan Rizki menjawab apa yang dia tahu, tanpa berniat balik bertanya atau bercerita agar bisa memperpanjang obrolan. Setelah Kaifa selesai mandi, ia pun segera menuju ruang tamu. Namun, saja ingin duduk, Rizki malah pamit pulang hingga ia mengurungkan niatnya. “Sudah malam, saya pamit pulang, Bu,” pamit Rizki pada Tami. “Iya, Nak Rizki. Terima kasih sudah berkunjung ke rumah Kaifa,” balas Tami. “Mari, Bu.” “Ya, Nak Rizki.” Kaifa ikut berjalan bersama Rizki ke luar rumah. “Terima kasih, Tuan, sudah mau mengantar dan berkunjung ke rumah saya,” ucap Kaifa. Rizki tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Kaifa. “Kaifa, apa aku boleh bertanya?” “Boleh, Tuan, saya akan menjawab sebisa mungkin.” “Apa kamu betah kerja pada Omah?” Rizki dan Kaifa menghentikan langkahnya tepat di samping mobil. “Tentu betah, Tuan. Bahkan sangat betah.” “Lalu kenapa kamu selalu berusaha mencari pekerjaan lain, jika kamu betah bekerja dengan ibuku? Itu sangat merepotkanku," tanya Rizki dengan menunjukkan jelas kejengkelannya selama ini jika sedang mendapat perintah dari Dewi untuk menyabotase setiap kali Kaifa melamar pekerjaan. “Maaf, Tuan, kenapa saya merepotkan?” tanya Kaifa bingung karena ia merasa tidak merepotkan siapa pun jika sedang izin pada Dewi untuk melamar pekerjaan. “Sudah lupakan.” Rizki tidak mungkin memberi tahu Kaifa bahwa, selama ini ketika Kaifa akan melamar pekerjaan, ia langsung menyuruh anak buahnya untuk mendatangi pabrik atau perusahaan tempat Kaifa melamar pekerjaan dan memerintahkan untuk mem-blacklist namanya di tempat tersebut atas perintah Dewi agar tidak berhenti bekerja padanya. Kaifa mengerutkan bibir heran pada sikap Rizki yang mulai membahas masalah pekerjaan, tapi juga yang mengakhiri tanpa alasan jelas. “Kaifa, aku permisi dan terima kasih telah mengizinkan aku berkunjung ke rumahmu.” “Sama-sama, Tuan,” balas Kaifa ramah. Rizki langsung memasuki mobil lalu melaju meninggalkan Kaifa. ****** Begitu Rizki tiba di rumah, Dewi baru saja selesai makan malam bersama Iyam. Padahal, tujuan ia pulang cepat supaya bisa makan malam bersama Dewi, tapi malah terlewat lagi. Namun Rizki tetap menghampiri Dewi untuk ikut makan malam meskipun terlambat. “Malam, Mah,” sapanya. “Malam. Kamu sudah makan?” “Belum, Mah.” “Ya sudah, kamu mandi dulu, baru setelah itu makan. Mamah akan menunggumu di sini.” “Tapi aku sudah sangat lapar, Mah!” tolak Rizki. “Anak nakal! Ya sudah, makanlah, Mamah akan menemanimu.” Rizki langsung duduk dan mengambil piring untuk segera diisi dengan hidangan yang ada di meja. Sedangkan Dewi memakan buah apel yang baru saja Iyam kupas. “Kata Mang Didin, tadi sore dia melihat mobilmu di depan, tapi tidak masuk ke rumah. Kamu ke mana dulu?” tanya Dewi sembari mengunyah. “Tadi saat pulang aku melihat Kaifa keluar dari sini lalu mengatarnya pulang untuk silahturahmi.” Dewi seketika bersemangat dan antusias dalam obrolan bersama anaknya karena ini pertama kalinya Kaifa dan Rizki bersama dalam satu mobil dan berharap ada kabar baik yang terjadi diantara keduanya. “Benarkah? Lalu apa yang kalian bicarakan? Apa kalian membahas masa depan? Atau kalian membahasa masalah perasaan?” tanya Dewi semangat. “Mah, aku hanya mengantarnya pulang, bukan mengajaknya menikah. Untuk apa membahasa masa depan dan perasaan?!” sanggah Rizki halus meskipun merasa pertanyaan Dewi sangat konyol dan mustahil. “Iya, Mamah lupa. Kamu hanya mengantarnya pulang,” balas Dewi sendu. Hilang sudah semangat Dewi yang baru beberapa detik begitu mendengar jawaban Rizki yang menunjukkan tidak ada hal istimewa dalam perjalanan dia dan Kaifa tadi. “Mah, saat tiba di rumah Kaifa tadi, aku sangat prihatin dengan kondisi rumahnya. Jika dibandingkan dengan gudang penyimpanan barang bekas yang ada di rumah kita, itu jauh lebih bagus dari pada rumahnya," adu Rizki. “Apa separah itu?” “Iya, Mah. Apa perlu kita membantu merenovasi rumahnya?” “Dia pasti akan menolak jika kita membantunya.” “Kenapa? Apa dia termasuk orang yang besar rasa gengsinya?” “Bukan, jika dia tipe orang yang besar gengsinya tentu dia tidak akan mau bekerja jadi pembantu.” “Lalu, kenapa dia menolak jika kita membantunya?” “Dia tipe orang yang tidak mau diberi uang secara cuma-cuma. Jika Mamah sedang memberi upah lebih padanya, pasti dia akan bertanya kenapa Omah memberi Kaifa uang? lalu dia akan mengembalikan uangnya jika Mamah bilang Untukmu saja. Karena penolakannya itu, terkadang Mamah mencari alasan lain agar dia mau menerimanya.” “Sombong sekali, orang miskin berani menolak uang” batin Rizki. “Tapi, baru hari ini dia meminta uang pada Mamah, dan itu juga tidak cuma-cuma. Dia meminta upah di setiap pekerjaan yang dia lakukan. Apa dia sedang membutuhkan uang?” tanya Dewi pada anaknya yang jelas-jelas tidak tahu apa-apa. “Sudahlah, Mah, itu bukan urusan kita. Jika dia tidak mengatakan masalahnya, untuk apa kita memikirkannya?” “Tapi, semenjak ayahnya meninggal dua bulan lalu, dia sekarang jadi tulang punggung keluarganya. Mamah tidak tega melihat gadis semuda itu sudah jadi tulang punggung keluarga. Mungkin saja saat ini dia sedang sangat membutuhkan uang, tapi malu untuk mengatakan, jadi dia meminta tambahan upah di setiap perintah Mamah.” “Itu baru dua bulan, Mah, belum ada dua tahun atau dua puluh tahun. Lagi pula dia itu wanita, sebentar lagi mungkin akan ada pria yang menikahi dan tanggung jawabnya akan pindah pada suaminya, termasuk mencari uang, jadi Mamah tidak usah terlalu dalam memikirkan dia.” “Iya, kamu benar! ” Jawab Dewi, lesu karena merasa Rizki tidak bersimpati sedikit pun pada kesulitan Kaifa. “Mah, aku tidak mau Mamah banyak pikiran. Tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting untuk Mamah seperti mencemaskan kehidupan Kaifa!” ujar Rizki memperingati karena merasa ibunya itu terlalu berlebihan menyayangi seorang ART. "Iya, Mamah tidak akan memikirkan apa pun." Sepuluh menit kemudian Rizki bangkit dari duduknya setelah makannya selesai lalu kembali mengingatkan ibunya untuk jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan walaupun itu pembantu kesayangannya. “Ingat! Kaifa bukan siapa-siapa kita dan segala kesusahannya bukan tanggung jawab kita!” “Iya, Mamah tidak akan memikirkan apa pun,” balas Dewi. Rizki segera mendorong kursi roda Dewi menuju kamarnya untuk istirahat. “Istirahat ya, Mah. Aku sayang Mamah.” “Kamu juga istirahat,” balas Dewi. Rizki langsung mencium kening Dewi kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. ******** Sejak tiba di kantor pagi tadi, Rizki terus saja uring-uringan karena semenjak Bella pergi, dia belum memberi kabar sama sekali hingga membuat ia khawatir. “Kenapa Bella belum memberiku kabar? Apa terjadi sesuatu pada pesawatnya? Tapi jika terjadi sesuatu pada pesawatnya, tentu sudah menjadi pemberitaan di televisi. Tetapi, jika tidak terjadi apa-apa, kenapa Bella tidak menghubungiku?” Dan puluhan pertanyaan lainnya yang bersarang di kepala Rizki. Rizki bingung harus menghubungi Bella melalui apa dan siapa karena, sosial media pun Bella jarang aktif. Telepon juga tak kunjung dijawab. Beruntung, ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, Rizky berhasil menghubungi Bella lalu Bella berjanji akan menghubunginya jam satu siang waktu Indonesia. Dan sekarang Rizki sedang melakukan panggilan via skype dengan wanita yang membuatnya uring-uringan. “Hai!” sapa Bella. Rizki hanya membalas sapaan Bella dengan senyuman saat melihat wajah Bella yang baru bangun tidur, polos tanpa make-up, mengingat sekarang jam tujuh pagi waktu Paris. “Kenapa kamu tidak segera menghubungiku? Aku sangat khawatir terjadi sesuatu denganmu!” “Maaf, aku lelah sekali. Saat aku tiba di rumah, aku tidak bisa segera istirahat karena aku harus membereskan kamarku dulu yang terlalu banyak debu.” “Apa pelayan rumahmu tidak ada yang membersihkan selama kamu pergi?” “Tidak, aku tidak mengizinkan siapa pun masuk ke ruang pribadiku. Kalaupun mereka membersihkan kamarku, itu harus dalam pengawasanku. Lagi pula aku membawa kunci kamarku selama aku pergi, jadi tidak ada yang bisa masuk." Rizki sudah sangat paham dengan sifat kekasihnya yang merupakan pribadi tertutup, itu sebabnya Bella tidak terlalu aktif bersosmed di saat hampir semua manusia di jaman sekarang pasti menjadikan sosmed rutinitas tetap. Bahkan, beberapa manusia menjadikan sosmed sebagai kebutuhan hidup. Selain itu Bella juga bukan tipe orang yang mudah bergaul karena sifatnya yang pendiam. “Kenapa kamu paksakan jika lelah?” “Karena aku sangat merindukan kamarku,” ucap Bella sambil menempelkan pipi kirinya ke bantal yang sejak tadi ia pakai untuk menopang kedua sikunya dengan posisi tengkurap. Rizki tersenyum melihat tingkah Bella, tapi tiba-tiba senyumnya memudar ketika melihat raut wajah Bella yang seperti ingin muntah. Huek ... huek .... “Bella, kamu kenapa, Sayang?” tanya Rizki panik. Bella tak menjawab pertanyaan Rizki dan segera berlari ke kamar mandi yang ada di sudut kamarnya. Dari kejauhan Rizki mendengar suara Bella di kamar mandi yang sedang mengeluarkan isi perutnya sampai kembali ke tempat tidurnya dengan wajah pucat dan mata yang memerah. “Kamu kenapa, Sayang?” tanya Rizki dengan kekhawatiran yang terlihat jelas. “Entahlah. Mungkin karena aku kelelahan kemarin.” Rizki diam memikirkan alasan Bella yang menurut tidak tepat jika bangun tidur langsung mual karena kelelahan, tapi ia merasa tidak perlu mempermasalahkan hal itu dan tidak perlu juga dipertanyakan. "Kalau begitu kamu lanjutkan tidurmu dan harus banyak istirahat. Besok kamu harus menghubungi aku lagi." "Maaf, karena aku komunikasi kita pagi ini jadi terganggu." "Tidak apa-apa, aku mengerti." "Thank you." Rizki membalas dengan senyuman manisnya sampai Bella mengakhiri panggilannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN