Setelah panggilan mereka berakhir, senyum tak hilang dari wajah Rizki yang berbeda 180° dengan wajahnya tadi pagi. Seolah ia baru saja mendapatkan suntikan vitamin penambah semangat dari Bella.
******
Kaifa baru saja turun dari metromini yang membawanya sampai ke gang menuju rumah. Selama perjalanan, seperti biasa kegiatan Kaifa hanya menyanyi atau mengoceh. Namun, kali ini sedikit berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Suasana hati Kaifa sore ini lebih ceria dan semangat. Selain karena upah yang Dewi berikan hari ini, ia juga masih terbayang-bayang akan kejadian kemarin saat Rizki mengantarkannya pulang.
Sebenarnya tidak ada kejadian yang istimewa kemarin, bahkan selama di mobil keduanya sama-sama lebih banyak diam, hanya saja ia tidak menyangka bahwa, Rizki—tuan yang ia kagumi, mau mengantar pulang. Bahkan, mau singgah di rumahnya. hal yang ia pikir tidak akan pernah dialami.
“Pulang bersama dalam satu mobil, bukankah itu cukup romantis?” ucap Kaifa disela-sela khayalannya.
Sebagai seorang ART, Kaifa cukup sadar diri dengan perasaannya yang hanya sebatas mengagumi dalam diam saja, meskipun ada rasa kecewa saat mendengar hubungan Rizki dan kekasihnya akan ke jenjang lebih serius, tapi itu tidak merubah sedikit pun kekaguman yang sudah ada sejak awal-awal melihat pria yang paling sempurna di mayatnya.
Bagi Kaifa, bisa di sapa dan berinteraksi langsung dengan tuannya saja itu sudah sangat menggembirakan. Ia tidak pernah membayangkan akan bisa menaiki mobil bersama Rizki. Bisa berbelanja dan pulang bersama saja, sudah sangat di luar ekspetasinya.
Khayalan Kaifa buyar saat ia melihat banyak orang berkerumun di seberang depan rumahnya dan melihat ibunya ada di antara kerumunan itu
“Kenap ramai sekali? Apa ada yang meninggal?” gumam Kaifa.
Karena penasaran, Kaifa mengalihkan langkah yang seharusnya ke rumah malah memilih mendatangi ibunya untuk mencari tahu.
“Bu, kenapa ramai sekali?"
“Itu, Fa, temanmu Nenti baru pulang dari luar negeri. Bawa banyak barang-barang impor," jawab Tami.
“Nenti Pebrina, Bu?” tanya Kaifa menegaskan.
“Iya, Nenti Pebrina temen main kamu.”
Kaifa langsung berjinjit untuk melihat teman mainnya yang sudah empat tahun tidak bertemu sedang berada di tengah-tengah kerumunan.
Saat Kaifa berhasil melihat sosok Nenti disela-sela banyaknya orang, mata Kaifa langsung tertuju pada banyaknya perhiasan yang Nenti pakai. Dari mulai gelang, cincin, kalung, hingga gelang kaki. Bahkan jari kakinya juga memakai cincin.
Nenti adalah teman main Kaifa sejak kecil, mereka juga satu sekolah sejak SD. Ketika sama-sama lulus SMA dan mencari pekerjaan masing-masing, mereka sudah mulai jarang bermain dan bertemu lagi selain hari libur. Sampai akhirnya empat tahun lalu Nenti memutuskan untuk bekerja di Korea sebagai ART.
Tidak hanya perhiasan Nenti yang membuat Kaifa fokus, tapi juga kulit Nenti yang sekarang jadi lebih putih sehingga, membuat Nenti terlihat lebih muda dari usianya.
“Nenti cantik sekali," puji Kaifa penuh kekaguman.
Karena sudah terlalu lama berjinjit, Kaifa merasa pegal dan lelah. Selain itu, ia juga sudah sangat ingin istirahat di rumah. Maka, ia langsung mengajak Tami untuk segera pulang.
“Bu, Kaifa pegal, masuk, yuk!” ajak Kaifa sembari menarik Tami tanpa menunggu jawab darinya karena takut Tami menolak.
Begitu sampai di rumah, Kaifa dan Tami langsung melakukan kegiatan masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah mereka selesai, ibu dan anak itu segera menuju dapur dan duduk saling berhadapan di meja untuk makan malam.
“Bu, Nenti kelihatan cantik sekali, ya, sekarang,” ujar Kaifa sambil menyendok nasi.
“Biasa saja. Ibu malah lebih suka Nenti yang dulu dari pada yang sekarang.”
“Memang Nenti yang sekarang kenapa, Bu?” selidik Kaifa penasaran.
“Nenti yang dulu bajunya lebih sopan, kalau yang sekarang Ibu jijik sendiri lihatnya,” ucap Tami sambil menggidikkan bahu.
“Orang luar negeri memang seperti itu gaya pakainnya, Bu. Apa lagi setahu Kaifa, dia kerja di Korea yang kata orang-orang Korea itu pusatnya fashion.”
“Fashion bukannya kaca yang ada di kendaraan untuk lihat ke belakang, ya?”
“Itu spion, Bu. Jauh sekali fashion ke spion.” Jelas Kaifa jengkel sambil memasukkan nasi ke mulutnya.
"Memangnya fashion itu apa?"
“Fashion itu gaya busana.” Kaifa menjawab dengan mulut menggelembung karena banyaknya nasi yang ia masukkan ke mulut.
“Ibu tidak suka, anak Ibu pakaiannya seperti itu. Pakai celana hanya sejengkal dari pinggang. Bajunya juga terbuka sekali. Tidak bagus anak gadis pemer-pamer aurat."
“Kaifa juga tidak suka pakai pakaian yang terbuka, Bu.”
Tami hanya menanggapi dengan anggukan karena mulutnya baru saja di isi air.
“Oh, iya, Bu, kapan pihak Bank datang lagi?”
“Kemarin mereka bilang bulan depan, Fa. Kenapa memangnya?”
Meskipun sudah sama-sama selesai makan, tapi mereka masih tetap berada di kursi masing-masing untuk meneruskan obrolan.
“Minggu besok, Kaifa udah bisa bayar cicilannya, Bu.”
Tami mengernyitkan keningnya heran sekaligus berburuk sangka pada anaknya. “Minggu besok? Uang dari mana, Fa?”
“Gaji Kaifa, Bu. Mulai hari ini Kaifa minta pada Omah agar gaji Kaifa dibayar setiap hari, tidak bulanan lagi. Dan Kaifa akan mengumpulkan uangnya sampai cukup untuk membayar cicilan.”
“Apa kamu yakin, gaji kamu satu Minggu bisa sampai empat jutaan?”
“Sebenarnya Kaifa tidak yakin, Bu," jawab Kaifa disertai senyum lebar. “Tapi mudah-mudahan saja bisa. Kalaupun tidak bisa, mungkin bisa Minggu depan lagi, ‘kan, Bu?”
Ekspresi wajah Tami seketika langsung berubah sendu karena merasa bersalah telah membebani anak gadisnya. “Maafin Ibu, ya, cantik.”
“Kenapa minta maaf, Bu?”
“Ibu membuatmu susah terus.” Mata Tami mulai memanas dan menahan genangan air di pelupuk matanya.
Kaifa langsung mencondongkan badannya untuk mengusap air mata yang turun begitu saja di wajah cantik ibunya. “Ibu tidak pernah membuat Kaifa susah sedikit pun. Tapi, kalau Ibu tidak cerita, justru itu yang membuat Kaifa susah. Ibu tidak boleh banyak pikiran karena harus selalu sehat. Kaifa tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. Selama Kaifa masih mampu bekerja, Kaifa akan berusaha untuk selalu menyenangkan hati Ibu dan tidak pernah merasa dibebani,” hiburnya sambil mengusap-usap punggung tangan Tami.
“Makasih, ya, Fa,” ucap Tami sambil tersenyum karena merasa bersyukur dianugerahi anak yang pengertian dan penyayang.
Mendapat kasih sayang Tami, mendadak Kaifa teringat pada Kakak lelaki satu-satunya. “Bu, kabar Kakak Akbar sekarang bagaimana, ya? Kaifa rindu sekali, Bu.”
“Iya, Ibu juga sangat merindukan kakakmu itu. Ibu takut tidak ada umur untuk bertemu dengannya.”
“Ssst, Ibu tidak boleh bicara seperti itu! Kita pasti bisa berkumpul lagi nanti,” ucap Kaifa tegas.
"Iya, semoga saja."
Setelah itu Tami dan Kaifa sama-sama beranjak dari duduknya untuk membereskan piring dan membersihkan meja makan kemudian mereka melakukan kegiatan rutin, yaitu menyaksikan sinetron favorit mereka.
“Bu, malam ini Kaifa tidur sama ibu, ya?” pinta Kaifa saat berjalan menuju ruang depan untuk menonton TV.
“Iya, Ibu juga sedang ingin tidur sama kamu.”
Ketika TV menyala, keduanya langsung larut dalam settingan kisah yang mereka saksikan. Bahkan, terkadang baik Kaifa maupun Tami mengeluarkan umpatan untuk tokoh atau adegan yang mereka benci.
*********
Satu bulan sudah Kaifa mendapat upah tambahan dari Dewi. Bahkan dari upah itu, Kaifa bisa membayar cicilan bulan lalu dan bulan ini karena Dewi seperti memahami keuangannya dengan memberi upah yang berkali-kali lipat dari permintaan awal.
Namun, dengan semakin banyaknya upah yang Dewi berikan, di hati kecil Kaifa merasa tidak enak dan merasa benar-benar seperti memanfaatkan kebaikan Dewi. Terkadang ia ingin menolak upah tambahan yang diberikan, tapi di sisi lain ia butuh tambahan itu, hingga semakin hari hatinya semakin bimbang.
Seperti perasaannya saat ini yang terus menimbang untuk besok akan tetap menerima upah tambahan dari Dewi atau menolak saja karena khawatir akan menjadi image buruk baginya.
Namun, kebimbangan Kaifa sore ini harus ditambah dengan memikirkan tawaran teman kecilnya hingga ia terus melamun sambil berjalan menuju rumahnya.
Kaifa memikirkan tawaran Nenti untuk menjadi TKW mengikuti jejaknya agar bisa memperbaiki kondisi keuangan keluarga supaya bisa jauh lebih baik seperti Nenti. Tapi di satu sisi ia tidak tega jika harus meninggalkan ibunya sendirian di rumah selama berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun.
“Aku tidak bisa terus-terusan memeras Omah karena aku tidak bisa membayar semua hutang di Bank dari pemberian Omah saja. Omah sudah sangat baik padaku. Aku tidak boleh membalas kebaikan Omah dengan menguras uangnya. Sepertinya aku memang harus berhenti bekerja dan ikut Nenti kembali ke Korea. Aku yakin delapan bulan bekerja di sana, aku sudah bisa melunasi hutang di bank. Nenti bilang satu bulan gaji di sana bisa sampai dua puluh jutaan, bahkan bisa lebih," ujar Kaifa menggebu lalu mempercepat langkahnya.
Saat Kaifa tiba di rumah, Tami sedang berada di Rumah Edi membahas Akbar—anak pertamanya yang tidak pernah didengar lagi kabarnya.
“Bu, Amang, Kaifa pulang,” ucap Kaifa sambil mencium tangan Tami dan Edi bergantian.
“Amang perhatikan kamu akhir-akhir ini sering pulang malam, ya?” tanya Edi.
“Iya, Mang, Kaifa sedang banyak pekerjaan dari Omah, jadi Kaifa pulang sering sore lalu sampai di rumah sudah malam.”
“Pantas kamu jarang main ke rumah Amang. Kalaupun ada waktu luang, kamu pasti ngobrol sama Nenti.”
“Iya, Kaifa, kamu bahas apa sama Nenti? kadang pulang sampai larut malam.” timpal Tami.
“Apa ini saat yang tepat untuk minta izin pada ibu?” pikir Kaifa.
“Kaifa, ditanya bukannya menjawab malah melamun?” tegur Tami.
“Maaf, Bu." Kaifa menjawab sambil terkekeh lalu mengalihkan pembicaraan karena ia belum siap menjawab pertanyaan Tami di sini. “Ibu sedang apa di rumah Mang Edi?”
“Ibu kamu sedang merindukan Akbar. Dia minta Amang cari informasi tentang kakakmu itu, tapi Amang bingung mau cari informasi ke mana,” jawab Edi karena, wajah Tami seketika berubah sedih begitu mendengar pertanyaan Kaifa.
Kaifa langsung mengusap bahu Tami untuk menenangkan. Akhir-akhir ini memang ibunya lebih sering merindukan anak sulungnya itu yang tidak ada kabar sedikit pun, bahkan beberapa kali ia mendengar Tami menangis di kamarnya.
“Seandainya aku jadi TKW, tentu gajiku cukup untuk mencari Kak Akbar di Kalimantan dan tidak sampai setahun, kami bisa berkumpul lagi. Aku jadi semakin bertekad untuk menjadi TKW dan yakin tahun depan keluargaku tidak sesusah ini!” ujar Kaifa membatin.
“Ibu benar-benar merindukan Akbar, Kaifa,” keluh Tami.
“Kakak pasti pulang, Bu, tapi tidak sekarang. Kaifa yakin, Kakak di sana pasti merindukan kita juga,” hibur Kaifa.
“Bener, Ceu, mungkin ada alasan Akbar tidak memberi kabar. Eceu doakan saja semoga dia jadi orang sukses di sana, lalu ketika pulang nanti bisa mengangkat derajat keluarga.” Edi bantu menghibur.
“Aamiin,” Kaifa menimpali. “Ya sudah, yuk, Bu, kita pulang. Kaifa ingin istirahat!” ajaknya.
Tami langsung bangun dari bangku rotan yang ada di depan rumah Edi. “Kita pulang dulu, Di,” pamit Tami.
“Iya, Ceu,” jawab Edi.
Tami dan Kaifa meninggalkan pekarangan rumah Edi menuju ke rumah lalu melakukan kegiatan masing-masing. Kaifa membersihkan diri, sedangkan Tami menyiapkan makan.
Setelah selesai mandi, Kaifa langsung menuju dapur untuk makan bersama ibunya. Dari mulai duduk makan sampai makanan hampir habis, Kaifa sudah sangat ingin mengutarakan niatnya untuk meminta izin menjadi TKW dan ikut bersama Nenti bulan depan. Namun, Kaifa takut Tami tidak memberi izin, tetapi jika tidak mengatakan, ia tidak akan tahu hasilnya.
“Aku harus berani bicara demi hutang di bank dan mencari Kak Akbar!” ujar Kaifa dalam hati berusaha menyemangati diri sendiri.
Kaifa langsung membereskan semua piring kotor yang ada di meja agar Tami tetap duduk di tempat.
“Ibu duduk saja, biar Kaifa yang membereskan semuanya!” perintah Kaifa dengan menahan bahu Tami.
“Tidak biasanya," gumam Tami.
Kaifa membereskan piring dan membersihkan meja secepat kilat karena tidak mau semangatnya bicaranya hilang jika terlalu lama ditunda.
“Bu, Kaifa mau bicara,” ujar Kaifa saat semua pekerjaannya sudah beres.
“Bicara apa? Seperti serius,” ucap Tami sambil melayangkan tatapan heran.
“Eee ....” Kaifa menggantung ucapannya karena mulutnya masih kaku menyampaikan niat di hati.
“Mau bicara apa?” tanya Tami lagi.
“Bu, bulan depan Nenti mau kembali lagi ke Korea, Kaifa mau ikut Nenti bekerja di sana. Nenti bilang, gaji di sana cukup besar. Kaifa mau melunasi hutang kita di bank dengan gaji Kaifa selama kerja di sana, sisanya untuk cari Kak Akbar ke Kalimantan agar kita bisa kumpul lagi. Kaifa janji, tidak sampai satu tahun Kaifa sudah pulang. Setelah itu kita bisa mulai usaha apa pun bersama Kak Akbar di sini,” ucap Kaifa selembut mungkin.
Tami langsung menunjukkan ekspresi marah, sedih, dan kecewa karena keluarga satu-satunya yang ada di dekatnya kini juga ingin pergi.
“Kamu sudah tidak betah tinggal bersama Ibu? Akbar dan Bapak sudah pergi meninggalkan Ibu, sekarang kamu juga mau seperti mereka?!” omel Tami dengan suara lirih.
“Bukan begitu, Bu, Kaifa hanya mau merubah nasib keuangan keluarga kita. Mungkin saja dengan Kaifa bekerja di sana, kita punya modal untuk memulai usaha,” bujuk Kaifa.
Tami langsung bangun dari duduknya. “Kalau kamu mau pergi, pergi saja! Biarkan Ibu hidup sendirian. Mati juga Ibu sendirian. Ibu tidak butuh anak-anak Ibu!” Sambil mengusap air mata, Tami meninggalkan Kaifa menuju kamarnya.
Kaifa segera menyusul langkah Tami, berusaha untuk terus membujuk sampai mendapatkan izin. Namun, Tami dengan cepat menutup pintu kamarnya.
“Bu, bukan begitu maksud Kaifa. Kaifa tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan Ibu. Kaifa hanya ingin keuangan kita lebih baik, Bu!” ucap Kaifa di depan pintu.
Kaifa bingung bagaimana caranya agar Tami memberi izin karena ia sudah benar-benar bertekad untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi ia tidak bisa pergi tanpa restu ibunya.
“Aku akan coba bujuk lagi besok!” gumam Kaifa, lalu mematikan semua lampu ruangan dan masuk ke kamarnya.
Sedangkan di dalam kamar, Tami menangis kecewa pada dirinya sendiri karena membuat putri semata wayangnya harus menjadi pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Maafin Ibu, Kaifa. Harusnya Ibu yang cari uang, bukan kamu. Karena Ibu, kamu harus putar otak kerja ke sana-sini,” ucapnya dalam tangis.
********