Rizki tidak menjawab pertanyaan Kaifa malah menarik tengkuknya lalu menghimpit ke mobil dan menatap tajam mata yang memancarkan ketakutan. Cara Rizki yang menarik mendadak Kaifa pikir akan memarahi hingga ia menatap ketakutan. "Benar, aku sedang menjadi beban pikiran Tuan?" tanya Kaifa pelan. "Aku sedang sangat menginginkanmu, Fa. Sangat menginginkanmu." Rizki langsung melumat bibir Kaifa rakus dengan satu tangan melingkari pinggangnya lalu merapatkan tubuh mereka. Kaifa pasrah akan lumatan Rizki yang begitu kasar diiringi nafas memburu, bahkan kedua tangannya tidak ia gunakan untuk memeluk karena berpikir Rizki sedang meluapkan emosinya melalui cumbuan. Rizki terus meluapkan gairahnya pada bibir Kaifa dengan hisapan yang semakin lama semakin kuat dan perlahan turun ke leher. "Euh,

