Kaifa sudah tidak bisa melangkah mundur lagi saat Rizki terus menghimpitnya ke dinding. “Marahlah sesuka hatimu. Luapkan semua kekecewaanmu padaku. Jangan kamu luapkan kemarahanmu dengan diam dan mengacuhkan aku, karena itu akan menyiksamu. Tidak akan ada perceraian di antara kita karena, mulai sekarang aku punya banyak waktu untuk merayu dan membujukmu.” “Tuan, menjauh dariku!” bentak Kaifa sambil berusaha mendorong Rizki. Tapi Rizki tidak mundur sedikit pun, ia malah mengangkat kedua tangannya ke dinding agar Kaifa tidak bisa menghindarinya. “Aku tidak akan menjauh lagi darimu dan tidak akan membuatmu asing bagiku. Cukup satu kali aku melakukan kebodohan itu. Dan aku baru menyadari kamu berarti dalam hidupku. Sekarang, giliran aku membuat hidupku berarti bagimu dengan terus menggodamu

