"Akhirnya, aku menemukan juga rumah tempatmu bekerja,” bohong Edward sambil tersenyum. Senyum yang membuat Kaifa terpukau. "Indah sekali senyumnya," puji Kaifa membatin. "Kaifa?" tegur Edward saat Kaifa malah diam menatap. Kaifa mengedipkan mata beberapa kali saat tersadar dari keterpukauannya. "Ah, maaf, aku melamun." "Kenapa melamun?" “Ti—tidak apa-apa." Kaifa gugup karena ia panik dengan kedatangan Edward. "Tu—Tuan, mencari rumahku, maksudku tempat aku bekerja? Kenapa tidak memberitahu aku dulu?” “Bagaimana aku mau memberitahu, kamu sudah satu Minggu ini tidak membalas chat atau menjawab teleponku. Apa Rizki melarangmu?” “Ti—tidak. Sejak malam itu aku tidak bertemu lagi dengan Tuan Rizki sampai sekarang. Dan sudah satu Minggu ini, aku sibuk dengan pekerjaanku karena Tuan Rizki s

