Merasa tidak ada gerakan dari Rizki, Kaifa langsung membuka mata untuk melihat apa yang Rizki lakukan. “Kenapa kamu memejamkan mata? Apa kamu ingin aku menyentuhmu lebih jauh lagi?” Rizki melirik ke bagian dadda Kaifa dengan tatapan meledek. Wajah Kaifa memerah menahan malu karena lagi-lagi ia terlihat jelas mengharapkan cumbuan Rizki hingga ia langsung mendorong Rizki dari atas tubuhnya. "Menyebalkan!” umpat Kaifa sembari beranjak bangun lalu berjalan menuju pintu. Melihat Kaifa akan keluar kamar, Rizki langsung menyusul lalu menarik tangannya. “Apa sekarang kamu sudah mau pulang denganku?” “Tidak! Aku ingin tidur bersama Ibu!” ucap Kaifa, tegas. “Dasar pembangkang! Kamu mau aku mengajakmu secara paksa atau baik-baik?” “Mau kamu pakai cara apa pun, aku tetap tidak mau!” “Hei! Apa

