“Karena aku malu dengan banyaknya tanda merah di leherku. Saat aku menemani Omah, hampir semua pekerja di sini akan menatapku sambil menahan tawa. Mereka memang tidak ada yang mengatakan apa pun, tetapi dari cara mereka menatap dan menahan tawa, aku merasa malu sendiri. Jadi sejak jam sepuluh pagi tadi aku berbohong pada Omah dengan mengatakan aku tidak enak badan agar aku bisa tidak keluar kamar." Rizki semakin merasa bersalah mendengar alasan Kaifa lalu memeluk untuk menunjukkan rasa bersalahnya. “Maafkan cara bercandaku yang keterlaluan,” ucapnya tulus. Kaifa mengerutkan keningnya saat sikap Rizki tiba-tiba baik. Padahal, beberapa detik lalu dia terlihat sangat kesal pada dirinya. “Ada apa dengan Mas Rizki malam ini? Dia tiba-tiba marah, tiba-tiba baik. Apa ini karena dia lapar, jadi

