Part 11 Bila Rasaku Ini Rasamu

1104 Kata
"Ibu ...." Eila membangunkan Arletta yang sudah membuka matanya, mengerjap sejenak lalu berusaha duduk dengan kepala yang pening. Ia tersenyum dan mengusap mulut Eila yang dipenuhi cokelat. "Ayah membawa ibu kemarin malam. Kata ayah, ibu jatuh dari kamar mandi di pesta," celetuk Eila seraya ia memakan kue rasa cokelatnya. Jika sudah makan kesukaannya, Eila akan segera menghabiskan. "Terus ayah bawa kita ke rumah barunya." Arletta baru teringat jika dirinya memejamkan mata sebentar di toilet kemarin dan tidak tahu jika Janu membawanya ke rumah baru. Ia mengedarkan pandangan, benar yang dikatakan Eila ini bukan rumahnya. "Sudah sadar?" Suara Janu terdengar jelas di telinganya, sedari tadi ia memang memperhatikan Arletta yang baru saja terbangun. Ia menatap Arletta di sofa tak jauh dari ranjang tersebut. "Bukannya aku kemarin di toilet? Kenapa aku di sini?" Pertanyaan bodoh diajukan Arletta, ia bukannya sengaja melakukan hal itu yaitu tertidur di bilik toilet. Ia hanya memejamkan mata dan ternyata pil penenang yang diminum membawanya ke alam mimpi indah. "Apa ayah mau bicara sama ibu?" Gadis berwajah chubby itu menoleh ke arah Janu yang masih duduk sambil membaca koran, Janu tak mendengar. Langkahnya yang gesit menghampiri sang ayah lalu menyingkap koran tersebut, dari balik kertas itu muncul kepalanya dengan memberikan senyuman manis kepada ayahnya. "Eila mengagetkan ayah saja," ujar Janu berpura-pura terkejut dan langsung memangku Eila. "Ada apa, My Baby Girl?" Janu mencium gemas dan menggelitik pinggang Eila sehingga membuatnya tertawa geli. Arletta memperhatikan dari ranjang, ia tak menyangka pria itu dapat tertawa bersama anaknya. Namun tidak demikian dengan dirinya, perlakuan Janu pada dirinya berbeda jauh. "Itu ibu sudah bangun, apa ayah mau bicara sama ibu tentang kemarin?" "Hmm, kalau begitu Eila sama Pingkan dulu, ya. Nanti kita main lagi." Janu menekan bel di samping sofa, tanpa menunggu lama wanita berusia dua puluh tahun itu bergegas masuk dan mengajak Eila keluar. Wanita bernama Pingkan itu sudah mulai bekerja menjadi pengasuh Eila sejak kedatangan Arletta dari Spanyol beberapa bulan lalu. "Maaf yang kemarin, aku ketiduran di sana," ucap Arletta bangun dari ranjang dan merapikan selimut. "Obat apa yang kamu minum?" Janu melempar botol berwarna putih itu ke arah Arletta, untung saja ia bisa menangkis dan hanya mengenai gelas di nakas. "Itu hanya vitamin, Janu," jawab Arletta gugup saat Janu sudah menekan pinggangnya, "Oh vitamin, ya? Apa orang tuamu mengajari anaknya berbohong?" "Apa maksudmu? Itu memang vitamin, Janu." "Itu bukan vitamin tapi obat tidur, bukan?" Janu mendorong tubuh Arletta hingga terjatuh di atas tempat tidur. Percuma berbohong pada pria itu, karena ia pasti tahu. "Jangan minum obat apapun selain obat yang kuberikan padamu!" "Itu obat yang bisa membuatku tidur." Arletta tak mau berbohong lagi. "Aku bisa melupakan masa lalu itu saat aku meminumnya," ungkap Arletta menatap Janu yang berdiri memandangnya. "Dan kamu bisa memimpikan tunanganmu, bukan?"Janu menyeringai sembari berkacak pinggang mengungkit satu nama yang membuat Arletta tak terima. "Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah memimpikannya!" Arletta marah, ia tak suka jika nama itu diungkit oleh seorang Janu yang kejam. Ia berdiri untuk menantang Janu. "Kalau kamu tidak pernah memimpikannya? Mengapa kamu mengigau menyebut Sadhana dalam tidurmu?" ungkit Janu merasa tidak suka jika Arletta masih mengingat mantan tunangannya. "Itu bukan urusanmu, Janu." Lengan Arletta dicekal erat oleh Janu sehingga tubuhnya terhuyung hingga menyentuh tubuh Janu. Tangan Janu memegang dagu Arletta dengan kata-kata menusuk. "Itu akan menjadi urusanku, Arletta! Mulai detik ini jangan pernah kamu menyebut nama itu lagi!" "Kenapa aku tak boleh menyebut nama Sadhana? Apa hakmu melarangku?" Baru kali ini Arletta berani menatap mata Janu, tampak jelas ada genangan air mata di wajah Arletta. Wanita itu sudah bersusah payah melupakannya, tetapi Janu mengingatkan kembali. "Karena aku akan menjadi suamimu dan kamu harus mematuhi semua perintahku!" Arletta dapat merasakan bau rokok dari mulut Janu. Tanpa kelembutan sama sekali, Janu menekan bahu Arletta dengan kedua tangannya lalu memberinya ciuman kasar. Arletta berusaha melepaskan diri, tetapi cengkraman Janu tak mampu ia hindari. "Ingat Arletta! Seumur hidupmu hanya ada namaku di kepalamu!" hardik Janu sembari melepas tangannya dari bahu Arletta dan mendorongnya hingga membentur kasur. "Lebih baik aku tidak menikah denganmu. Itu memuakkan untukku!" Arletta berseru lantang dan menuding Janu dengan jarinya. "Oh, ya? Coba saja kalau kamu menolak pernikahan ini. Aku akan membuat ayahmu bangkrut dan tidak memiliki apapun. Lihat saja nanti jika kamu berani melakukannya!" tawanya sebelum menutup pintu dengan kasar. ***** Izah membuka pintu depan, mendapati Arletta yang sedang termenung tanpa menyadari sang ibu melihatnya sejak ia menekan bel. "Bu, ayo masuk. Kok ibu malah bengong?" Eila menyeletuk sambil menarik baju Arletta. "Oh, Ibu. Maaf, Bu. Arletta nggak lihat ibu membukakan pintu." "Nggak apa-apa, Sayang. Di mana kunci punyamu?" "Ibu lupa membawanya, Nek," ucap Eila sembari melangkah masuk ke rumahnya. "Ya sudah masuk, yuk. Oh, ya di mana Pingkan?" "Kakak Pingkan masih bantuin ayah beberes rumah, Nek." Arletta tak banyak bicara, ia langsung masuk menuju kamar dan merebahkan diri di sana. Wajahnya ia benamkan di bawah bantal dan menangis. "Ada apa, Let?" Kamar Seruni yang berada di sampingnya mendengar tangisan Arletta walau wanita itu berusaha keras agar tidak terdengar siapapun. "Aku nggak apa-apa, Run," jawabnya sembari menghapus air matanya. "Kamu tidak baik-baik saja, Let. Sejak Janu hendak menikahimu, kamu merasa tertekan. Sebenarnya ada apa di antara kalian?" Seruni mendesak agar Arletta memberitahunya. "Aku yakin selain Janu membantu keuangan ayah, dia punya alasan tertentu untuk menyakitimu, kan?" ulang Seruni yang merasa ada hal yang tak ia ketahui dan Arletta menyimpannya sendiri. Arletta mencoba memberi senyumannya lalu ia menepuk punggung Seruni. "Tidak ada hal lain, Run. Wajar Janu bersikap seperti itu, karena aku pernah merundungnya sewaktu sekolah," tandas Arletta dan ia berbohong lagi. "Apa kamu yakin?" tanya Seruni penuh keraguan. "Iya, Run. Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja," imbuh Arletta yang menenangkan kecemasan Seruni terhadap dirinya. "Sa, tolong katakan sama istrimu ini jangan cerewet," canda Arletta saat ia mengantarkan Seruni ke kamarnya. "Wajarlah, Let. Dia kan kembaranmu, jadi merasa cemas begitu," sahut Wasa santai seraya bermain bersama anak kembarnya. Jika bersama Seruni dan Wasa, sejenak Arletta bisa kembali seperti dirinya yang dulu tanpa ada beban sama sekali. Ia bisa tertawa lepas dan bercanda. "Aku nggak sangka kamu akan menikah esok lusa, Let. Aku akan sangat merindukanmu nanti," kata Seruni melihat saudarinya yang ikut bermain bersama si kembar. "Datang saja ke tempatku nanti. Dan terima kasih, ya kamu sudah mau tinggal di sini menemani ayah dan ibu." "Kita buat pesta kebun yuk nanti malam," ajak Wasa yang tampak antusias dengan sambutan kegembiraan Arletta dan Seruni. Arletta memendam kesedihan dan rasa takutnya sendiri menghadapi hari pernikahannya yang tinggal hitungan hari. Tinggal di rumah besar bersama orang yang tidak dicintainya membuat dirinya harus bersabar dan menerima penuh ikhlas, karena Arletta sadar yang menyebabkan kematian Naisha ada dirinya. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN