Janu terpaksa bangun saat alarm mengusik tidurnya yang nyaman. Ia langsung bangkit dari kasur dan mendengkus kesal, semalam membuatnya sangat lelah.
"Mengapa harus bangun sekarang, Janu?"
Janu yang terduduk sebentar melirik ke arah belakang dan mengukir senyum sinisnya ke arah wanita yang masih bergelung dalam selimut guna menutupi tubuhnya.

"Apa kamu tidak tahu hari ini?"
Wanita itu memeluk Janu dari belakang dengan tubuhnya, ia berbisik mesra dan manja. Janu membalas pelukannya dan kepala sang wanita berada di pundaknya.
"Iya aku tahu ini pernikahanmu, bukan?"
"Kalau kamu tahu seharusnya kamu pergi dari sini bukannya malah memelukku," ungkit Janu sembari merokok dan menghembuskan asapnya ke udara, ia merasa lega setelah merokok.
"Tidak mau," tolak sang wanita yang bersiap membuka selimutnya. Pergelutan mereka semalam membuat wanita itu menginginkannya lagi.
"Hentikan sekarang, Pingkan! Aku harus ke kantor catatan sipil," tegas Janu bangkit dan segera ke kamar mandi membilas dirinya.
Pingkan sudah dua tahun menjadi teman tidur Janu. Ia mau melakukan apa saja untuk cintanya kepada pria dingin itu bahkan pura-pura menjadi pengasuh Eila, gadis kecil yang menurutnya merepotkan.
"Apa kamu tidak bisa tidak menikahinya?"
Pingkan bertanya setelah Janu menyelesaikan mandinya, pria itu hanya memakai handuk yang dililitnya di pinggang dan wanita itu mendekatinya.
"Dari awal kamu sudah tahu rencanaku menikahinya? Jadi untuk apa bertanya lagi?"
Janu memilih pakaiannya sendiri, tetapi tidak ada yang cocok sehingga Pingkan mengambil dan memilihkannya untuk Janu. Namun, tidak ada ucapan terima kasih dari bibir pria itu untuknya.
"Apa setelah wanita itu masuk ke rumahmu ini, dia akan menggantikan tempatku?"
"Maksudmu?" tanya Janu tak mengerti sambil ia memakai setelan jasnya.
"Ya kamu tahu sendiri selama ini kita melakukan apa saja," ungkit Pingkan menatap Janu penuh tanda tanya.
"Itu bisa aku pikirkan nanti," ucap Janu seolah tak peduli.
"Selama ini kamu menganggapku apa, sih, Janu? Kamu tidak pernah mengatakan cinta untukku," timpal Pingkan berdiri di belakang Janu yang selesai berhias diri.
"Kamu hanya teman tidur yang aku butuhkan sewaktu-waktu," celetuk Janu tanpa mengenal perasaan.
"Maksudmu? Selama ini kamu tidak pernah mencintaiku?"
Janu mendekati Pingkan, menyentuh wajahnya lalu menamparnya seraya memiringkan senyuman liciknya.
"Tidak ada kamus dalam hidupku untuk mencintai seseorang," bisiknya bernada ketus.
"Sekarang pakai bajumu dan pergilah menjemput pengantinku," perintah Janu sebelum menutup pintu dengan kasar.
Pingkan menyukai dan mencintai pria yang telah membelinya dengan uang mahal. Namun, tidak bagi Janu. Ia tidak sama sekali menyukai Pingkan, ia hanya memanfaatkan tenaga wanita itu untuk teman tidurnya dan masuk keluarga Irawan sebagai mata-mata.
Awalnya Pingkan hanya bekerja sebagai pelayan, tetapi kedatangan Arletta menjadikan dirinya sebagai pengasuh Eila. Seminggu sekali ia meminta ijin pulang, akan tetapi ia tidak menemui keluarganya melainkan memadu kasih bersama Janu.
"Ingatlah pesanku dulu, Pingkan. Jauhi pria itu jika hidupmu tak mau berakhir lagi di tempat itu," tegur seorang wanita tua yang masuk ke kamar Janu mengambil pakaian kotor.
"Iya aku tahu bibi Norma."
Norma adalah kepala pelayan keluarga itu sejak Janu kecil, ia yang tahu semua peristiwa di dalam keluarga ini. Ia bahkan tahu rencana Janu selama ini, tetapi lebih baik tutup mulut.
"Sedang apa ayah di sini?"
Janu mendapati sang ayah berada di depan pintu, Tuan Manendra menatap Janu yang turun menghampirinya.
"Ayah ingin menghadiri pernikahanmu."
"Tidak perlu, apa lagi ini bukan pernikahan yang sesungguhnya," ucap Janu membuat sang ayah terdiam.
"Apa kamu hanya menganggap ini permainan saja?"
"Tentu saja. Lalu untuk apa lagi?" sahut Janu tanpa memedulikan sang ayah, ia melewatinya begitu saja.
Tuan Manendra tak bisa mengubah watak Janu yang keras, sejak kematian ibu dan adiknya. Janu tak tinggal satu rumah dengan sang ayah walau dalam ruang lingkup halaman yang luas. Mereka memiliki paviliun sendiri.
"Janu, tunggu aku mau ikut---"
Tuan Manendra tak percaya dengan penglihatannya, ia melihat seorang wanita berada di rumah Janu dengan pakaian tipis keluar dari kamar utama.
"Sedang apa anda di sini, Nona?"
Pingkan terpojok, ia ketahuan berada di sini dan memakai pakaian yang tak layak untuk dilihat oleh sang pemilik rumah.
"Maaf Tuan, saya teman Janu," jawab Pingkan gugup. Selama ini Pingkan maupun Janu bertemu di hotel jika meraka hendak membutuhkan satu sama lain.
"Sepertinya saya pernah lihat anda, Nona. Apa anda pekerja di rumah keluarga Irawan?"
Belum sempat dijawab, Janu membawa sang ayah masuk ke mobil. Lebih baik mengijinkannya ikut ke kantor catatan sipil daripada ayahnya terus mengungkit dan bertanya mengenai Pingkan.
*****
Keluarga Irawan sudah tiba lebih dulu di sana dan mereka sedang menunggu kedatangan Janu yang sudah hampir satu jam tak kunjung tiba.
"Apa dia mempermainkan kita?" Bram terserang emosi sejak tadi dan hampir saja menelepon Janu jika tak dihentikan.
"Paman Bram, kenapa marah?"
"Paman nggak marah, Eil. Paman cuma bicara keras," sahut Seruni dengan kelembutan. Ia tak mau Eila melihat kemarahan Bram.
"Apa dia akan menepati janjinya, Mas?" Kini Izah mulai kalut dan bertanya.
"Kita tunggu saja, Zah."
Arletta tak kalah cemasnya, ia juga gugup dan malu. Malu karena beberapa orang melihat mereka dengan pandangan aneh saat ia dan keluarganya datang.
"Itu ayah, Bu!"
Janu datang dengan setelan jas yang biasa saja, tidak ada kesan jika ia menikah hari ini. Tuan Manendra mengikutinya dari belakang saat sudah sampai di ruangan, pria itu menyalami dan merangkul Ridwan.
"Cepat kita tanda tangani berkasnya lalu pergi dari sini."
Begitu mudah Janu berbicara yang membuat keluarga Arletta tambah tak menyukai kehadiran pria itu. Hanya karena Janu yang bisa membantu keuangan keluarga Irawan maka mereka harus menerima pernikahan antara Arletta dan Janu.
"Tuan, tolong dibaca dan dipahami dulu berkasnya," kata petugas memberitahu.
Namun, Janu menolaknya dan langsung memberi tanda tangannya. Ia tak direpotkan dalam urusan seperti ini sehingga setelah, ia langsung duduk sambil menunggu stempel.
"Lihat dia! Pria angkuh yang tidak mau menyapa keluarga istrinya," dengkus Bram yang melihat Janu malah sibuk dengan ponselnya.
"Mas ...." Wasa menyuruh Bram berhenti saat mata Janu menatap mereka tajam.
Tak butuh lama petugas KUA telah memproses berkas pernikahan itu. Janu menyuruh Dani untuk mengambil berkas tersebut, ia enggan melakukannya.
"Jaga dirimu di sana, ya, Nak. Jika kamu ada masalah, selesaikan saat itu juga," ujar Ridwan memeluk Arletta begitu juga dengan lainnya.
Arletta membalas pelukan Ridwan, berat rasanya pergi meninggalkan keluarganya dan hidup bersama suami yang hanya mengganggap pernikahan ini sebagai bentuk balas dendam.
"Ayah, apa kita tinggal di rumah yang besar itu?"
Beda halnya dengan Arletta yang tampak tertekan, gadis kecil itu malah berteriak kegirangan saat Janu tersenyum dan mengangguk.
"Ayo, kita ke mobil," ajak Janu menggandeng tangan Eila.
"Nak Janu, boleh bicara sebentar?" Ridwan mencegat Janu yang hendak keluar.
"Eila sama Om Dani dulu, ya."
Eila digendong oleh Dani dan membawanya ke mobil yang sudah terparkir di depan.
"Ada apa, Tuan Ridwan? Saya tidak punya waktu lama."
Meski sudah menjadi menanti, bukan berarti Janu langsung memanggil ayah. Ia pernah mengatakan jika ia tidak mau menyebut Ridwan sebagai ayah mertua.
"Tolong jaga Arletta, Nak. Seberat apapun masalah yang kalian hadapi nanti, selesaikan bersama-sama. Dan jika suatu saat nanti kamu sudah tak mencintainya, bawa dan pulangkan dia ke rumah ayah dengan cara baik-baik."
Janu tak menjawab atau sekedar memberi tanggapan, ia hanya menepuk punggung tangan Ridwan lalu pergi tanpa pamit.
=Bersambung=