Part 13 Hanya Pernikahan Biasa

1224 Kata
Arletta merasakan kedinginan saat ini, gaun yang dipakainya hanya berbentuk A - Line Dress tanpa menutupi bagian atasnya. Sejak tadi ia tidak diperbolehkan untuk menggantinya dan Janu mengajaknya bepergian. "Ini makanlah! Aku tak mau membuat kamu mati di mobilku," ujar Janu melempar sebungkus roti dan s**u yang dibelinya di minimarket. Tak menunggu lama, Arletta mengambil dan memakannya. Perutnya sudah merasakan sakit dan lapar, ia tidak berani meminta pada Janu. Janu melihat betapa lahapnya Arletta memakan roti tak membuatnya kasihan malah tersenyum menjijikan. "Kita mau ke mana, Janu?" tanya Arletta saat Janu mengendarai mobilnya menuju luar kota. "Sebentar lagi kau akan tahu." Arletta menurut dan tak bertanya lagi, ia tahu sejak awal inilah resiko yang diterimanya dan sebuah hukuman akibat perbuatannya dulu. Mobil sedan itu memasuki sebuah pemakaman yang tertata rapi dan bersih, Janu memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang teduh. "Turun!" Janu memerintah tanpa berniat membantu Arletta membuka pintu dan membantunya berjalan. Arletta berjalan pelan sambil mengangkat gaunnya, mengikuti Janu yang berada di depan. Untung saja pemakaman ini sepi jika ramai, Arletta akan merasakan malu mengunjungi makam memakai gaun pengantin. "Cepatlah! Dasar wanita lamban!" Janu terpaksa membantu Arletta berjalan, tetapi menyeretnya tanpa perasaan. "Ini makam siapa, Janu?" "Makam siapa? Apa kamu tidak lihat di nisan itu?" Janu memegang kepala Arletta dan mendekatkannya ke arah nisan agar bisa dibaca oleh wanita yang sah menjadi istrinya beberapa saat lalu. "Naisha?" "Ya ini makam Naisha. Gadis yang kamu rundung lalu bunuh diri karena malu ke sekolah setelah kamu mendorongnya ke kolam," ungkit Janu yang mengingatkan perbuatan Arletta di masa lalu. Arletta tertegun dan terdiam, ia tak menyangka Janu membawanya ke makam Naisha tepat di hari pernikahannya. Kebencian yang mendarah daging telah membuat Janu seperti iblis dan menjadikan pria itu tidak memiliki perasaan apapun. "Maafkan aku Janu," ucap Arletta parau. "Maaf katamu? Enak saja kamu minta maaf setelah membuat adikku mati bunuh diri," kata Janu menudingkan jari di kening Arletta. "Lalu aku bisa apa agar kamu mau memaafkanku?" "Aku tak akan pernah bisa memaafkanmu, Arletta. Cara satu-satunya adalah aku menyiksamu selama kamu menikah denganku!" "Lebih baik kamu penjarakan saja aku daripada kamu memyiksaku, Janu." Belum sempat Janu berbicara, ia mendapatkan telepon dari Dani memberitahunya jika semua saham milik Ridwan di perusahaan sudah diambil dan disahkan menjadi miliknya sekarang. Janu pergi menjauh dari Arletta saat Dani meneleponnya, ia merasa senang karena rencana yang disusun sudah berhasil "Daripada memenjarakanmu, lebih baik aku membuatmu menjadi pelayanku, Arletta!" "Apa maksudmu? Pelayanmu?" "Ya, sekarang perusahaan milik kakekmu sudah menjadi milikku seutuhnya. Yang tersisa dari keluargamu hanya kafe dan restauran saja, lambat laun aku akan mengambil semuanya." Arletta tak percaya jika Janu mengambil harta warisan satu-satunya milik mendiang kakeknya. Ia mendekat dan berusaha menampar Janu, sayangnya ia kalah cepat. Janu menangkis tangannya dan mencengkanya begitu erat. "Di sini aku yang salah, Janu. Jadi jangan libatkan keluargaku." "Keluargamu terutama kakekmu juga terlibat. Di saat adikku hampir mati tenggelam, pihak sekolah tak mau tahu setelah kakekmu menutupi kasus itu dengan uang." "Jika kamu begitu membenciku seharusnya kamu lakukan dulu sewaktu kita bersekolah." Janu tak mau memberinya jawaban, ia langsung melangkah ke mobilnya setelah mengucapkan salam di makam saudara kembarnya. Arletta perlahan mendekat ke nisan marmer dan mengusapnya pelan-pelan, ada rasa sakit di hatinya dan ia tahu rasanya kehilangan seseorang. "Maafkan atas semua perbuatanku padamu, Naisha. Aku akan menerima hukuman darimu." ***** "Selamat datang di rumah, Nona," sambut Norma tersenyum tulus saat membuka pintu. "Terima kasih bibi---" "Panggil saja saya bibi Norma." Arletta menyambut uluran tangan Norma, di rumah ini setidaknya ada satu orang yang mau bicara dengannya. "Di mana Eila, Bi?" Di rumah besar ini, mustahil menemukan Eila yang sering bermain petak umpet dan kadang mengejutkannya secara tiba-tiba dari belakang. Namun, suaranya cemprengnya tak terdengar. "Nona kecil ada di kamarnya bersama Pingkan." "Kalau begitu saya akan ke kamarnya dulu, Bi." "Lebih baik nona berganti pakaian dulu, pakaian milik nona sudah ada di kamar dan sebentar lagi makan malam tiba," cegah Norma yang tak ingin Arletta masuk ke kamar Eila. Arletta menurut, ia juga merasakan lengket di tubuhnya karena seharian memakai gaun pengantin dan diajak berkeliling ke kota. "Semoga anda baik-baik saja, Nona." Norma bergumam sendiri, ia tahu wanita lemah ini hanya dijadikan balas dendam oleh Janu dan ia takut mengetahui jika nanti Arletta tahu hubungan Janu dan Pingkan yang sudah di luar batas. Tubuhnya terasa segar kembali dan panggilan Janu melalui telepon kamar mengharuskannya melangkah ke meja makan. Lagipula ia sudah sangat lapar. "Selamat datang di rumah ini, Nak." Arletta mendapat sambutan hangat dari Manendra sekaligus ayah mertuanya. Di meja makan sudah Eila dan Janu yang melihatnya tanpa senyuman. "Terima kasih, Ayah," sahut Arletta kaku. Para pelayan menyiapkan makan malam yang istimewa, itu bukan Janu yang meminta melainkan Manendra sendiri. Ia ingin menantunya diperlakukan secara baik. "Pingkan, bibir kamu kenapa?" tanyanya kepada Pingkan di belakang Eila. Arletta melihat sudut bibir Pingkan terluka, ia berpikir jika Janu mungkin menghukumnya karena lalai atau melakukan sesuatu yang salah. Kemarin Janu menyuruh Pingkan untuk tinggal dan membantu yang lain memasak. "Saya nggak sengaja kena meja, Non." "Olesi obat yang biasa dipakai di rumah, ya, Pingkan." "Iya Nona," jawab Pingkan gugup sesekali menoleh pada Janu yang telah membuatnya seperti ini. Makan malam ini terasa berbeda, celotehan Eila dan tawanya membuat Manendra tak kesepian. Biasanya mereka hanya makan berdua tanpa percakapan apapun. "Obat apa yang kamu minum, Nak?" Manendra melihat salah satu pelayan memberikan obat untuk Arletta. "Itu vitamin untuk tubuhnya yang lemah," sahut Janu datar. Arletta menerima obat itu dengan pasrah, ancaman demi ancaman terus dikatakan Janu jika ia tidak meminumnya tepat di depan pria yang sudah menjadi suaminya itu. ***** "Ibu, apa Eila akan ke sekolah baru hari ini?" Eila sudah terbangun dari tadi dan membuat seisi rumah ramai dengan sorakannya yang begitu lincah sembari menyapa semua penghuni. "Iya sayang. Nanti di sekolah Eila harus apa?" tanya Arletta sembari memasangkan seragam baru untuknya. "Belajar bersama guru, teman dan menghormati guru," jawab Eila menangkup wajah sang ibu lalu menciumnya. "Satu lagi, Sayang. Jangan memukul teman," sahut Janu yang sudah berdiri di depan pintu kamar Eila. Eila mengangguk dan tertawa begitu riang setelah seragam birunya terpasang manis di tubuh gemuknya, ia langsung menuju meja makan dan menyantap hidangan yang disediakan Norma. "Ingat pesanku kemarin. Ajari Eila dengan baik, jangan jadikan anak itu sepertimu dulu." Arletta harus membiasakan diri untuk mendengar kalimat pedas dan menyinggung dari Janu, ia lebih baik diam dan tak berkata apapun. Ia hanya akan menjadi ibu yang baik untuk Eila. "Kemarin malam kamu ke mana, Janu?" "Untuk apa kamu mengurus hidupku? Kamu memang istriku, tetapi hanya di atas kertas saja," tandas Janu yang tak mau Arletta turut campur dalam kehidupannya. Meskipun mereka tidak satu ranjang kecuali jika Janu meminta haknya maka Arletta akan tidur di ranjang besar itu, Arletta merasa ada yang aneh dengan Janu yang meninggalkan kamar tepat tengah malam. Namun, tidak ada suara deru mobil. "Ah, untuk apa juga aku ikut campur? Benar katanya, aku hanya istri di atas kertas." "Lebih baik aku ke ruang bawah untuk melukis." Setelah membereskan kamar Eila, Arletta langsung menuju lantai bawah. Tepat di bawah anak tangga ada satu ruangan untuknya melukis, ia masih bisa meluangkan hobinya di rumah besar ini. Arletta mengambil kunci yang berada di dinding, membukanya pelan dan tercium bau apek memenuhi ruangan yang gelap. Ternyata Janu tak pernah menyiapkan ruangan khusus untuknya, itu merupakan gudang dan Arletta tak tahu apa yang sedang menantinya saat ia menyalakan lampu. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN