Part 14 Teruskanlah Kau Begitu

1211 Kata
Mulut Arletta terkatup rapat, ia tampak takut sekaligus ngeri melihat isi ruang bawah yang dibukanya. Antara percaya dan tidak, ia melihat banyak sekali lukisan dirinya dan Naisha terpajang rapi. "Anda sudah mengetahuinya, Nona?" Arletta berpaling ke arah pintu dan mendapati Dani membawa kanvas juga alat lukis lainnya. Asisten pribadi Janu itu tetap melangkah masuk meski ada Arletta di pintu. "Ini ruangan apa, Dani?" "Ruangan untuk anda melukis," ujar Dani singkat seraya menaruh benda tersebut ke tempatnya. "Saya melukis di sini? Apa tidak bisa saya pindah tempat?" Dani menatap dalam Arletta sehingga membuat Arletta merasa tak nyaman saat ditatap seperti itu, ada sesuatu di mata Dani yang menyiratkan ketidaksukaan terhadap dirinya. "Tidak bisa, Nona. Menurut Tuan Janu, di sinilah tempat anda melukis dan juga hukuman untuk anda." "Hukuman? Apa maksudnya?" "Selagi anda meluangkan hobi anda di sini melukis, anda bisa memandang wajah nona Naisha melalui lukisan agar anda semakin merasa bersalah," papar Dani tanpa peduli perasaan Arletta. "Silakan sekarang anda melakukan hobi tersebut," kata Dani melangkah keluar. "Apa kamu juga membenciku karena Naisha meninggal?" Dani menghentikan langkahnya, mendengar yang ditanyakan Arletta, tetapi ia memilih tak menjawab. Ia juga tidak apakah dirinya pantas membenci wanita itu? Naisha adalah cinta pertamanya dan meninggal karena bunuh diri. Arletta sendiri sepeninggal Dani yang kembali ke kantor, di tempat ini ia melihat banyak lukisan tentang dirinya dan Naisha. Ia pandangi satu persatu wajah temannya dan tersenyum pedih. "Jika memang ini hukuman yang diberikan, aku akan menerimanya. Maafkan aku, Naisha." Perlahan jemari lentiknya mulai bergerak, ia melukis wajah Naisha dalam bentuk dewasa. Ia mengayunkan kuasnya dan menggerakkan secara perlahan. Tak butuh waktu lama akhirnya wajah cantik Naisha sudah tampak indah di kanvasnya. "Kamu tahu Naisha, aku sudah menerima hukuman karena telah membuatmu meninggal. Saudariku koma selama setahun, usaha ayah mengalami kemerosotan dan tunanganku meninggal karena kecelakaan. Hidupku tak seperti dulu lagi penuh kemewahan, ini karma yang aku harus terima." Arletta bicara sendiri di depan lukisan wajah Naisha, ia menatapnya dan tak terasa buliran air matanya jatuh. Ia tak bisa setegar kembarannya yang begitu banyak menderita. Sejak kehilangan Sadhana, hidupnya tak bisa seceria dulu. "Ibu ....! Ibu di mana?" Senyumnya mengembang mendengar langkah dan teriakan Eila. Saat ia mengetahui mengandung Eila, Arletta merasa hidupnya hancur. Namun berkat dukungan keluarganya, ia bisa bangkit. "Iya ibu di sini, Sayang," jawab Arletta menutup pintu ruang bawah dan menghampiri Eila. "Ibu tadi Eila dijemput ayah. Eila di sekolah sana senang, Bu. Beda sama sekolah yang dulu," katanya memeluk pinggang Arletta. Kebiasaannya jika sedang senang maupun sedih. "Oh, ya? Berarti di sana Eila banyak teman?" Eila mengangguk, ia terus mengapit pinggang sang ibu sembari mendongakkan kepalanya. "Kalau begitu, Eila ke kamar berganti pakaian dan makan siang," perintah Arletta tanpa suara keras. "Oke, ibu. Eila sayang ibu." "Ibu juga sayang Eila. Oh, ya di mana Pingkan, Sayang?" "Pingkan disuruh ayah ke taman bunga, Bu," ujar Eila seraya pergi dengan tasnya yang bergoyang-goyang di pundaknya. Taman bunga? Untuk apa mereka ke sana? Berbagai pertanyaan muncul di benak Arletta, entah mengapa ia merasa ada yang aneh dengan Pingkan beberapa hari ini. Kadang wanita itu mengatakan disuruh atau diperintah melakukan sesuatu oleh Janu. Seharusnya Pingkan menuruti perintahnya bukan Janu sebagai majikan. Arletta harus menegaskan kepada Janu jika ia boleh menyiksa dirinya, tetapi tidak untuk Pingkan. Ia merasa kasihan pada pengasuh Eila yang hidupnya mengenaskan. "Aku harus mengatakan hal ini kepada Janu. Pingkan hanya pengasuh Eila bukan pembantunya," ucap Arletta dalam hatinya. Arletta segera pergi ke taman bunga yang berada di depan. Tanah seluas ini ditempati dua rumah, satu digunakan Manendra dan satunya ditinggali Janu dan Arletta. Beberapa meter dari kediaman rumah utama. **** Dari kejauhan Arletta melihat Janu keluar dari rumah kaca dan pria itu tak mendengar saat Arletta memanggil, Janu bergegas masuk ke mobil dan pergi.  "Nona, anda mau ke mana?" "Bibi Norma?" Arletta terkejut karena bahunya ditepuk pelan dari belakang oleh Norma. "Saya mau ke rumah kaca, kata Eila tadi. Janu menyuruh Pingkan ke taman bunga. Saya takut jika Pingkan disuruh bekerja di sana," ucap Arletta merasa khawatir. "Oh Tuan Janu hanya memintanya untuk memberi pupuk, Non. Karena orang yang biasanya bertugas sedang pulang." Norma berbohong dan ia tahu ada sesuatu yang terjadi di sana tadi. "Lebih baik Nona masuk saja. Nona kecil sepertinya memanggil anda." Arletta pun menurut dan masuk saat mendengar teriakan Eila yang memanggil namanya. **** ( Beberapa saat lalu ) "Eila, masuk dulu ya. Ayah mau menyuruh Pingkan untuk membersihkan taman bunga." Gadis kecil itu tak paham apa yang akan terjadi, ia hanya mengangguk dan tersenyum. "Ikut aku, Pingkan!" Janu dikuasai amarah hari ini terhadap kelakuan Pingkan yang sudah diluar batas. Janu menyeretnya ke taman bunga, kebetulan itu tempat satu-satunya yang jarang dikunjungi orang kecuali tukang kebun. "Aku sudah mengatakan padamu, jangan menulis pesan seperti ini kepadanya!" "Kenapa? Kamu tidak rela jika hubungan kita diketahui olehnya?" Pingkan sengaja mengirim sepucuk surat pada Arletta mengenai hubungan terlarangnya dengan Janu. Namun belum sempat dikirim, Dani mengetahuina dulu. "Biar aku yang melakukan balas dendamku. Bukannya dirimu yang hanya seorang pelayan." Pingkan merasa tertohok mendengar kata pelayan, bagi Janu dirinya hanya seorang pelayan yang memenuhi kebutuhannya di tempat tidur. "Aku hanya menolongmu, Janu. Aku tak bisa melihatmu berdekatan dengannya," ucap Pingkan seraya mendekatkan tubuhnya dan mengusap tubuh berotot Janu. "Hentikan Pingkan! Ini ruangan terbuka!" Janu merasa getaran di seluruh tubuhnya saat Pingkan mulai menyentuh bagian sensitifnya. "Aku mencintaimu, Janu. Aku cemburu melihatmu bersamanya dalam satu kamar," sambung Pingkan berusaha mencium Janu. Janu hanya seorang pria biasa yang tak bisa menolak pemberian sentuhan gratis dari Pingkan. Tanpa sadar, ia melempar pot yang ada di meja lalu membaringkan tubuh Pingkan. Janu seakan lupa niat sebelumnya untuk memarahi Pingkan. "Hanya aku yang bisa memuaskanmu, Janu," erangnya menahan hasrat yang bergelora karena sentuhan Janu. Mereka melakukannya di ruangan terbuka, lupa akan semuanya hal dan tak peduli jika ada sepasang mata yang menyaksikan kebejatan mereka berdua. "Apa aktifitas kalian sudah selesai?" Wanita tua yang masih berpakaian kebaya itu tampak santai dan tak berkedip saat melihat sepasang anak manusia sedang memadu kasih. "Bibi Norma?" Janu segera merapikan pakaiannya begitu juga dengan Pingkan yang takut dan malu karena sebagian tubuhnya terlihat jelas. "Rapikan pakaian kalian dan kau Janu, segeralah ke kantor. Tuan besar memanggilmu." Dari sekian banyak pelayan, hanya pada Norma ia tunduk bagai anak kecil. Sudah hampir tiga puluh tahun Norma ikut di keluarga Manendra. Norma yang kini sudah berusia tujuh puluh tahun masih terlihat sehat tanpa sakit apapun, ia mengabdikan diri di keluarga itu saat berusia sepuluh tahun. "Jika kau mau melakukannya entah bersama Pingkan atau wanita lainnya. Lakukan di tempat lain bukan di rumah ini apalagi di ruangan terbuka," ucap Norma saat Janu melewatinya. Janu hanya bisa membisu dan tak berani melawan Norma, ia menaruh hormat juga segan pada wanita yang sudah dianggapnya nenek. "Dan kau Pingkan, cepat pergi dari taman bunga ini. Meskipun aku hanya orang luar, aku tegaskan sekali lagi. Jauhi Janu sekarang, ia bukan pria bebas seperti dulu dan aku tak akan memaafkan perbuatanmu," sahut Norma membalikkan badan hendak keluar. "Aku mencintainya, Bibi Norma. Bahkan jauh sebelum wanita itu hadir di kehidupannya," timpal Pingkan tegas. "Wanita itu majikanmu sekarang, Pingkan. Dan itu bukan cinta. Jika kau memang mencintai orang, kau tak akan merebut seseorang yang bukan milikmu," tegas Norma memberitahu. Norma memberikan tatapan tajam sebelum meninggalkan Pingkan yang masih berdiam diri dengan pakaian yang acak-acakan. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN