Part 15 Bukan Dia Tapi Aku

1241 Kata
Arletta hendak terbangun setelah ia mendapati dirinya tak berpakaian sama sekali, terakhir yang ia ingat saat Janu pulang dalam keadaan mabuk dan diantar Dani menuju kasurnya. "Siapa yang bilang kau boleh pergi dari sini?" Pergelangan tangannya dicekal Janu ketika ia mau beranjak dari tempat tidur Janu yang besar, tidak seperti kasurnya yang berukuran kecil. "Aku harus membangunkan Eila, Janu," sahut Arletta memohon. "Argh ... sakit Janu!" Arletta yang hampir menginjakkan kaki ke lantai, tubuhnya yang polos ditarik dari belakang oleh Janu dan kuku tajamnya mengenai kulit putih Arletta. "Eila sudah ada yang mengurusnya. Tugasmu hanya melayaniku di sini sampai aku puas!" Janu berada di atasnya, ia menekan dagu Arletta dan mulai melakukan aktifitasnya yang semalam. Hal tersebut membuat Janu ketagihan, ia ingin terus menikmatinya tanpa memedulikan gelengan kepala Arletta. "Sudah cukup, Janu. Aku lelah, lelah sekali." Sisa alhokol di mulut Janu masih tercium oleh Arletta, ia sudah memohon sejak semalam agar menghentikan kegilaan ini, tetapi Janu malah menutup mata dan mengikat tangannya. Mereka melakukannya atau lebih tepat Janu menyiksa Arletta hingga subuh, hanya dua jam saja Janu membiarkan Arletta tertidur dan Janu melepaskan ikatan tersebut saat aktifitasnya selesai. "Apa hakmu mengatakan itu? Sayangnya, aku belum lelah." Arletta menangis, ia seakan diperlakukan seperti wanita nakal bukan layaknya istri yang patut dicintai dan disayang. Arletta pasrah saat Janu terus memuaskan nafsunya, ia terdiam bagai patung sampai Janu selesai. "Pergilah! Dan setelah itu rapikan ranjang ini. Aku tak mau ada bau darimu." Sakit? Tentu saja Arletta merasakan sakit dan terluka teramat dalam, di sini ia bukan istri melainkan pemuas nafsu dari suami yang tidak mencintainya. Arletta masuk ke ruangan kecil yang menjadi tempat ia tidur entah sampai kapan. Janu melarangnya tidur satu ranjang kecuali jika ia dibutuhkan. Ia segera mengambil pakaian dan mandi untuk menyegarkan juga membersihkan tubuhnya dari pergulatan mereka. "Buka mulut!" Arletta terkejut saat Janu berada di kamarnya sambil membawa pil dan air di tangannya. "Ada apa, Janu?" "Buka saja mulutmu dan minum ini! Aku tak mau memiliki anak darimu." Jika dulu ia berani melawan atau menentang kalau ada orang yang memaksa, kini dirinya tak berdaya di hadapan Janu yang mengintimidasi. Satu kesalahan di masa lalu tak mampu menghapus dosanya. "Kenapa malah melamun? Minum saja masih merepotkan orang lain?" Janu terpaksa memasukkan obat itu ke mulut Arletta tanpa kelembutan dan pergi meninggalkan ia seorang diri. Arletta tersenyum perih, bagi Janu dirinya hanya orang lain yang menumpang tinggal di rumah besar ini. "Tidak apa-apa, Arletta. Kamu pasti kuat!" Arletta menguatkan dirinya dengan mencoba tersenyum dan merapikan rambut serta sedikit memoles wajahnya menggunakan riasan. Meskipun ia sudah tidak bekerja lagi, setidaknya ia tidak mau menunjukkan rasa sedih di depan Eila. "Ibu ...." Eila merangkul leher Arletta lalu memberikan ciuman pagi hari. Gadis kecil itu tampak bahagia, karena sang ayah akan mengantarkannya ke sekolah. "Eila senang ya mau diantar ayah?" "Iya dong, Bu. Eila mau nunjukin ke teman-teman kalau Eila punya ayah yang tampan," ocehnya sampai menuju meja makan untuk sarapan. Di sana sudah ada Janu, Manendra dan tentu saja Pingkan yang menunggu Eila. "Apa kamu sakit, Pingkan?" Arletta bertanya pada Pingkan yang memakai syal di lehernya. Pingkan yang ditanyai terlihat gugup. "Iya, Non. Saya tidak enak badan sejak semalam demam." "Istirahat saja. Biar aku yang akan menemani Eila di sekolah," sambung Arletta melihat ada sesuatu yang mencurigakan, karena sesekali mata Pingkan melirik ke arah Janu. "Jadi hari ini Eila diantar ayah dan ibu?" Eila bersorak senang, gadis berkepang tersebut bernyanyi kecil sembari menyantap roti telur kesukaannya dan ia melirik ke arah piring Janu. "Eila, sehari satu untuk telurnya," ucap Arletta yang tahu jika anaknya menginginkan telur dadar lagi. Manendra yang mengetahui membagikannya hanya untuk Eila. Sejak bisa makan sendiri, Eila menyukai segala bentuk olahan telur. "Ayah jadi ingat kalau Janu juga menyukai telur," timpal Manendra yang sengaja mengalihkan perhatian Arletta terhadap Janu yang sedang menatap tajam pada Pingkan. Manendra tahu hubungan antara sang anak dan pelayan yang merangkap sebagai teman tidurnya. Itu yang ia tahu dari Dani setelah didesak. "Ayo kita pergi, Eila. Kamu akan terlambat nanti." Janu menggendong Eila menuju mobil meninggalkan Arletta yang terburu-buru mengambil tas di kamarnya. "Jauhi Janu sebelum aku mengambil tindakan lain terhadapmu, Pingkan!" Manendra memberi peringatan sebelum beranjak dari meja makan. Pingkan yang mendengar hanya terdiam, ia memang sudah melangkah sejauh ini untuk mendapatkan cinta Janu. Namun pria itu, tak sudi menerimanya. Ia akan terus mendekati pria itu sampai menjadi miliknya. **** "Jadi Eila ini anaknya pelukis Arletta? Wah saya nggak menyangka sama sekali." "Iya saya pikir yang biasa antar Eila itu ibunya." "Benar itu, ayahnya Eila tampak mesra dengan---" Mereka tak meneruskan perkataannya, memilih diam saat Arletta melihat mereka dengan pandangan bingung. Memang dilihat dari penampilan Pingkan bukan seperti pengasuh, wanita itu selalu berpakaian rapi dan bagus. "Maksud ibu Anna? tanya Arletta ingin tahu. "Oh tidak apa-apa, Bu Arletta. Mungkin kami salah lihat," ujar salah satu dari para ibu yang menunggui anak-anak. "Tidak apa-apa, Bu Anna. Ceritakan saja, saya nggak masalah kok." Ibu dari teman Eila itu merasa kasihan juga karena selama beberapa minggu ini mereka melihat seorang pengasuh yang duduk di depan bersama majikan saling memandang bahkan bergandengan tangan. "Tapi kami takut salah prasangka, Bu Arletta," sanggah yang lain. "Sudahlah kalau ibu-ibu tidak mau memberitahu, saya akan mencari dan mengetahui dari CCTV di sekolah ini," kata Arletta berdiri dari kursi kayu. Entah mengapa perasaannya tak nyaman saat ini. Memang ia bukanlah istri yang sesungguhnya dari Janu. Namun, saat mendengar gosip itu ia merasa tak dihargai. "Kami tidak sengaja melihat mereka berciuman di belakang sekolah." Langkah kaki Arletta terhenti ketika ibu Anna mengatakan kebenaran dan tiga orang di dekatnya juga mengangguk. "Kami pikir dia adalah ibunya Eila, jadi ya kami anggap wajar jika suami istri ingin berduaan lagipula di belakang sekolah ini tidak ada siapapun. Waktu kami ingin membersihkan halaman di sana tapi nyatanya---" Ibu Anna tak sanggup meneruskan dan Arletta tahu kelanjutannya. Tak perlu menjelaskan lebih detail, ia yakin jika mereka sudah berada di luar batas. "Maafkan kami, Bu Arletta. Sungguh kami tidak tahu jika dia bukan istrinya Pak Janu." "Ya, tidak masalah, Bu Anna. Saya justru berterima kasih sudah diberitahu," kata Arletta pelan sembari meninggalkan keempat ibu yang merasa prihatin. Ternyata selama ini mereka dibohongi oleh seorang pengasuh. Bel tanda pulang berbunyi, anak-anak lainnya berhamburan keluar menemui ayah maupun ibu mereka. Tak terkecuali si kecil Eila yang langsung memberi ciuman kepadanya. "Ayah mana, Bu?" "Ayah sedang rapat di kantor jadi Eila sama ibu naik mobil." "Ibu yang menyetir sendiri?" Arletta mengangguk, menggandeng tangan Eila menuju tempat parkir. Ia seolah tak peduli jika keempat wanita tadi menatapnya dengan belas kasihan. Janu tak bisa menjemputnya hingga Dani membawakan mobil untuknya, kesempatan ini dimanfaatkan Arletta bertanya kepada Eila. "Eila, tadi ibu dengar dari mamanya Gina. Eila manggil Pingkan dengan ibu. Ibu mau menangis loh tadi," kata Arletta lembut tanpa memaksa. Eila yang sibuk dengan mainan barunya, langsung memeluk Arletta dan meminta maaf khas anak kecil. "Kata Pingkan, kalau di sekolah Eila harus memanggilnya ibu," jawabnya begitu polos tanpa tahu jika dirinya sedang dibohongi oleh pengasuhnya. "Sayang, maksudnya Pingkan itu. Eila harus memanggil guru yang mengajar dengan sebutan ibu. Mamanya Eila cuma satu yaitu ibu. Apa Eila mengerti?" "Iya Eila mengerti, Bu," jawabnya sambil memeluk Arletta dan tersenyum. Arletta menyetir menuju ke rumah dengan seribu pertanyaan, jika dilihat memang terasa ganjal terhadap diri Pingkan. Wanita itu sebelumnya melamar pekerjaan sebagai pelayan di kafe keluarganya, tetapi setelah sehari ia memasang iklan di koran, Pingkan mengajukan lamaran sebagai pengasuh Eila dan tak disangka wanita itu memenuhi syarat yang diajukan Arletta. =Bersambung=
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN