"Ganteng banget," gumaman itu refleks keluar dari mulut mungil Lembayung.
Sosok itu bukan direktur tua dengan kumis tebal seperti yang Lembayung bayangkan.
Dia adalah ... lelaki paling tampan yang pernah dilihat gadis mungil itu secara langsung.
Wajah tegas, dengan rahang kuat dan hidung mancung yang sempurna. Alis tebal membingkai sepasang mata cokelat yang tajam, tetapi sorotnya tampak tenang dan dingin. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, memamerkan dahi mulusnya. Jauh dari citra "Bapak-bapak" berumur yang Lembayung bayangkan.
Direktur itu tersenyum, senyum yang sayangnya tidak mencapai matanya, tapi cukup untuk membuat jantung Lembayung berdebar seperti genderang mau perang.
"Selamat pagi. Kamu pasti Lembayung Anindita, mahasiswi magang yang baru?" tanyanya dengan suara yang lembut, sesuai dengan deskripsi Tiara — pria soft spoken.
Suaranya rendah, berat, dan seksi. Suara yang terasa pas di telinga, menghantarkan getaran aneh ke seluruh tubuh Lembayung.
Lembayung membelalak, mulutnya sedikit terbuka karena saking terkejutnya. Semua kata-kata perkenalan yang sudah dia susun rapi di otaknya tiba-tiba lenyap, menguap entah ke mana.
Otaknya benar-benar blank. "Dia bukan bapak-bapak, dia adalah ... dewa ketampanan yang duduk di kursi direktur," batinnya saat ini.
Tapi untunglah Lembayung segera sadar jika dia harus berjuang keras untuk menguasai diri. Dia harus bersikap profesional. Dia harus ingat, dia ada di sini untuk magang dan belajar, bukan untuk mengagumi wajah yang memiliki pahatan sempurna milik seorang Direktur.
Dia segera memantapkan langkah, berjalan masuk ke ruangan mewah itu. "I-iya, Pak. Saya Lembayung Anindita," katanya, suaranya sedikit bergetar. "Saya ... anak magang yang akan membantu Bapak sebagai sekretaris."
Pria itu tersenyum sedikit lebih lebar kali ini. Senyum yang membuat mata Lembayung tidak bisa berpaling dan jantungnya berdebar-debar. “Silakan duduk, Lembayung. Saya Damian. Selamat datang di lantai teratas,” ucapnya, mengarahkan tangan ke kursi kulit di depannya.
Lembayung duduk kaku, matanya masih mencuri pandang ke wajah Direktur yang begitu memukau itu. Di benaknya hanya ada satu pikiran. "Magang ini akan jauh lebih berat dari yang aku duga."
Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena dia harus menahan diri untuk tidak terus-terusan mengagumi wajah Damian selama enam bulan ke depan.
"Saya harap kamu tidak terlalu terkejut dengan penugasan mendadak ini," lanjut Damian, suaranya terasa begitu akrab, tapi tetap formal. "Saya tahu ini tanggung jawab besar untuk seorang anak magang seperti kamu. Tapi saya punya keyakinan pada penilaian kepala HRD. Saya butuh orang yang cepat belajar. Saya harap kamu bisa memenuhi ekspektasi saya, Lembayung."
"Si-siap, Pak," jawab Lembayung, dia berusaha keras agar suaranya terdengar meyakinkan dan profesional.
Damian mengangguk puas. Dia kemudian mengambil sebuah folder tebal dari sampingnya. "Bagus. Saya tidak suka berbasa-basi. Saya sudah menyiapkan daftar tugas awalmu untuk hari ini. Kamu bisa membacanya dan langsung mulai. Kantor sekretaris ada di luar, di depan ruangan ini."
Saat Damian mengulurkan folder itu melintasi meja, tangan Lembayung beringsut untuk menerima. Tanpa sengaja, ujung jari Lembayung menyentuh punggung tangan Damian.
Sentuhan yang singkat itu, meski hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk membuat Lembayung terkesiap. Punggung tangan Damian terasa hangat, sedikit kasar, tetapi sentuhan itu seperti sengatan listrik bertegangan rendah.
Damian menarik tangannya kembali dengan cepat, matanya sedikit melebar. Ekspresinya sesaat terlihat aneh. Lembayung tidak yakin apakah dia merasa risih atau terkejut.
Lembayung menunduk, wajahnya tiba-tiba terasa panas. "Maaf, Pak!"
"Tidak apa-apa," balas Damian cepat, suaranya kembali normal, tetapi nada dinginnya kini lebih kentara. "Itu file pekerjaanmu. Kamu bisa mulai sekarang. Jika ada pertanyaan, gunakan telepon kantor, karena saya tidak suka ada yang mondar-mandir masuk ke ruangan saya."
Ucapan itu seperti cambuk dingin yang langsung menyadarkan Lembayung akan batas profesionalisme. Dia hanyalah seorang anak magang, dan pria di depannya adalah bos besarnya, sosok yang jauh di luar jangkauannya.
"Baik, Pak Damian," ucap Lembayung, dia berdiri dengan kikuk, menggenggam folder itu seolah itu adalah jimat keselamatan.
"Selamat bekerja, Lembayung," tutup Damian, kembali fokus pada dokumennya. Sebuah sinyal jelas bahwa perkenalan telah usai.
Lembayung berbalik dan berjalan keluar ruangan direktur itu dengan langkah yang cepat. Begitu pintu tertutup, dia bersandar di pintu kayu besar itu, untuk mengambil napas dalam-dalam.
Tiba-tiba, dia teringat kata-kata Tiara. “Dia … bakal jadi Bapak yang baik buat kamu.”
Lembayung menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada yang kebapakan dari Pak Damian. Beliau adalah magnet berbahaya yang tidak boleh aku dekati."
Dia berjalan ke meja sekretaris yang kosong, mendudukkan dirinya, dan membuka folder tugas. Jari-jarinya masih terasa panas, seolah sisa sentuhan tak sengaja dengan Damian tadi masih menempel di kulitnya.
Dia mengambil napas lagi, lalu membaca tugas pertamanya dengan semangat yang membara, yaitu menyusun ulang jadwal rapat mingguan dan menghubungi semua manajer yang terlibat. Di ruangan sekretaris yang cukup luas dengan pemandangan kota di sisi lain jendela sangat mendukung produktivitas gadis mungil itu.
Dia berhasil membuat panggilan telepon pertamanya ke beberapa manajer, memperkenalkan diri dengan suara yang sebisa mungkin dibuat dewasa, padahal di dalam hati dia masih merasa malu.
Tepat saat dia hendak menghubungi Manajer Divisi Creative Digital, telepon kantor berdering. “Halo, selamat pagi. Saya Lembayung, sekertaris Pak Damian. Ada yang bisa saya bantu?”
Suara rendah yang memabukan bagi Lembayung terdengar lagi, kali ini melalui speaker telepon, sedikit terdistorsi, tapi tetap saja membutuhkan jantung gadis mungil itu berdebar-debar. Ya panggilan itu dari Damian. “Lembayung. Saya butuh file proposal dari PT Graha Sentosa yang ada di atas mejamu.”
“Baik, Pak. Yang folder biru, benar?”
“Ya, folder biru. Tolong bawa masuk sekarang.”
“Baik, Pak!”
Lembayung segera meletakkan gagang telepon dan bergegas mengambil folder yang dimaksud. Dia buru-buru merapikan rambutnya sebentar — insting seorang perempuan untuk terlihat rapi di depan pria yang disukai — lalu mengetuk pintu ruangan Damian.
“Masuk!”
Lembayung membuka pintu perlahan. Begitu kakinya melangkah masuk, dia langsung berhenti di ambang pintu, menahan langkah.
Itu karena Damian sedang berdiri di dekat jendela besar, membelakangi Lembayung, sambil menelpon seseorang di ponsel pribadinya.
Pemandangan dari belakang itu sama memukaunya dengan dari depan. Kemejanya terlihat pas membalut punggungnya yang kokoh dan bidang. Kemeja itu ditarik sedikit ketat oleh gerakan tubuhnya saat dia memegang ponsel di telinga.
Lembayung terpaku di tempat, tidak berani bergerak.
"Astaga … Pak Damian tinggi banget," gumam Lembayung dalam hati, benar-benar terpesona.
Dari posisi Lembayung berdiri, punggung lebar Damian yang menjulang tinggi itu benar-benar terlihat dominan dan mengesankan. Lembayung harus mendongak untuk melihat bagian atas kepalanya. Punggung itu tampak begitu kuat dan kokoh, seolah bisa menjadi perisai bagi siapa pun yang berdiri di baliknya.
Jika Lembayung berdiri di samping Damian, perbedaan tinggi 30 cm akan membuatnya terlihat seperti anak kecil. Sekali lagi, sindiran teman-temannya pagi tadi kembali menghantuinya.
Lembayung berdiri menunggu, tak berani mengeluarkan suara, karena takut mengganggu pembicaraan penting sang Direktur. Selain itu, dia juga sedang memanfaatkan momen ini untuk mencuri pandang sepuasnya.
"Punggung yang sempurna. Tinggi yang ideal. Wajah yang ganteng. Suara yang seksi. Benar-benar idaman." Gumaman pujian itu tak henti-hentinya bergema di kepala Lembayung.
Dia tidak pernah menyangka bahwa bekerja di dunia profesional akan disajikan dengan pemandangan seindah ini setiap hari. Selama ini, dia hanya melihat sosok-sosok seperti Damian di drama-drama Korea favoritnya. Sekarang, dia berada di ruangan yang sama dengan versi live action dan real-nya.
Damian menyelesaikan panggilan. Dia memasukkan ponselnya ke saku celana bahan yang rapi. Sebelum berbalik, dia menarik napas panjang, seolah pembicaraan tadi cukup membebani pikirannya.
Saat dia berbalik, Lembayung segera menegakkan tubuh, berusaha terlihat profesional dan tidak ketahuan sedang mengagumi punggungnya.
Damian melihat Lembayung, senyum merekah di wajahnya yang tampan. Dia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil beberapa berkas dari tumpukan, lalu berjalan mendekat ke arah Lembayung.
Karena postur Lembayung yang mungil, Damian harus benar-benar menundukkan tubuhnya agar pandangan mereka sejajar. Matanya yang tajam menatap ke mata gadis mungil itu. “Tolong berikan berkas ini ke Divisi Arsip, ya!”
Sementara Lembayung harus mendongak sepenuhnya untuk menatap wajah Damian. “B-baik, Pak!” Dia bertukar berkas dengan Damian, tangannya yang sedikit gemetar.
Setelahnya, Lembayung membalikkan badan, berniat untuk kembali ke ruangannya. Namun, saat dia berjalan dua langkah menuju pintu, menggenggam berkas di tangannya erat-erat ....
Suara Damian terdengar dari belakang. Kali ini sangat pelan, hampir seperti gumaman pribadi, tetapi karena ruangan yang hening dan pendengaran Lembayung yang sensitif, dia bisa menangkapnya.
"Lucu banget. Kayak bocah SD."
Langkah Lembayung seketika terhenti. Darah Lembayung mendidih. Sindiran teman-temannya pagi tadi memang terasa menggelitik, tapi ketika itu keluar dari mulut Damian, sang Direktur yang baru dia puja-puja beberapa menit yang lalu, rasanya sungguh menusuk harga diri.
Hal itu membuat Lembayung berpikir jika, seberapa keras pun dia berusaha profesional dan bersikap dewasa, tubuhnya yang pendek selalu menjadi batu sandungan.
Lembayung berbalik, rasa kesal tumpah ruah begitu saja tanpa disaring oleh akal sehatnya. Dia memelototi Damian. “Bukan saya yang pendek! Tapi Bapak yang ketinggalan! Dasar siluman pemakan bambu!”