bc

Terjerat Cinta Direktur Duda

book_age18+
50
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
campus
city
office/work place
secrets
like
intro-logo
Uraian

Spin off novel berjudul : Cinta Terlarang Adik Tiriku Damian sudah lama membangun dinding setinggi langit di hatinya. Pria itu pernah diselingkuhi istrinya — pernikahan yang hancur berkeping-keping hingga membuat dia menutup diri dari perempuan mana pun.Dan ketika dia akhirnya menemukan gadis yang sempat membuat hidupnya kembali berwarna … gadis itu memilih menikah dengan pria lain. Sejak saat itu, Damian menyimpulkan jika perempuan adalah makhluk yang hanya membawa luka.Namun segalanya berubah ketika seorang mahasiswi magang datang ke perusahaan tempatnya bekerja.Lembayung, gadis manis dengan semangat cerah yang kontras dengan keheningan hati Damian. Senyumnya menghangatkan, suaranya menenangkan, tanpa Damian sadari, gadis itu menembus perlindungan yang sudah bertahun-tahun dia bangun.Haruskah Damian kembali percaya pada cinta? Atau justru memilih menjauhi Lembayung untuk menjaga batas, dan menjaga hatinya dari kemungkinan patah ketiga kalinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1. Damian dan Lembayung
“Aku lihat-lihat, Lembayung tuh kayak anak SMP yang nyasar ke gedung perkantoran!” Kalimat itu keluar dari mulut Erika saat dia dan teman-teman kampusnya yang lain berjalan memasuki gedung kantor PT Caraka Adikarya. Lembayung otomatis mendelik, gadis berwajah baby face dengan tinggi badan 155 cm itu mencembikkan bibirnya. "Dasar! Mentang-mentang kamu tinggi, jadi seenaknya ngatain aku!" Alina merangkul pundak Lembayung sambil terkekeh. “Tapi bener loh kata Erika. Lihatlah di sekitarmu, Yung! Teman-teman yang lain vibes-nya kayak calon eksekutif muda, tapi kamu satu-satunya yang vibes-nya first day of school.” "Ih ... apaan sih kalian!" Lembayung menepis tangan Alina, memasang wajah jutek. “Padahal aku udah pake blazer plus make up. Masak iya vibes-nya tetep kayak first day of school!” Mereka semua tertawa, merasa senang bisa menggoda Lembayung di pagi yang penting ini. Hari ini adalah hari pertama mereka memulai program magang selama enam bulan di PT Caraka Adikarya. Semua berjalan dengan langkah yang bersemangat dan sedikit canggung, mengagumi lobi PT Caraka Adikarya yang megah. Dinding marmer mengilap, lampu kristal besar tergantung di langit-langit tinggi, dan aroma kopi mahal yang samar-samar tercium dari coffee shop yang di sudut lobi menciptakan suasana profesionalisme yang mewah dan mendebarkan. “Tadi malam aku nggak bisa tidur tahu, saking excited-nya,” bisik Rama, satu-satunya teman pria di kelompok mereka. Rambutnya disisir rapi, dan pakaiannya birunya tampak lebih formal dari biasanya. “Sama! Aku sampai bolak-balik ngecek e-mail buat pastiin jam masuknya nggak salah,” timpal Erika, sambil merapikan scarf sutra di lehernya. Lembayung hanya bisa tersenyum simpul, rasa gugupnya terkalahkan oleh kegembiraan. Dia adalah mahasiswa semester akhir dari jurusan Administrasi Bisnis yang bercita-cita tinggi. Baginya, magang di perusahaan sekelas PT Caraka Adikarya adalah lompatan besar. Dia harus membuktikan bahwa meskipun penampilannya tampak kekanak-kanakan, otaknya jauh lebih cerdas dan siap bersaing. Langkah kaki mereka membawa mereka ke meja resepsionis, di mana seorang wanita berwajah cantik dan berpenampilan formal menyambut mereka. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan power suit berwarna navy menghampiri. Beliau adalah Dina, Kepala Divisi Human Resources Development (HRD) yang akan mengurus perkenalan mereka. Dina menyambut mereka dengan senyum ramah, sepasang mata teduhnya meneliti satu per satu wajah mahasiswa yang penuh harap di depannya. “Selamat datang di PT Caraka Adikarya. Kami senang kalian memilih perusahaan kami untuk tempat kalian menimba ilmu dan pengalaman. Kami percaya, kalian adalah talenta-talenta terbaik yang akan memberikan perspektif baru bagi perusahaan kami.” Setelah sambutan singkat, Dina menjelaskan prosedur magang dan ekspektasi perusahaan. Suasana hening, semua orang mendengarkan dengan saksama. Puncaknya tiba saat Dina mulai membagikan penempatan tugas magang. “Baiklah, saya akan sebutkan penempatan kalian. Tolong dengarkan baik-baik,” ujarnya sambil memegang selembar print out di tangannya. Erika ditempatkan di Divisi Pemasaran, Rama di Divisi Keuangan, Alina di Divisi Creative Digital. Penempatan mereka tampak sesuai dengan minat dan latar belakang akademis masing-masing. Semua nama sudah disebut, kecuali Lembayung. Jantungnya mulai berdebar kencang. Dia menatap Dina dengan cemas sambil membatin, "Jangan-jangan aku nggak dapat tempat?" Dina mengalihkan pandangannya ke Lembayung, ada senyum tipis, entah apa maknanya. “Dan yang terakhir, Lembayung, karena kebutuhan mendadak dan setelah melihat hasil evaluasi psikotes dan wawancara yang menunjukkan kemampuan adaptasi dan organisasi yang sangat baik ... kamu akan ditempatkan di lantai paling atas, sebagai Sekretaris Direktur Produksi.” Deg! Lembayung membelalakkan mata karena terkejut. Tapi ternyata yang terkejut bukan hanya dia saja, melainkan semua temannya. “Sekretaris Direktur Produksi, Bu?!” Lembayung berseru tanpa sadar, suaranya sedikit meninggi. Dina mengangguk. “Benar, Nak. Saya tahu ini mendadak dan mungkin tidak terduga, tapi sekretaris Direktur Produksi, Ibu Mita, sedang cuti melahirkan mendadak. Bayinya lahir prematur kemarin. Kami butuh pengganti yang cakap dan bisa langsung bekerja tanpa pelatihan bertele-tele. Tim kami menilai kamu yang paling siap untuk posisi fast-paced ini.” “Tapi, Bu … saya kan cuma anak magang. Saya nggak punya pengalaman apa-apa,” ujar Lembayung, dia merasa kakinya lemas. Tugas sebagai sekretaris direktur? Itu adalah tanggung jawab besar yang biasanya diemban oleh profesional berpengalaman. Dia merasa dirinya, dengan penampilan baby face-nya, tidak cocok sama sekali. Dina tersenyum menenangkan. “Tenang saja. Nanti kamu akan dibimbing oleh para sekretaris yang lain kok. Tugasmu akan disesuaikan dengan kapasitasmu sebagai anak magang. Anggap ini adalah kesempatan emas yang tidak semua orang dapatkan.” Alina menyikut lengan Lembayung pelan, matanya menyiratkan pujian, sambil berbisik, "Gila, jackpot! Kamu bisa nyentuh jajaran elit PT Caraka Adikarya!" Setelah pembagian tugas, Dina menyerahkan mereka kepada Tiara, seorang wanita berkacamata yang terlihat cekatan dan teratur. Tiara lah yang akan mengantar mereka semua ke divisi masing-masing. “Baiklah, semuanya ayo ikuti saya! Kita akan mulai dari lantai bawah, lalu naik perlahan sampai ke lantai atas,” jelas Tiara sambil memimpin rombongan kecil itu menuju lift khusus karyawan. Mereka naik perlahan. Di lantai 5, Erika turun untuk bergabung dengan tim Marketing yang ramai. Di lantai 8, Rama turun ke ruang Divisi Keuangan yang terlihat hening dan serius. Lalu, Alina di lantai 12, di tengah kantor berdesain modern yang penuh warna milik Divisi Creative Digital. Kini, di dalam lift hanya tersisa Lembayung dan Tiara. Semakin tinggi lift bergerak, semakin hening pula suasana di dalam lift. Lantai 15 ... Lantai 18 ... Lantai 20 ... Setiap angka lantai yang menyala seolah membawa Lembayung semakin dekat ke puncak kekuasaan di perusahaan ini. “Bagaimana perasaanmu, Lembayung?” tanya Tiara memecah keheningan, suaranya lebih lembut dari sebelumnya. “Eh, saya … saya merasakan perasaan yang campur aduk, Bu,” jawab Lembayung jujur. “Senang karena dapat kesempatan ini, tapi juga sangat gugup, karena saya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi.” "Iya, wajar." Tiara tersenyum dan mengangguk. “Pesan saya satu saja, kamu harus tahu, lantai atas ini, tempat para elit dan pembuat keputusan utama, suasananya pasti berbeda, lebih eksklusif dan lebih tenang. Jadi kamu harus selalu profesional dan sigap.” Lift terus naik, hingga akhirnya mencapai angka tertinggi di tombol 25. Ketika pintu lift terbuka, Lembayung merasakan perbedaan atmosfer yang drastis. Lantai 25 terasa jauh lebih tenang dan berkelas dibandingkan lantai-lantai di bawahnya. Karpet tebal berwarna gelap meredam suara langkah kaki, lukisan abstrak tergantung rapi di dinding, dan petugas keamanan dengan earpiece berdiri menjaga lorong. Hanya ada beberapa pintu di lantai ini, yang jelas merupakan ruang kerja untuk jajaran eksekutif tertinggi. Tiara berjalan memimpin, di ujung lorong, ada sebuah pintu ganda besar terbuat dari kayu dengan ukiran minimalis yang elegan. Di samping pintu itu terdapat meja resepsionis yang kosong. “Ini ruangan Direktur yang akan jadi atasan kamu selama emam bulan ke depan,” bisik Tiara. “Sekarang, kamu masuk sendiri, ya! Perkenalkan diri kamu kepada beliau!” Lembayung menelan ludah. Rasa gugupnya kini berubah menjadi ketakutan. “Maaf, Bu. Bolehkah saya tanya, Direkturnya ini perempuan atau laki-laki, ya?” Tiara menoleh, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, lalu dia tersenyum geli. “Beliau laki-laki, namanya Pak Damian.” “Galak nggak, Bu?” tanya Lembayung lagi, dia membayangkan sosok direktur tua dengan kumis tebal yang menyeramkan. Tiara tertawa — tawa yang lembut dan menenangkan. “Enggak, kok. Pak Damian itu soft spoken. Tenang saja. Dia … dia bakal jadi Bapak yang baik buat kamu selama di sini.” "Terimakasih infonya, Bu." Lembayung mengangguk sambil membatin. “Pasti Pak Damian sudah berumur. Makanya Bu Tiara bilang kalau dia bakal jadi Bapak yang baik buat aku. Semoga saja beliau tidak galak.” Stereotip direktur yang sudah berusia paruh baya dan berwibawa langsung memenuhi benak benak gadis mungil itu. Dia merasa sedikit lega karena akan berhadapan dengan sosok sift spoken yang kebapakan. “Semangat ya, Dek!” seru Tiara sambil menepuk pundak Lembayung . “Saya harus kembali ke bawah. Ini saatnya kamu menunjukkan keberanianmu. Ketuk pintu itu, masuk, dan perkenalkan dirimu sendiri. Ingat, first impression itu penting.” Lembayung menarik napas panjang, mencoba memantapkan hati. Ia meraih pegangan pintu kayu yang dingin dan besar itu. "Permisi ...," ucapnya pelan. Setelah mendapat izin masuk dari dalam, dia membuka pintu. Ruangan itu luas, dengan jendela kaca setinggi langit-langit yang menawarkan pemandangan seluruh kota Jakarta yang tampak kecil di bawah sana. Kantor itu didominasi warna abu-abu gelap, putih, dan kayu oak yang mewah, memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan yang tenang. Mata Lembayung langsung tertuju pada satu titik, yaitu pada sosok yang duduk di balik meja kerja raksasa. Sosok itu sedang serius membaca sebuah dokumen, memakai kemeja biru muda yang pas membalut tubuh atletisnya, dengan lengan digulung hingga siku. Pergelangan tangannya dihiasi jam tangan mewah yang memantulkan cahaya. Dia tidak sedang memakai jas, tetapi auranya lebih kuat dari siapa pun yang memakai seragam lengkap. Pria itu mengangkat kepala, menatap Lembayung yang berdiri kaku di ambang pintu. Detik itu juga, napas Lembayung tercekat.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
315.3K
bc

Too Late for Regret

read
322.1K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
145.3K
bc

The Lost Pack

read
441.1K
bc

Revenge, served in a black dress

read
154.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook