Chapter 121

1146 Kata

Ketika beberapa orang mendengar kata-kata ini, mereka hampir muntah darah karena marah. Jika tatapan mereka bisa berubah menjadi pedang, maka Ratih saat ini sudah mati seratus kali. “Apa katamu?” Pekiknya marah. Hilang sudah ketenangan khas gadis bangsawan yang sedari tadi dia jaga di depan Tengku Ammar. Bahkan ketiga rombongan Datuk ini hampir pingsan mendengar kata-kata Ratih yang tidak bermoral. “Bagaimana mungkin seorang cucu sultan bisa menjadi selir? Dasar perempuan murahan. Jika kamu ingin menghina, Puteri Nurzahira tidak bisa kamu tindas. Berapa banyak kepala yang kamu miliki untuk menebus kata-kata ini?’ Datuk Fahmi yang penuh kebencian sudah berdiri dengan wajah marah. Dia berulangkali menunjuk batang hidung Ratih. “Ammar, hari ini kamu lihat, betapa celakanya kamu memilih

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN