Nurzahira merasa sedikit harapan ketika Tengku Ammar perlahan berbalik dan mendekat. “Bukan itu. Aku hanya ingin kamu jangan terlalu kasar.” Bisik Ratih serba salah. Tengku Ammar mengambil saputangan di kantongnya dan menyerahkan pada Puteri Nurzahira, “Puteri, kamu tidak layak menghabiskan banyak waktu untuk orang sepertiku. Lagipula, aku tidak punya waktu untuk mengurus dua istri. Aku terlalu sibuk.” Dia berbalik dan meraih tangan Ratih untuk mengajaknya pergi. Namun beberapa saat kemudian dia berhenti lagi. “Dan saputangan itu milik istriku. Jangan lupa untuk mengembalikannya.” Ujarnya tanpa perasaan. Wajah Nurzahira yang semula penuh kesedihan dan harapan berubah muram dan dingin. Dia membuang sapu tangan itu seolah itu adalah benda menjijikkan lalu dia berbalik untuk kembali

