“Ratih, akhirnya kau mengatakannya.” Tengku Ammar mengepalkan tangannya dan tersenyum haus darah. Ratih tertegun dan menatapnya dengan tak percaya. Setelah beberapa saat, dia tampak sadar kembali dan bergumam, "Kau... Kau tahu segalanya?" "Aku baru tahu. Kalau bukan karena ini, apa kau tidak akan memberitahuku seumur hidup? Bawa dia pergi dan meninggalkan aku dalam keadaan menyesal selama sisa hidupku?" tanya Tengku Ammar. Ratih merasa bersalah dan tidak dapat menahan diri untuk menundukkan kepalanya, tidak berani menatap matanya. Namun dia dengan cepat bereaksi dan segera meraih lengan Tengku Ammar dan bertanya, "Apakah Raihan dan Rayyan ada di tanganmu?" "Tidak." Kata Tengku Ammar dingin. Darah Ratih seakan membeku dalam sekejap, dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Dia berdir

