Kenyamanan Hafiz tidak membuat Ratih merasa nyaman. Dia pulang ke rumah pada malam hari dan menelepon Tengku Ammar seperti biasa. Beberapa kali, dia tidak bisa menahan keinginannya untuk bertanya apakah dia telah melihat Zarina di sana. Tetapi dia menelan kata-kata itu ketika sudah di ujung lidahnya, karena tidak peduli bagaimana dia mengucapkannya, itu kedengaran seperti dia sedang cemburu. "Ada lagi?" tanya Tengku Ammar. Ratih menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak apa-apa. Sudah larut malam. Aku mau tidur." "Baiklah, aku punya janji dengan seorang teman. Sudah hampir waktunya untuk pergi ke sana," kata Tengku Ammar. Ratih ingin sekali bertanya, "Kamu punya janji dengan teman seperti apa?" Tetapi dia tidak dapat mengatakannya, jadi dia hanya bisa menutup teleponnya dengan c

