BAB - 16

4624 Kata
Nadya Sejujurnya aku sangat stress dan frustasi sampai-sampai aku mencoba untuk minum bir di tempat nge-beer yang ada di kota ini. Keramaian membuatku mengalihkan pikiranku sejenak daripada berdiam saja di tempat yang sunyi. Marco menemaniku sampai sekarang. Ia merendahkan kepalanya, menatapku dengan satu alis terangkat. "Mau mesen lagi kamu?" Aku menggeleng. Satu botol saja aku sudah cukup. Aku tidak mau melampiaskan apa yang kurasakan ke dalam tubuhku sendiri. Aku tidak mau tubuhku rusak hanya karena orang-orang yang membuatku harus terbuang pada dasar lautan yang mengerikan.              "Sayang, aku tau gak mudah buat kamu," ujar Marco seraya menggenggam tanganku yang jari-jariku tadi tengah menari-nari di atas meja. Aku menahan kepalaku miring dengan satu tangan yang menumpu di atas meja. "Tapi apapun yang kamu katakan pada kakak kamu itu sama sekali gak membantu, justru dia semakin down. Dia bakal merasa udah kehilangan satu-satunya orang yang dia punya." Marco menghela napas, menarik dirinya agak menjauh, duduk tegap. Melepaskan tanganku yang tadi ia genggam. Aku hanya bisa diam. "Dia frustasi dan butuh dukungan kamu sayang," katanya lagi. Barulah aku duduk tegap. Menatapnya lebih dalam lagi, dengan rasa sesak yang membuatku terasa pengap. Sulit bernapas rasanya. "Kamu pikir aku gak frustasi? Aku bahkan udah lama depresi mikirin masalah ini tapi aku pendam sendiri kamu tau itu." Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain, di mana banyak anak muda-mudi menghabiskan waktu malam minggunya dengan nongkrong dan berpesta ria dengan minuman alkohol itu. "Aku sampai bertanya-tanya, di saat kayak gini... papa sama sekali gak peduli sama kondisi kak Dinda. Dia cuma nyari aku padahal ada anak satunya lagi yang butuh dia tapi sejahat itu dia membuang kak Dinda, karena dia udah buat aib dikeluarga aku." Aku meremas kepalaku yang berdenyut tiba-tiba. Marco berpindah tempat, memelukku dari belakang. Dia mencoba untuk menenangkanku. Tubuhku bergetar. Aku menangis. Rasanya aku ingin menghancurkan benda yang ada di sekitarku. Aku capek hidup kayak gini terus.             "Marco...," panggilku. Marco melepaskan rangkulannya yang sejak tadi, bahuku pun diusap-usap terus olehnya supaya aku bisa lebih tenang. "Aku belum bilang sesuatu sama kamu." Marco penasaran. Mengambil kursi untuk duduk lebih dekat, di sampingku.             "Minggu depan nanti aku berangkat ke Paris untuk pergelaran busana di sana," kataku. Ekspresinya berubah sedih. Aku mengibaskan rambutku ke belakang. Mengusap wajahku pelan. Aku tidak mau terlihat lemah. Air mata ini tidak boleh lagi jatuh. Aku harus kuat. Aku harus bangkit. Aku gak mau hidup aku hancur kalau aku sampai tidak bisa berdiri di atas kakiku. Dunia ini terlalu kejam untuk dirasakan. Bila aku lemah, aku bisa terinjak-injak.            "Minggu depan?"             "Iya!" jawabku tegas dan serius.             "Kok kamu gak bilang sama aku kalo bakal pergi ke Paris?" tanyanya kaget tapi aku bisa merasakan ada amarah yang ia tahan.             "Aku belum sempat, kamu tau, 'kan aku sibuk banget," ucapku lemas. Aku rasanya mau istirahat. "Besok kita harus ke Jakarta, setelah itu ada banyak persiapan yang aku urus, setelah itu aku harus terbang ke Paris. Padet, lho, jadwalku," terangku pelan, yah, aku harap dia bisa mengerti aku yang sekarang banyak sekali kegiatan.            "Sebenarnya prioritas kamu itu apa, sih?" tanyanya tiba-tiba.            "Kok kamu nanya gitu?"            "Jawab aja, gak susah, 'kan tinggal jawab doang?"            "Ya karir lah, apalagi?" Aku mengernyitkan dahi ketika menjawab pertanyaannya secara cepat dan jelas. "Karir, pekerjaan, dan semua cita-cita aku yang belum kesampaian."           "Terus hubungan kita itu bukan prioritas kamu juga?" tanyanya dengan muka datar. Aku memincingkan mataku sedetik kemudian aku terkekeh geli. Menggelengkan kepala sambil tertawa pelan lalu kuteguk sekali lagi minuman yang tadi.           "Kita jangan bicarain soal prioritas ya, yang penting itu hubungan kita baik-baik aja, 'kan dari dulu. Masalah paling cuma soal waktu kita doang, kamu juga sibuk sama pekerjaan kamu sebagai manager kontraktor, aku juga sibuk dengan profesi aku..."           "Tapi aku berusaha meluangkan waktu aku buat kita," selanya cepat. "Terus kamu mana aku tanya? Ada usaha gak kamu buat hubungan kita? Kamu itu orangnya apa-apa menyepelekan masalah aja sementang aku diam. Aku pikir, diamnya aku bisa kamu pahami selama ini, tapi kamu malah makin jadi."            "Kok kamu jadi marah-marah gini, sih? Harusnya kamu bisa ngertiin aku dong!" Aku memajukan wajahku, mendekat ke wajahnya. "Aku.lagi.naik.daun!" tekanku tiap kata yang kusebut. "Kamu tau kalo orang lagi banyak job, fokusnya itu cuma satu. Ketika kita mau menggapai mimpi-mimpi kita, fokus kita itu cuma satu. Benar, 'kan aku? Jadi, please, jangan pake drama. Aku gak suka!"            "Oke.. kalo itu mau kamu, aku pulang duluan ke Jakarta," putusnya yang lalu meninggalkanku tiba-tiba. Aku sempat terkejut atas kepergiannya namun aku tidak mengejarnya. Aku memang terikat oleh hubungan, karena itu pilihanku ketika aku sudah jatuh hati pada seseorang. Aku jatuh cinta padanya. Tapi, rasa cintaku tidak boleh membuatku berada di bawah kendalinya. Ketika aku telah memutuskan untuk menerimanya, aku berpikir dan aku pastikan hubungan ini tidak didominasi olehnya, aku tidak mau kalau lelaki sampai memegang kendali atas hidupku, atas tubuhku, atas apa yang aku inginkan. Marco memang seseorang yang sangat sabar dan bisa memahami diriku. Dia bukan lelaki b******n yang semena-mena pada perempuan. Aku sekalipun tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa-siapa sebelum aku mengenalnya. Dan dia lelaki pertama yang kuterima dalam hidupku ini. Di luaran sana banyak perempuan yang terjebak pada hubungan toxic dan aku tidak mau sampai aku merasakan hal itu, aku tidak mau hal yang tidak kuinginkan menimpa diriku. Aku perempuan yang harus kuat ketika diterpa badai. Ketika ada seseorang yang mau menyakiti. Ketika harus melawan lelaki yang kurang ajar, aku harus siap bela diri. Membela diriku, menyelamatkan diriku, dan tidak terpengaruh oleh kata-kata manis dari lelaki. Tidak semudah itu. Karena, itu karakterku yang mandiri dan keras kepalaku ini yang sangat mendominasi diriku hingga sampai hari ini. Hal itu yang tidak menjadikanku sebagai perempuan lemah yang tidak berdaya. Aku berani bicara ketika menurutku ada yang salah tapi aku memang sulit untuk mengakui kesalahan diriku sendiri. Aku terlalu banyak memberi makan ego sampai kusadari, aku merasa hubungan ini menjadi racun untuk Marco karena diriku sendiri. Kadang kalanya dengan sikapku ini dia merasa tidak berguna di dalam hidupku. Aku seakan selalu tidak membutuhkan dirinya sedangkan dia berusaha ada untukku. Menunjukkan kalau dia lelaki yang terbaik, yang pantas bersanding denganku. Lelaki terbaik yang berusaha pasang badan untuk melindungiku. Lelaki terbaik yang menjadi figur seorang ayah pada anaknya. Aku teringat ketika masa kuliah. Sebelum kita menjadi sepasang kekasih. Betapa tulusnya dia membantuku mengerjakan skripsi padahal aku sudah bilang padanya. "Gue bisa sendiri," tolakku ketika dia mau membawakan buku-buku yang bertumpuk yang tengah kubawa.             "Udah, sini, gue gak bisa biarin cewek bawa yang berat-berat." Aku mengizinkannya. Bukan karena aku merasa lelah, tapi aku terpesona olehnya. Aku sudah berusaha menjauhkan dirinya dari hidupku tapi ia semakin mendekat. Bahkan, ketika aku dinyatakan lolos menjadi model majalah, dia suka rela menjadi supirku, menemani aku di saat pemotretan sampai ketika kita sudah berpacaran, rasa perhatian ia semakin bertambah. Bukan lelaki yang sudah dapatkan perempuan yang dia mau, perhatiannya malah berkurang dan tidak seintens ketika masa PDKT. Marco beda. Sangat beda. Saat aku harus mengikuti casting untuk suatu film, pun dia rela di tengah kesibukannya sebagai manager project saat itu, dia lulusan teknik sipil, pekerjaannya pun benar-benar menguras tenaga, tapi dia tetap ada untukku. Ketika shooting film pun yang kadang sampai larut malam, dia masih menungguku, masih menemaniku, sangat memerhatikan pola makananku. Marco seperhatian itu. Sekarang, aku merasa bersalah. Sangat-sangat bersalah. Aku memang terlalu gengsi untuk mengakui kesalahanku dan malah balik marah padanya atau pada siapapun karena aku merasa aku benar, tidak ada yang salah dengan caraku, dengan sikapku, dengan perkataanku. Tapi, kali ini rasanya beda ketika melihat dia meninggalkanku begitu saja. Aku menggigit jari. Rasanya aku mau benturkan kepalaku ini. Kenapa masalah harus datang bertubi-tubi? Aku menyalakan hpku yang menganggur di atas meja. Menimbang-nimbang haruskah aku menghubunginya? Ah, tapi aku pikir gak enak kalau bicara lewat telphone apalagi dia pasti sedang marah sekali sama aku. Aku bakal cari waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Aku menghubungi asistenku lebih dulu untuk menjemputku di Cafe karena aku ke sini tidak membawa mobil. Namun, ketika aku berdiri hendak keluar, suasana cafe memang minim cahaya dan irama musik yang lumayan keras. Tapi, walau begitu aku yakini penglihatan ku tidaklah salah kalau ada seorang pelayan perempuan yang sedang digangguin oleh para lelaki yang sedang berkumpul. Aku tahu, ada yang tidak beres. Firasatku tidak akan salah untuk hal ini. * * * * Zahira             Sebagai mahasiswi yang menyambi bekerja di sela-sela perkuliahan, aku dilatih untuk belajar disiplin pada waktu dan menjadi manusia yang bertanggung jawab pada pekerjaan, pada tugas kuliah, yang diamanahi juga pada latihan-latihan perlombaan yang aku ikuti karena aku membawa nama universitas ku sendiri. Tentu, aku harus membawa nama baik dan mewakili kampusku. Banyak prestasi yang sudah aku torehkan dalam karya tulisan ilmiah, salah satunya dalam ajang National Essay Writting Competition sebagai juara I tingkat nasional. Aku juga mewakili nama kampus di berbagai daerah ditemani rekan-rekan dan dosenku tentunya. Semua itu aku lakukan untuk tidak menyia-nyiakan waktuku daripada hanya habis untuk melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Besok aku ada ujian, namun aku harus bekerja. Aku baru pulang dari kampus lalu aku harus bergegas untuk pergi lagi.            "Kau nio ka mano?" (Kau mau ke mana?) tanya ayah tengah berdiri di ambang pintu. Menonton aku sedang memasukkan buku ke dalam tas selempanganku.             "Z---Zahira nio ka rumah teman, Yah. Mau kerjakan tugeh," jawabku agak terbata dan takut. Aku mengambil tas dan menyelempengkannya ke bahu, aku mengulurkan tangan untuk menyalimi ayah sebelum pergi tapi ayah malah menepisnya dan melewatiku masuk ke dalam kamar untuk tidur. Aku cuma bisa diam lalu lekas pergi. Dari Jatinangor menuju Bandung aku menggunakan travel atau shuttle karena travel atau shuttle ini memiliki jam yang pasti juga cepat juga apalagi aku yang harus pulang malam. Sesampai di sana, aku masuk kamar mandi untuk mengganti baju dengan seragam. Sejak tadi, aku tidak melihat kak Ziko. Aku pun menghubunginya. Ternyata setelah aku telephone, dia ijin tidak bisa masuk karena sedang tidak enak badan. Mungkin, dia kelelahan belum lagi dia sedang mengejar skripsi agar cepat selesai.              Hari ini semua berjalan dengan baik. Pengunjung belum terlalu ramai berdatangan, karena itu disela-sela pekerjaanku ini, aku menyempatkan mengerjakan tugasku agar tidak kelimpungan nantinya. Rasa lelah, kantuk sudah makanan sehari-hari ku. Sulit sekali ya menjalani hidup ini, hingga untuk meraih kesuksesan nanti. Seandainya saja ayah bisa memahami diriku, mau menyemangati diriku, mau mendukungku, mau menjadi orang pertama yang berperan besar dalam pendidikanku, aku yakin sesulit apapun kehidupanku, aku tidak akan kehilangan kekuatan. Ada ayah yang berusaha ada untukku. Bukan ayah yang memintaku untuk menuruti egonya. Bukan ayah yang memaksa anaknya menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai sama sekali. Bukan ayah yang menikahkan anaknya demi harta yang ia inginkan. Ayah, Zahira tahu, kalau ayah pasti akan sangat marah besar pada Zahira jikalau ayah tahu ternyata Zahira selama ini berbohong pada ayah. Ayah, Zahira tahu ayah tidak akan suka bila Zahira pulang sampai larut malam. Ayah, seandainya saja ayah tahu, Zahira hanya berusaha yang terbaik dalam hidup Zahira. Zahira hanya berusaha untuk bertahan hidup di kota orang karena Zahira tidak mau membebani kalian. Ayah, sebenci apapun ayah pada Zahira, cinta Zahira pada ayah, kasih sayang Zahira pada ayah, tidak akan sekalipun berkurang barang sedikit pun. Ayah tetaplah cinta pertama Zahira yang akan Zahira bahagiakan suatu hari nanti. Tunggu, yah, Yah. Tunggu sampai Zahira menjadi orang yang sukses. Zahira akan pastikan mimpi itu akan terjadi dengan restu Allah. Zahira juga minta restunya pada ayah dan bundo, yaaa...             Seiring tiap kalimat yang kurangkai di atas kertas yang menjadi benda untukku lampiaskan segala keluh kesah ku, bayangan-bayangan bagaimana aku bisa bertahan sampai hari ini itu terus terulang bak rekaman film yang terus berputar. Tanpa sadar, air mataku menetes. Mendadak hatiku terasa nyeri, sakitku yang kutahan sejak lama akhirnya tumpah ruah di sini. Di tempat pekerjaanku. Tempat yang menjadi saksi ku mencari pundi-pundi uang untuk terus bisa membiayai hidup sampai hari ini. "Zahira," panggil seseorang. Ketika aku menoleh ke samping ada Kak Rika. Dia duduk di kursi bar, menaruh nampan yang di atasnya ada gelas, mangkuk kaca dan tisu. Dia habis membersihkan meja sepertinya setelah pengunjung selesai makan. "Kamu kenapa nangis?" tanyanya khawatir. Aku menggeleng sambil tersenyum tipis, tipis sekali. Kuusap wajahku dengan punggung tangan. "Aku gapapa, kak," lirihku pelan sambil menundukkan kepala. Tidak berani menatapnya sama sekali. "Ra... Kamu itu bukan orang lain buat aku, tapi udah kayak adik aku sendiri, kamu dan Ziko, udah kayak sodara buat aku." "Ah... A---aku cuma lelah aja kak." Aku sedang tidak berniat untuk bercerita karena aku rasa tidak perlu semua orang tahu tentang masalahku. Dia menyentuh tanganku. "Aku tau sebenarnya masalah kamu, Ziko yang cerita." Aku cukup kaget atas penuturannya. "Kamu jangan marah sama Ziko, ya," pintanya. Sebetulnya aku tadi memang kesal kenapa kak Ziko tidak menepati janjinya untuk menjaga rahasiaku, tentang apapun yang aku ceritakan.             "Aku tau semua masalah kamu, gimana kamu yang jauh dari Padang datang ke sini, aku memaksa Ziko untuk cerita ke aku karena kamu terlalu pendiam dan terlalu tertutup pada orang lain, padahal aku itu dekat sama kamu lebih jauh seperti seorang kakak dengan adiknya karena aku sering liat kamu suka nangis tiba-tiba, makanya hati aku tergerak untuk mencari tahu masalah kamu," ungkapnya membuatku sedikit tercengang. "Bahkan tentang masalah kamu yang dilecehkan oleh anak atasan kita, aku juga sudah tahu itu." Kali ini aku dibuat kaget atas penjelasannya. Apakah aku terlalu tertutupkah sampai aku tidak sadar ternyata ada orang lain yang peduli bahkan sangat peduli dengan diriku. Selama ini aku memang menjaga diri untuk tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam kehidupanku lebih jauh lagi. Aku tidak mudah untuk percaya pada orang. Tapi, bukan berarti aku tidak bergaul dengan orang-orang dalam lingkungan sosial, hanya saja memang aku tidak suka bila ada orang yang tau tentang kehidupan pribadiku. Hanya pada Mariana dan kak Zikolah yang bisa aku percayai sampai sejauh ini.            "Cerita kamu itu sangat menginspirasi aku Zahira. Kamu tau aku anak pertama dan aku punya anak lelaki yang masih kecil."            "Seumuran dengan Zahra kah?" tanyaku spontan. Aku baru sadar kelepasan.            "Zahra?"            "Emh... Ng... Nggak maksudku..."            "Mungkin, iya. Mereka seumuran dengan gadis yang kamu maksud, masih lima tahun." Bibirku terkatup rapat. Benar tebakanku. Kulihat kak Rika melirik kertas yang basah terkena air mata selepas aku menulis isi hatiku.             "Boleh aku baca?" pintanya yang ragu-ragu aku berikan padanya. Ia tersenyum senang sekali, melihatnya aku jadi ikut tersenyum hangat. Senyumannya mengingatkanku dengan sahabatku bernama Tiara, sahabatku yang ada di Padang. Mendadak aku merindukan teman SMA ku. Tiara dan Sari. Sampai saat ini aku tidak lagi kontakan sama mereka. Aku bertanya-tanya, bagaimana kabar mereka saat ini.             "Tulisan kamu ini... Aku bisa merasakan kalau kamu memang benar-benar tulus Zahira, rasa sayang kamu pada keluarga kamu untuk mengubah nasib kalian, seandainya saja ayah kamu tau kalau anaknya saat ini tengah berjuang mati-matian," katanya penuh perasaan. "Dulu waktu aku masih muda aku... aku sumpah bodoh banget, sih, menyia-nyiakan masa muda aku dengan memilih menikah dengan pria kaya raya. Dia pengusaha, waktu SMA itu aku kenal sama dia. Yah, kamu taulah ketika kita ketemu sama orang yang kita suka terus kita jatuh cinta, kita merasa dia itu yang satu-satunya dan kayak jodoh yang udah Tuhan datangkan buat kita." Dia menghela napas panjang. Aku ikut hanyut dalam ceritanya. "Mama sama papa jelas kaget dengan keinginanku untuk menikah muda dengan lelaki yang usianya lumayan jauh dengan usia aku. Papa mau aku itu tetap fokus belajar, tapi aku gak mau. Aku udah bosen aja belajar, aku gak pernah serius dalam pendidikanku. Aku juga dimanja banget sama mama karena fasilitas yang aku dapetin membuat aku berpikir segalanya terasa mudah. Keinginanku untuk menikah pun akhirnya direstui sama mama papa aku karna aku, 'kan anaknya ya lumayan keras kepala, ya segalanya maunya harus diturutin. Aku menikah dengan lelaki yang aku mau, terus aku harus putus sekolah. Awalnya semua berjalan baik-baik aja, tapi setahun menikah semua berubah kayak neraka tau gak," jelasnya panjang lebar.            "Apa yang terjadi setelahnya?" tanyaku semakin penasaran.            "Dia banyak melakukan kekerasan ke tubuh aku karna aku gak bisa memuaskan dia."            "Seks? Dia..."             "Iya, bahkan gak cuma itu, dia gak pernah menghargai aku sebagai perempuan. Terlebih ketika papa diPHK dari pekerjaannya, mama minta aku untuk biayain kebutuhan mereka terlebih papa sendiri udah jatuh sakit. Jelas, aku gak bisa melakukan apa-apa karna aku sendiri gak bekerja, gak punya penghasilan, mau kerja pun siapa yang mau menerima aku, aku gak ada pengalaman bekerja, aku juga cuma punya ijazah SMP. Kalo aku minta sama suamiku yaa dia sendiri aja pelit sama istrinya gimana aku bisa kasih uang ke orang tua aku atau kedua adik aku." Dia menutup wajahnya, dari sorot matanya aku bisa lihat bagaimana rasa menyesalnya ia yang telah menyia-nyiakan waktu masa mudanya selama ini.            "Ra... Aku nyesel banget sumpah. Kalo aja waktu bisa diputar ulang mungkin aja sekarang aku udah sarjana. Bukan kerja di tempat ini. Kalo aja aku gak menikah di usia muda," ia terkekeh geli tapi miris, "apalagi masih remaja," sambungnya memejamkan matanya. "Mungkin udah banyak hal yang bisa aku eksplor," ungkapnya dengan menitikkan air mata. Usiaku dengan usianya sebenarnya tidak terlalu jauh tapi dia masih di atasnya kak Ziko. Lebih tepatnya kak Rika udah usia dua puluh lima tahun.           "Sekarang Kak Rika statusnya?"            "Janda. Aku udah bercerai sama mantan suami aku tiga tahun yang lalu. Gak kuat aku Ra, kalo harga diri aku diinjak-injak terus sama dia bahkan dia udah kasar sama aku dan lebih parahnya lagi, dia juga udah melanggar komitmen diantara kita, dia juga orangnya pelit banget, finansial cukup tapi kebutuhanku tidak pernah dipenuhi. Sekarang, fokus aku adalah sebagai tulang punggung keluarga dan anak tunggalku," katanya sudah mulai sedikit tenang.            "Aku harap kamu bisa ambil sisi positif dari kisah hidup aku, ya, sebenarnya banyak sudut pandang tentang menikah muda, tapi aku minta ke kamu menikahlah disaat kamu sudah merasa matang dan siap mau itu dari fisik atau mental kamu. Lebih tepatnya banyak hal yang harus dipersiapkan matang-matang bukan hanya tentang cinta aja. Kalo aku dulu jelas, aku seakan menyerahkan seluruh hidup dan cintaku untuk lelaki b******k itu. Tapi, aku gak memikirkan hal lainnya. Seharusnya sebagai perempuan aku mestinya punya pendidikan yang tinggi karna aku sadar setelah punya anak, setelah anakku mulai beranjak di bangku sekolah, orang pertama yang akan ia tanyakan ketika ia kesulitan itu adalah aku. Aku yang menjadi guru pertamanya. Bukan cuma itu, aku juga hamil di usia yang masih di bawah usia dua puluh tahun banyak masalah kesehatan yang aku alami. Dokter bilang aku belum siap untuk hamil karena rentan banyak risikonya tapi mantan suami gak mau sama sekali mengerti kondisi aku. Dia mengancam bakal menikah lagi jelas aku gak mau dimadu Ra. Tapi, demi dia akhirnya aku dengan dia berencana untuk progam hamil. Dan aku bersyukur sekali, aku dan bayi aku dikasih kesehatan walaupun masalah banyak menguji aku ketika sedang mengandung anak pertama." Menikah muda, mungkin banyak pro kontranya, tapi menikah muda, menikah diusia matang ataupun menikah diusia yang sudah seharusnya ia membina rumah tangga, semua kembali pada masing-masing individu tersebut. Itu pentingnya ketika sebagai seorang perempuan atau lelaki menahan hasratnya untuk tidak menikah terlalu terburu-buru. Itu pentingnya ketika diri ini lebih baik menunggu untuk memantaskan diri lebih dulu. Itu pentingnya ketika perempuan atau lelaki harus tahu betul bagaimana karakter dari calon pasangan sebelum terikat janji dan bersatu. Bukan sehari atau dua hari, tapi untuk selamanya bukan sebatas menjalin hubungan dengan usia yang mereka mau. "Aku banyak belajar dari kamu Kak, makasih banget." Setidaknya, jalan yang aku ambil sudah benar. Pendidikan adalah nomor satu yang harus aku tempuh sebelum nantinya aku menjadi perempuan yang utuh. "Udah pada selesai curhatnya?" Tiba-tiba seorang lelaki memukul meja sambil bertanya dengan nada sindirannya. Kami berdua spontan berdiri dari duduk kami. "Rika, ini waktunya bukan untuk nostalgia masalah hidup kamu, ya. Sekarang waktunya KERJA!" Dia membentak di akhir kalimatnya. "Cepetan kerja sana!" Tubuh kak Rika didorong-dorong. Aku benci lihat perlakuan anak atasanku ini. "Dan kamu," dia menunjuk aku. "Kerja! Gak ada waktu nangis-nangis gak jelas," semburnya kepadaku. Aku cuma bisa diam karena gak mungkin aku melawan atasan. Dia pun berbalik hendak akan pergi tapi aku yang tengah memasukkan kembali kertas tadi ke dalam kantong seragam, ia berbalik badan lagi. Matanya menangkap buku dan penaku. Aku langsung membereskannya. Tanpa suara. Dia mendongakkan kepalanya, menaikkan tatapannya ke wajahku. "Bawain minuman ke tempat temen-temen gue. Jangan pake lama, gue gak mau ya temen-temen gue mau minum tapi harus nungguin Lo kelar baca buku dulu," sarkasnya telak. Aku mendengus kesal ketika ia pergi, rasanya ingin mengumpat dalam hati. Aku menyiapkan minumannya segera. Setelah semua minuman beralkohol ini sudah siap aku segera mengantarkannya ke meja dimana teman-temannya berkumpul. Rasa trauma pada saat aku dilecehkan oleh Beno masih terasa sampai sekarang. Aku masih takut tapi aku tidak bisa apa-apa, mau bicara pada orang-orang pun siapa yang mau mendengar? Orang seperti aku tidak mungkin bisa didengar oleh orang lain, jangankan untuk didengar, kalau pun aku bicara atas perlakuan dia kepadaku, Aku tidak punya kuasa, aku bukan orang yang berpengaruh, aku hanya orang miskin, dan perempuan lemah yang mungkin aku bisa saja dibalik tuduh yang tidak-tidak dan malah menjadi bumerang untukku.             "Eheyy... Mbak, namanya Zahira, ya." Seorang lelaki dengan kepalanya sedikit botak mencolek pinggulku ketika aku agak membungkuk untuk menaruh botol-botol itu dan beberapa gelas di meja mereka. Aku terkejut, melemparkan tatapan peringatan. Tapi, mereka malah tertawa. Mereka seakan menjadikanku seperti badut di sini. Salah satu dari mereka mencekal lenganku.             "Lepas!" tekanku emosi. Mereka tertawa entah apa yang mereka tertawakan.             "Bersuara juga, lho, akhirnya ini cewek," seru cowok yang penampilannya sangat heboh ini dengan banyak aksesoris yang menghiasi lehernya. "Gue kira bisu njing! Hahahha!!!" hinanya diiringi tawa yang terbahak-bahak. Aku menghentakkan tanganku sampai akhirnya bisa juga lepas. Aku hendak pergi namun cowok dengan kacamata dengan tampangnya yang keliatan anak kalem nyatanya b******k ini malah menghalangi jalanku.             "Ayolah, main-main dulu sama kita," sambil menyentuh rambutku yang dikuncir kuda. "Temenin kita minum," ajaknya dengan sikap yang tidak sopan.              "Jangan kurang ajar!" desisku. Cowok itu membuka lebar-lebar mulutnya, seolah takjub dengan kata-kataku. Aku sempat menangkap matanya mengedip ke seseorang. Berselang beberapa detik kemudian, kedua tangan melingkari pinggulku hingga aku tertarik ke belakang dan jatuh ke atas pangkuan Beno yang baru aku sadari saat mendengar tawanya. Aku menjerit. Memberontak. Aku mau nangis. Ketika aku merasa ia memaju mundurkan duduknya. Dan tangannya sempat memegang vaginaku dari luar. Mereka memperlakukanku layaknya perempuan jalang. Aku merasa diperlakukan seperti binatang.              "Lepasin! Lepasin! Lepasin!" seruku sambil memukul-mukul tangannya. Konsep cafe yang sinar cafenya menampilkan beberapa warna dan hanya menerangi beberapa tempat dengan musik irama yang keras itu tidaklah bisa membuat orang-orang peduli denganku. Justru aku seakan menjadi tontonan oleh beberapa orang yang melihatnya. Seakan hal yang mereka lakukan adalah suatu hiburan. Secara mendadak, aku dikejutkan dengan seseorang yang menarik tanganku secara kasar, Beno sempat kaget hingga spontan melepaskan kedua tangannya yang melingkari tubuhku. Seorang perempuan telah menyelamatkanku. Tetiba ia menyiram Beno dengan bir yang telah dituang di salah satu gelas yang telah terisi.             "b******k kalian semua!" marahnya dengan ekspresinya yang terlihat menyeramkan.             "Nadya? Ini Nadya yang artis itu, 'kan?" Cowok kepala botak tadi menyerukan nama perempuan yang aku sendiri tidak tahu ia siapa.              "Mau jadi b******n kalian!?" bentaknya tiba-tiba, tidak memedulikan orang-orang yang menontoni kami. Suara alunan musik pun berhenti. Mendadak suasana jadi sangat menegangkan dan aku lihat mereka tidak berkutik sama sekali. "Kalian pikir perempuan itu boneka yang bisa kalian mainkan seenak jidat kalian? OTAK KALIAN DITARO DI MANA!" hardiknya. Tegas dan sangat berani. Aku bahkan tak bisa berkata-kata lagi. Kak Rika datang dan aku langsung memeluknya dengan air mata yang deras membasahi wajahku. Perasaanku hancur, aku merasa seperti perempuan kotor dan sungguh malu bila harus ditatap oleh banyak orang.             Beno mulai beraksi. Memasang wajah menantang pada perempuan yang aku dengar tadi namanya Nadya.            "Kak Nadya, gak nyangka saya bisa ketemu langsung sama kamu," katanya dengan suara pelan. "Nadya Aura Amelia boy! Cewek yang paling diagung-agungkan sama cowok ada di depan kita langsung!!!!" Ia berbalik ke hadapan teman-temannya dan berteriak di depan teman-temannya dengan kedua tangan ia rentangankan. "Kak tidur bareng gue semaleman, gue bayar mau gak?" PLAK!!! Aku menggelengkan kepala. Cowok ini benar-benar rusak. Dia pikir perempuan itu sehina itu kah?             "Udah dipake berapa kali Lo sama tante-tante?" desis perempuan itu, menampilkan senyum sinisnya. "Murahan Lo jadi cowok!" hinanya yang langsung membuat Beno naik pitam. Beno nyaris mau menghajar kak Nadya dengan menggunakan botol yang ia pecahkan ke atas meja dan mau ia layangkan ke wajah kak Nadya yang langsung kak Nadya tutupi dengan punggung tangannya.             "Beno!!! Ben... Udah, Ben. Jangan gila Lo!!!" Teman-temannya menahan kedua tangannya bahkan bahunya juga. Para pengunjung terkesiap dan sibuk malah merekam kejadian. Namun, Beno tidak berhasil melukai kak Nadya karena tetiba datang kejadian mengejutkan yang membuat suasana semakin gaduh dan semakin panas. Dan ini terjadi ketika seorang lelaki datang tiba-tiba menghajar Beno di wajahnya berkali-kali sampai cowok itu dibanting ke atas meja, botol-botol dan gelas-gelas itu berserakan, berjatuhan hingga pecahannya ke mana-mana, Beno tersungkur di atas meja dengan muka lebam. Lelaki bertubuh tinggi itu menekan d**a Beno sambil mencengkram baju Beno. "Jangan pernah sentuh Zahira," desisnya. Aku seperti mengenal lelaki itu yang datang membabi buta.  "Beno!" Suara perempuan menginterupsi kami. Satu per satu orang berdatangan entah dari mana. Aku lepaskan pelukanku dan aku melihat ada kak Ziko di sini. "Kak Ziko?"  "Zahira kamu diapain aja sama dia?" "Kak Ziko kenapa bisa ke sini?" tanya aku bingung. "Kak Rika yang hubungin aku," katanya memberitahu. "Aku tadi mau tolongin kamu Ra, tapi aku takut. Makanya aku hubungi Ziko," jelasnya. Aku mengangguk. Mengalihkan tatapanku ke kak Nadya, perempuan yang tubuhnya semampai dengan lelaki yang sepertinya tidaklah asing bagiku. Beno berdiri ketakutan. Ia hendak kabur tiba-tiba, tapi kak Ziko langsung menahannya. Perempuan dengan rambut panjangnya yang hitam legam sampai punggung itu menghampiri dan langsung menampar Beno di tempat.            "Gak pernah kapok, ya, kamu itu." Perempuan itu dengan emosi memukul d**a dan wajah Beno berkali-kali tapi pukulannya tidaklah terlalu kencang. Beno hanya diam. "Kamu mau rusak moral diri kamu itu terserah, tapi jangan merugikan orang lain!"            "Minta maaf kamu sama perempuan yang baru aja kamu lecehkan! Kalian juga!!" tunjuk perempuan itu ke teman-temannya Beno.           "Gue gak mau minta maaf!" tolak Beno. "GUE GAK MAU MINTA MAAF!" ulang Beno lebih keras lagi.           "Berarti kamu harus siap-siap dibui," ujar kak Nadya menyeringai. "Saya bisa hubungi pengacara saya biar kamu dijebloskan sekarang juga." Kak Nadya menatap kawanan Beno. "Saya gak peduli sekalipun kalian minta maaf atau gak, tapi proses hukum bakal tetap berjalan." Aku rasa ucapannya bukanlah hanya sekedar ancaman saja. Kak Nadya pergi menuju mejanya untuk mengambil tas lalu bicara pada perempuan yang aku tidak tahu namanya siapa dan memberikan sesuatu pada perempuan itu. "Ini kartu nama saya, mereka yang sudah melecehkan saya dan perempuan ini harus dibui. Saya akan urus tuntutannya di kantor polisi." Setelah itu ia pergi. Tak lama lelaki yang menghajar Beno menghampiriku. Aku sudah menduganya kalau dialah orangnya.            "Uda anta kau pulang." []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN