Zahira "Apa kamu masih mencintaiku?" "Maaf, Larissa. Cinta aku ke kamu itu sudah lama pudar. Sudah menjadi masa lalu. Aku hanya menganggap kamu sebagai seorang teman, sebagai seorang sahabat. Aku... aku sebenarnya malu mengatakan ini..." "Apa?" "Aku mencintai Zahira. Gadis muda itu... aku..." "Ah, dia ternyata. Sudah aku tebak sebenarnya. Ada rasa yang tumbuh di antara kalian." "Kamu tidak marah?" "Tentu saja tidak. Aku senang kamu bisa jujur kepadaku. Lagian, memang cinta kita seharusnya tidak lagi bermain di masa depan. Aku tahu, kamu dengan dia sudah lama kenal jelas saja perasaan kamu ke aku sudah tidak ada. Aku ikhlas Adit bila memang Zahira yang bisa menempati posisi di hatimu." "Tapi..." Larissa menceritakan kejadian di hari ia sudah menjadi seorang mualaf, di depan masjid.
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


