BAB - 14

4680 Kata
Eryna Anak-anak sangat dekat dengan ibunya sebab mereka punya banyak waktu dengan ibunya tapi ayahnya, mereka dekat tapi seakan ada sekat yang menciptakan jarak, iya aku katakan kalau ayahnya memanglah sibuk. Jadi, jangan membenci tapi memahami, ia bekerja untuk diri kita. Meskipun aku punya tanggung jawab mendidik mereka, tapi aku harus selalu berkompromi dengan suamiku, tentang perkembangan mereka, tentang apa yang mereka inginkan, hal apa yang bisa kita berikan untuk mereka, ini baik atau tidak bila dilakukan. Apa yang kita tanam, akan dituai di masa depan.               "Hai sayang, kamu lagi ngapain?" tanyaku sedang duduk di ruang tamu. Sedangkan dia aku yakini memasang hpnya di tripod agar memudahkannya video call-an denganku sambil melakukan kegiatan lainnya. Kamera diarahkan padanya yang tengah sibuk berkecimpung di dalam dapur. Selepas makan, aku menghubungi suamiku lewat video call, anak-anak sama Leonna di kamar tengah bermain. Leonna sengaja menginap di rumahku.               "Ini lho, aku lagi masak." Tampaknya Ammar begitu kerepotan. Masih dengan kacamatanya ia memasak sesuatu yang kutanyakan. "Kamu masak apa, sih, yang?" Dia itu gak pandai masak sebenarnya makanya terkadang masih suka kerepotan.               "Aku masak telor, minyaknya ngeletup-ngeletup terus." Aku ketawa liat muka konyolnya. "Ya dikecilin dong apinya, jangan besar-besar gitu."               "Ohh... Gitu, ya." Aku pun cuma memerhatikan dia yang akhirnya menyudahi masaknya. "Sayang liat, deh, telornya..." Menunjukkan hasil masakannya di depan kamera. "Kegaringan yaa." Sambil nyengir gitu. Aku ketawa terpingkal-terpingkal lagi. "Itu punya kamu bukan kegaringan tapi kegosongannnn!!!" Aku memijat pelipisku, ya ampun aku jadi sedih sempat kepikiran lagi dia hidup sendirian di sana. Dia pun membawa hp bersama tripodnya dan ditaruhnya di atas meja. Dia menarik kursi kerjanya lalu menyingkirkan berkas-berkas yang berserakan itu.               Ia bertanya kepadaku. "Kamu udah makan?" Aku mengangguk, "udah, tadi masak sama Leonna, dia nginep di sini."               "Oh, gitu. Emh..." Dahinya mengernyit begitu juga dengan matanya yang menyipit. Ekspresinya berubah ketika mencicipi masakannya. "Pait."               "Ya, 'kan kamu masaknya gosong, kang." Suamiku membersihkan bibirnya dengan tisu. Menunjuk telur tersebut, mimik wajah datar dan terdiam untuk sementara.               "Biasanya yang kayak begini, nih, aku suka kangen banget sama masakan kamu. Coba aja kalo kamu ikut sama aku, ya.."               "Eh, Kang, kamu kok masih di apartemen, gak ke kantor?" tanyaku mengalihkan. Aku tidak mau berdebat untuk persoalan yang sama. Terdengar egois memang tapi sudahlah, pikiranku lelah kalau bahas hal yang tidak mungkin saat ini bisa terjadi. Karena kalau diperdebatkan pun hasilnya tetap sama saja. Kita masih di atas keinginan masing-masing. Dia awalnya terdiam lama. Mulutnya terbuka sedikit, ingin berkata tapi ia tahan dan gantinya tersenyum. "Aku lagi gak enak badan, jadi aku izin." Ia pun menyingkirkan piring tadi. Dan mengambil berkas dokumen seraya memakai kacamatanya.              "Aku tau kamu marah kang,"              "Kamu tau, 'kan aku gak suka kalo pembicaraanku dialihkan."              "Tapi kalo gak gitu kita bakal berantem lagi," jawabku cepat, sedikit mengeraskan intonasi.              "Sekarang juga kita udah mau mulai debat lagi," balasnya sedikit ngotot. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku harus ingat ini, ketika pasanganku menjadi api aku harus menjadi air. Bukan memberi makan ego dan membiarkan amarah itu mengalir.              "Kalo kita ribut karena masalah yang sama kupikir semua itu sia-sia aja." Aku menyandarkan kepalaku miring di kepala sofa. Mengangkat kedua kaki ke atas, memeluk diriku. "Kamu sendiri gak mau kerja di Indonesia..."              "Yah jelas susah payah aku buat sampai ke puncak karirku dek. Gak mungkin aku sia-siain semua yang udah aku lalui. Prosesnya gak panjang, kamu sendiri tau itu, 'kan?"              "Kalo gitu sama dengan aku, aku juga butuh waktu dan pengertian dari kamu. Karena sekarang aku lagi memulai prosesnya. Aku butuh support dari kamu dan jangan kamu menuntut apapun dariku. Aku memang seorang istri, kamu kepalanya, tapi aku pun punya hak untuk hidupku."              "Sampai kapan?"              "Sampai masa jabatan aku selesai. Dan berhasil atau tidaknya untuk hasilnya, yang penting aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk desa ini."              "Yaudah kamu tidur ya, udah malem di sana, besok hari pertama kamu kerja. Berikan yang terbaik." Aku mengangguk berkali-kali seperti anak kecil.              "Makasih ya." Sambungan terputus. Aku tahu, tidak sepenuhnya kamu mendukungku, tidak sepenuhnya kamu ikhlas atas jarak yang memisahkan kita yang seharusnya tiap hari kita bisa bertemu. Kamu belum bisa menerima dalam menyambung rasa rindu. Tapi, percayalah suatu hari nanti kita akan kembali bersatu tanpa ada jarak dan waktu. Aku harap, kamu bisa menghilangkan rasa ragu yang kini masih membuat pikiran dan hatimu terbelenggu. Aku bisa bilang begitu, karena aku bisa merasakannya dari ucapanmu. Jangan berhenti untuk berjuang bersamaku. Ku mohon untuk itu, kita saling percaya ya saling memahami sampai kita sama-sama menemukan jalan tengah yang kita mau. * * * * Leonna               Mereka berjuang dalam suatu hubungan di atas ambisi. Mencari jalan tengah di atas keegoisan yang tidak bisa dikesampingi. Tapi kekuatan cinta memperkuat dua manusia yang diterpa badai. Ada banyak jalan yang bisa saja menjebak untuk tidak bisa kembali lagi atau tersesat pada keinginan diri sendiri yang mungkin akan menghancurkan apa yang sudah dimiliki. Gue melihat langsung keresahan yang sahabat gue rasakan. Tidak sengaja ketika gue ingin keluar kamar setelah Lestari dan Kartika tertidur, gue mendengar dua manusia berdebat pada satu hal yang menjadi permasalahan. Gue kembali lagi tidur membelakangi Kartika, berpura-pura tidur, masuklah Eryna tidur di samping Lestari, dan ketika gue membalikkan setengah badan gue, dia menyamai posisi gue sebelumnya. Hal yang menjadi ketakutan gue adalah apakah gue bisa bertahan pada suatu hubungan yang membawa gue pada sebuah masalah. Apakah nantinya gue akan menyerah? Rasa lelah yang tidak mungkin bisa gue hindari dengan mudah. Gue telah memberi ruang untuk Christhian. Sedikit demi sedikit gue sudah terbuka dengannya. Kita melakukan hal-hal yang menyenangkan. Seperti dimabuk asmara cinta layaknya anak remaja yang baru pertama kalinya merasakannya. Ada perubahan yang gue rasai, kesepian perlahan hilang tanpa gue sadari.              Esoknya dia menjemput gue setelah selesai mengajar. Dia menyempatkan dirinya di tengah-tengah kesibukannya hanya untuk menjemput gue. Ini untuk kali pertamanya gue diperlakukan secara istimewa oleh seorang lelaki. Christhian memang selalu memperlakukan gue layaknya pacar tapi itu beda ketika dulu hanya menganggapnya sebagai seorang teman tapi sekarang dia lebih dari itu.              "Aku mau ngajak kamu ke batu dua gunung lingga."              "Itu tempatnya orang-orang olahraga paralayang, 'kan? Kamu mau nyoba olahraga paralayang?" tanya gue yang baru sadar kalau bahasa gue berubah tidak seperti biasanya.              "Hah? Kamu? Hei..." Matilah gue. Seketika ini mulut langsung gue katup. Membuang muka ke arah jendela tapi bahu gue diputar untuk menghadapnya kemudian kepala gue. "Sekarang udah berubah yaa bahasanya. Lebih lembut." Tangannya yang menyentuh dagu gue langsung gue tepis.             "Apaan, sih, gue... Gue cuma bersikap jadi pasangan yang semestinya aja," sanggah gue yang mencoba menutupi rasa malu dan gugup. Dia menyalakan mobilnya. Gue sendiri berusaha mencari alasan untuk menutupi kebodohan gue yang pake keceplosan segala. Kenapa juga gue harus jadi cewek dengan cara bicara yang manis kayak tadi.             "Bersikap yang semestinya maksudnya gimana? Aku seneng kok kalo kamu gaya bicaranya pake "aku" tapi kalo kamu gak nyaman juga ya gak apa-apa. Bagi aku yang penting itu perasaan kamu ke aku." Gue menoleh begitu juga dengannya, tersenyum hangat untuk menggambarkan perasaannya.             "Gimana? Kamu udah mulai cinta sama aku atau belum?" Gue cuma terdiam. Hanya memasang senyum singkat yang tak meyakinkan. Dia memaklumi, menarik tangan gue dan menggenggamnya. "Gak apa-apa, perlahan-lahan nanti juga bakal tumbuh."             "Kalau sudah tumbuh?" tanya gue, sebenarnya pertanyaan ini hanya ingin membuatnya sedikit bahagia. Gue gak tega membuat dia yang sangat mencintai gue jadi sedih karena diri gue sendiri yang terlalu memasang tembok tinggi untuknya.             "Ya dijaga, dirawat, diberi kasih sayang, kalo quotes yang aku suka dari NKCTHI itu perasaan seperti tanaman, kalau gak dijaga ya bakal mati, sama kayak perasaan kalo gak diberi kasih sayang atau gak dibalas perasaannya ya sama aja bakal mati untuk kesekian kali. Jangan sampai ya hal itu terjadi." Dia benar-benar serius. Tian sangat serius mengatakannya. "Aku sekalinya serius ya serius Len sama kamu, tapi ketika hati aku disakiti, aku gak bisa, aku gak bisa mencintai seseorang lagi. Akan ada trauma yang aku rasain nanti, aku harap kamu mau berjuang sama-sama dengan aku apapun yang akan terjadi. Tapi, kalo memang gak bisa, aku gak akan memaksa, keinginanmu udah di luar kendali aku."             "Ini pertama kalinya untuk gue, gue harap Lo bisa bersabar."             "Selalu Len, aku bakal perjuangin hubungan kita tapi aku juga butuh kamu, hubungan itu harus seimbang. Bukan satu orang saja yang harus sendirian berjuang." * * * * Batu Dua Gunung Lingga menjadi tempat yang cocok untuk melakukan olahraga paralayang. Kawasan ini letaknya ada di blok Batu Dua, Desa Lingga Jaya, Kecamatan Cisitu, Kabupaten Sumedang. Untuk ke lokasinya sangatlah mudah karena masih bisa dilewati dengan mobil juga. Batu dua berada di ketinggian 930 meter di atas permukaan laut. Dari atas sinilah ketika gue keluar dari mobil yang berhenti di dekat titik penerbangan, gue bisa melihat panorama keindahan alam yang memanjakan mata. Tapi, di sini lumayan panas sebab thermal atau uap panasnya bumi inilah yang membuat paralayang bisa terbang lebih lama lagi ditambah angin yang berhembus kencang. Selain itu, dinamakan Batu Dua, karena Batu Dua adalah bagian dari lereng bukit yang ada di Gunung Lingga. Tian duduk di atas kap mobil lalu menghubungi seseorang yang katanya dia mau bertemu dengan temannya di sini.              "Iya... Ini gue udah nyampe ini. Lo di mana?" tanya Tian. Gue cuma sibuk memerhatikan dia di sampingnya. Ia menoleh ke gue, tatapan kita bertemu, ia tersenyum singkat dan tetiba ia merangkul gue gitu aja. Dia ingin ada keterkaitan emosi di antara gue dan dengannya agar lebih dekat, agar lebih erat. Gue tersenyum, entah kenapa rasanya hangat. Gue balas dengan melingkarkan lengan gue di pinggangnya. Ketika itulah gue melihat seorang lelaki memakai kaos hitam dibalut jaket jeans melambai ke arah kami. Gue memberitahu Tian. "Itu bukan orangnya?" Tian melihat ke arah tangan gue menunjuk. Kita berdua melepaskan tautan dan berdiri tegak. Lelaki itu datang bersama seorang perempuan yang gue kenali.              "Tian! Lo apa kabar broh?" Lelaki itu memeluk Tian. Mereka berpelukan sebentar sambil menepuk-nepuk punggung. Gestur seorang lelaki yang seperti biasa ketika ketemu teman lamanya. Melepas kerinduan tentunya.              "Puji Tuhan gue baik, keluarga baik... Eh keluarga gue ditanya juga gak, nih? Hahah!" candanya disertai gelak tawa.              "Udah, jawaban Lo udah mewakili," balas Marco sambil tertawa. Marco menoleh singkat ke perempuan itu yang matanya selalu fokus mengarah ke gue yang gue pun tidak memutus kontak mata kami.              Tian memperkenalkan gue. "Eh, ini kenalin cewek gue..."              "Leonna?" Perempuan itu menyela ucapan Christhian dengan menyebut nama gue. Untuk ketiga kalinya kita bertemu lagi. Dan ketika ia sebut nama gue, dua lelaki ini kebingungan. * * * * Nadya Dwita membanting berkas yang berisikan kontrak yang sudah aku tanda tangani ketika bertemu dengan pak Jordan beberapa hari yang lalu dan setelah shooting pemotretan aku sudah menyiapkan waktu untuk bicara dengannya di Orofi Cafe by The Valley dengan nuansa ala Santorini yang semuanya terlihat serba putih.           "Terus gimana sama kerjaan yang laen? Lo batalin?" tanya dia dengan nada datar. Ekspresinya menahan emosi.           "Kontrak gue sebagai presenter itu, 'kan udah selesai, pemotretan di Bandung juga udah gue kerjain, dan sisanya buat yang laen udah gue batalin, sih."           "Gampang banget Lo ngomong. Lo punya dua film lagi..."           "Gue batalin semuanya. Mereka tinggal kasih uang kerugiannya juga udah beres, yah anggeplah buat tutup mulut mereka jadi gak bakal nuntut apa-apa," selaku membuatku matanya terbelalak, kaget.           "Anj..." Dwita keburu menutup mulut pakai satu tangannya yang menumpu di atas meja. Menahan umpatan yang ingin sekali ia lampiaskan ke aku.           "Dan Lo gak ada bilang sama sekali soal rencana Lo ini?" Sebentar ia mengangkat berkas tadi lalu menjatuhkannya lagi. "Maksud Lo apa? Lo udah nggak nganggep gue lagi di sini?" berangnya tak tahan.           "Bukan nggak nganggep, sih, ya tapi... lebih tepatnya gue udah gak mau make jasa Lo lagi. Gue mau putus kerja sama dengan Lo," pungkasku seraya menampilkan senyum dengan ekspresi tenang.           Dwita kaget. Rasa tidak diterima aku yakin paling mendominasi dirinya. "Jangan teriak-teriak." Aku memperingati itu dengan gestur menunjuk ke arah mulutnya. "Gue gak mau nama gue jelek cuma gara-gara ribut sama Lo di sini." Lalu, aku melanjutkan aktivitas makan. Mengabaikan perasaan Dwita.           "Gila Lo ya!" geramnya. Dia geleng-geleng kepala. Tubuhnya terlihat lemas dan loyo dengan kedua tangan memegang kepala. "Beneran parah banget. Gue yang ada di belakang Lo Nad selama ini dan Lo buang gue gitu aja," tuturnya seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut aku barusan. Aku cuma mengangkat bahu. Meletakkan garpu itu di atas piring, menyandarkan punggung ke kepala kursi dengan kedua tangan terlipat depan d**a. Membuang pandangan pada senja di ujung sana yang memancarkan cahayanya yang nanti kan berganti pada gelapnya malam.           "Gue udah muak kerja sama bareng Lo. Kita udah gak sefrekuensi sekarang jadi buat apa lagi?" tandasku serius. "Kita udah gak sefrekuensi," ulangku, dengan intonasi lebih jelas dan tajam. "Selama ini gue lebih banyak diam. Gue mengikuti tiap aturan yang Lo kasih ke gue sampai gue sendiri gak punya ruang untuk diri gue sendiri. Bahkan gue kayak bukan diri gue sendiri ketika gue melakukan sesuatu yang gak gue sukai tapi harus gue lakuin karena orang lain yang memaksanya." Ia tak berkutik sama sekali. Hanya menatap aku dengan rasa tidak terimanya. "Jadi, gue harap Lo bisa ngerti," tukasku menutup percakapan terakhir ini.           "Lo bakal nyesel Nad udah buang gue gitu aja," katanya sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Ia melenggang begitu saja dari cafe ini. Aku memangku daguku di atas tangan yang saling mengait, kedua tangan bertumpu di atas meja, aku menoleh ke kanan, menikmati senja hari ini di ruang outdoor lantai tiga di cafe yang terasa seperti aku ada di Santorini.           Aku orangnya tegas. Aku orangnya diam tapi sekali aku melakukan tindakan itu pasti akan di luar batas. Aku orangnya nekat kalau sudah berurusan dengan orang yang sebenarnya harus ku hempas, yang menurutku sudah tidak lagi waras. Aku akan mengeluarkan siapapun yang ada di hidupku bila aku merasa sudah tidak sejalan dengannya apalagi sudah tidak selaras.           Aku beristirahat di dalam mobil sebelum pergi dari cafe ini. Untuk menetralkan pikiranku yang mendadak membuatku pusing. Membuka i********: untuk mencari hiburan mata, tapi yang kudapati adalah postingan seseorang yang kuanggap dia adalah pesaing ku dalam dunia industri ini. "Cih, dia pikir film yang dia mainkan bakal bertahan lama?" Aku melempar hpku ke kursi sebelahku. Moodku jadi tambah buruk. Dia yang kumaksud adalah Marcelina yang juga berprofesi sama denganku. Mengawali karir dari dunia modelling. Dia juga satu tongkrongan denganku. Ya, dia juga termasuk orang yang berteman dengan kelas atas. Selama di tongkrongan dia selalu memamerkan prestasinya dan kekayaannya yang kalau dibandingkan dengan aku itu tidak ada apa-apanya. Apalagi dia baru bermain di satu film, belum ada apa-apanya dengan aku. Orang-orang terkadang suka membandingkan aku dengannya apalagi tubuh kami. Ya, Tuhan yang benar saja aku dibandingkan dengan aktris yang bayarannya tidak selevel denganku.           Ketika ia hadir dalam ruang lingkup pertemanan ku, aku sangat merasa memang satu per satu teman-teman yang sering bersamaku itu jadi beralih ke dia dan menghabiskan waktu tanpaku bahkan mereka kadang gak pernah menghubungiku ketika mau liburan ke suatu tempat. Katanya Nadya itu gak asik, hidupnya terlalu serius dan kaku, apalagi gak pernah mau kalau diajak main malam ke club dan ikut mabuk-mabukan ditambah aku juga sudah memilih untuk menjadi vegan dan mengurangi makanan daging. Beda halnya dengan Marcelina. Kalau aku memang sangat menjaga kehidupan sehatku dan aku gak masalah kalau kehilangan teman. Mereka itu hanya sekedar formalitas saja atau hanya tempat pelampiasan ku ketika aku sedang ada masalah.           Hpku berdenting, menampilkan notifikasi dari pacarku. Marco. Dia mengirimkan pesan, isinya dia menanyakan keberadaan ku. Satu masalah lagi yang harus aku selesaikan, yaitu Marco. * * * *   Aku tidak tau ternyata Marco datang ke Bandung bahkan ia sudah ada di rumah kakek dan nenek, bersama tengah berbincang-bincang. Apa-apaan dia? Seenaknya saja datang tanpa mengabariku terlebih dahulu. "Marco!" seruku pada saat aku sudah diambang pintu sambil menenteng tas mahalku. Kakek langsung menegurku dengan berkata, "Nadya! Ucap salam kalau masuk rumah." Bibirku mengatup rapat. Tatapan tajam ku tak pernah ku alihkan dari Marco yang membalas tatapanku dengan santai seolah memang tidak terjadi apa-apa. Aku gak suka dengan sikap Marco yang datang tiba-tiba. Kedatangannya hanya memancing keributan saja. Pasti dia bakal mendumel aku yang selalu sibuk dan gak pernah ada waktu buat dia, padahal aku sedang kerja.             "Nadya, ayo duduk sini samping nenek." Aku menuruti apa kata nenek. Kedudukan diriku di sampingnya, berhadapan dengan Marco.             "Kamu gak bilang ke kakek kalo kamu udah punya pacar. Kenapa?"             Aku menghembuskan napas kasar. "Ya gak penting juga lah kek, aku pake cerita segala soal dia. Ya, toh, gak ada juga yang harus diceritain," kataku dengan sesuka hati mengatakannya tanpa beban. Ya, aku rasa Marco marah ketika aku mengatakan hal yang seolah dia tidaklah terlalu penting dalam hidupku selama ini.             Aku pun melenggang pergi setelahnya tanpa memedulikan panggilan kakek atau nenek sekalipun. Hari ini aku sangat lelah. Aku harus menyiapkan energi dan memenuhi pikiranku dengan hal positif agar nanti ketika aku memulai debutku di pergelaran busana di luar negeri dengan jam terbang yang sangat padat, aku bisa melakukannya dengan profesional dan aku akan buktikan pada Marcelina yang selalu bersikap angkuh di depanku atau teman-teman selebritisku yang lainnya, bahwa akulah orang yang tidak bisa dikalahkan. Orang yang tidak bisa mereka lampaui batasnya. Aku akan menyombongkan diriku di hadapan mereka sebentar lagi.             Aku tidak akan bersikap seperti ini kalau saja mereka semua tidak bersikap pongah denganku lain halnya dengan kak Dinda yang dulu dia memang sangat dibanggakan dan aku akui akan kepintarannya dan menjadikannya sebagai inspirasi dan motivasi untukku. Tapi mereka? Mereka semua itu hanya omong besar. Tapi kemampuan nol. Baru main satu film, gayanya sudah ke mana-mana. Baru debut ini itu, sudah berlagak selebritis paling laku. Dan terlebih banyak gimmick yang dilakukan demi mendongkrak popularitas, ya tuhan. Nol prestasi banget. Apalagi sudah tidak ada apa-apanya pakai acara bermain-main drama denganku, belum tahu Nadya kalau sudah membalas seseorang itu bagaimana?             Aku sudah mencapai puncak karir memang. Tapi, rasanya tidak puas kalau belum sampai kanca Internasional. Yah, hitung-hitung kalau berhasil aku bisa membuat mereka diam dan tambah membuat mereka panas. Haha, ayolah siapa, sih, yang bisa melawan kecantikan Nadya Aura Amelia. Nggak ada!             "Nadya." Nenek masuk ke dalam kamarku. Aku tebak nenek pasti menegurku karena sikap tidak sopanku tadi. "Itu Marco jauh-jauh ke sini mau ketemu kamu. Bersikaplah jadi perempuan yang tau etika ketika tamu datang ke rumah. Nenek gak suka sama sikap kamu yang tadi." Tanpa memedulikan aku yang hendak protes, nenek meninggalkanku. Aku mengembungkan pipi lalu menghembuskan napas gusar. Ku temui lagi Marco yang kini duduk seorang diri seraya memainkan hpnya. Aku melirik nenek dan kakek di balik pilar, tengah mengawasi kami berdua.             "Kita bicara di luar," ujarku singkat, segera keluar rumah. Marco mengikutiku dari belakang. Aku melirik tingkahnya yang kedua tangan dimasukkan ke dalam kantung celananya. Lalu kutatap lagi objek-objek yang ada di hadapanku. "Kamu itu kenapa, sih, pake acara dateng ke rumah kakek nenekku segala? Tau dari mana coba alamat rumah kakek nenekku."             "Dwita," jawabnya singkat. Ia mendekat. Berdiri di sampingku. Kemudian memutar bahuku hingga aku berdiri berhadapan dengannya. "Aku dapet info dari manager dan asisten kamu. Ya, aku pikir kamu ke Bandung tinggalnya sama Dwita ternyata kamu tinggal di sini."             "Kamu kalo mau ketemu sama aku bisa, 'kan hubungi aku terus kita janjian di tempat lain."             "Kenapa, sih? Kok keknya kamu ini lagi merahasiakan sesuatu gitu dari aku."             "Curigaan banget, sih, jadi orang. Ini, nih, yang gak aku suka dari kamu. Mulai muncul posesifnya."             "Gak jelas kamu, jadi bawa-bawa posesif apaan coba. Aku posesif ya karena aku sayang sama kamu." Aku mengibaskan tangan ke udara. Tapi ia menahan dan memegang kedua bahuku. "Denger, kamu ini jarang ngabarin aku, jarang balas w******p aku, salah aku peduli sama kamu? Kita udah lama, lho, pacaran. Dari kita masih kuliah, kita kenal, kita pacaran, aku terus temenin kamu sampe kamu bisa dapetin apa yang kamu mau selama ini. Aku temenin kamu dari nol Nad. Kok sekarang kamu seolah kayak kacang lupa kulit ya."             Apa dia bilang? Waw. "Jadi kamu gak ikhlas selama ini?" tanyaku serius. Aku lepaskan kedua tangannya dari bahuku. Marco menyisir rambutnya ke belakang. Memejamkan mata sejenak lalu membuka matanya. "Oke, maaf, aku salah ngomong tadi."             "Kamu pulang aja, deh."             "Sayang... Please, dengerin aku dulu." Dia menahan tanganku lagi padahal aku sudah berusaha untuk pergi dari hadapannya. "Aku minta maaf kalo omongan aku barusan buat kamu tersinggung."             "Udah... Gak usah dibahas lagi. Kamu pulang aja. Aku mau istirahat."             "Aku gak mau. Tiap kita ada masalah aku mau kita selesain hari itu juga."             "Ya makanya kamu jangan buat masalah sama aku," balasku nyolot.             "Yaudah, aku minta maaf." Marco menarikku dalam pelukannya. Sebenarnya, Marco orangnya bukan yang romantis apalagi bisa bersikap manis. Dia orangnya cuek, pendiam dan gak banyak bicara, dia orangnya memendam dan sekalinya sudah tidak bisa ia tahan, ia langsung ambil tindakan. Hal lain yang membuatku benci sifatnya, dia sangat posesif denganku. Terkadang posesifnya yang membuatku merasa terkekang karena aku suka kebebasan. Tetapi, yang membuatku bisa bertahan dengannya dia bisa melindungiku, sosok lelaki yang sangat sabar dalam menghadapi sifatku yang sangat egois dan tidak mau kalah. Dia bukan orang yang keras kepala terbukti ketika berdebat denganku. Dia selalu mengalah yang padahal akulah yang salah tapi rasanya egoku yang tinggi membuatku tidak mau mengakui kesalahanku walaupun aku tahu kekuranganku.             "Besok... Aku minta waktu kamu buat temenin aku. Aku mau olahraga paralayang, sembari ketemu sama temen aku."             Aku mengiyakannya saja. Lagian aku juga sebenarnya sudah kangen banget sama dia. Aku sadar kesibukanku ini membuat waktuku sama dia jadi berkurang tapi dia selalu mendukungku bahkan tidak banyak menuntut apapun dariku. Dia menerima segala kekuranganku bahkan menerima apa adanya termasuk masa laluku dan bagaimana hancurnya keluargaku bahkan tentang kak Dinda. Semuanya ia telah mengetahuinya.             Sejak zamannya masih kuliah, aku kenal dia karena dia katingku di suatu universitas swasta yang ada di Jakarta. Dia terus mendekatiku padahal aku tidak mau menjalin hubungan dengan lelaki akibat rasa trauma ku pada papa yang selingkuh dan meninggalkan mama. Tapi, Marco punya cara untuk menaklukan hatiku. Dia menjadi orang yang bisa aku percayai tentang masa depanku dan memang dia menjadi bagian dari prosesku menjalani karir sampai sekarang, dari ketika aku memutuskan untuk tidak tinggal dengan papa setelah aku lolos seleksi untuk menjadi model majalah. Pada saat itu aku sudah lulus kuliah. Sebenarnya, aku mau menjadi model ketika masa kuliah tapi Marco mengatakan padaku untuk fokus pada satu hal dulu. Aku setuju untuk hal itu, karena bagiku pendidikan harus tetap nomor satu. Setelah itu cita-cita yang akan aku tuju. Dan fokusku tidak akan terbagi oleh apapun.             Aku mengajak Marco untuk menemui kak Dinda di dalam kamarnya. Maksud tujuan kami untuk mengajak kak Dinda keluar dari rumah ini.             "Kak, seseorang mau ketemu sama kakak. Marco, pacar aku yang dulu pernah datang ke sini, waktu aku ijin sama kakak buat jadi model. Kakak masih inget, 'kan?" Kak Dinda tidak menggubris ucapanku ini. Tapi aku gak nyerah.             "Marco mau ajak aku sama kak Dinda ke Batu Dua Gunung Lingga. Kakak, 'kan sudah lama nggak keluar, aku mau ajak kak Dinda cari udara segar. Kakak mau, yah, ikut aku besok sama Marco." Pada dasarnya aku tidak suka memohon pada siapapun. Tapi, kak Dinda sangatlah menguji kesabaran ku. Aku paling cepat emosi kalau tidak ada satu orang pun yang mau mengikuti perkataanku.             "Kak... Aku mohon... bilang sesuatu jangan diam aja." Menyedihkan sekali, aku memohon di bawah kakinya, bertekuk lutut di hadapannya. Niatku baik untuknya supaya ia bisa lepas dari bayangan masa lalu walaupun aku pun sama halnya seperti dirinya yang belum bisa melupakan kejadian beberapa tahun silam namun aku bertekad untuk bersama-sama menutup lembaran lama dan aku mau kak Dinda bisa berjalan beriringan denganku bukan hanya diam di belakang dan menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia ini.             Aku udah gak kuat. Aku memukul kedua pegangan kursi roda yang kosong itu dengan penuh emosi seraya berdiri. "Maunya kak Dinda itu apa, sih!?" bentakku dengan suara tinggi. "Aku capek tau gak liat kak Dinda kayak gini terus. Mau sampai kapan kak? Kakak pikir dengan kakak menutup diri dari dunia semua bakal selesai gitu aja? Menyedihkan banget, sih, hidup kamu itu kak. Terkungkung pada masa lalu yang nggak akan bisa bawa kamu ke masa depan. Cuma bisa diam layaknya mayat hidup, sampai ajal datang, kamu bakal ngelewati semua yang sebenarnya masih tersisa dalam hidup kamu."             Jika masa lalu membuat kita berhenti dari kenyataan yang masih dihadapi sekarang, apa jadinya hidup tertinggal dan semakin terbelakang. Tanpa perubahan untuk bisa menang. Buruknya lagi, kita tidak punya tujuan hidup ataupun untuk mengenali diri sendiri pun tidak bisa dan apa, kenapa.... mempertanyakan Tuhan yang tidak sesegaranya membawa kematian itu untuk datang.             Marco keluar tanpa banyak bicara. Dia paham, ruangnya saat ini hanya ada aku dan kakak kandungnya yang payah dan menyedihkan nasibnya. Hidup dalam kesengsaraan yang membuatnya terpenjara. Penjara dari pikirannya dan rasa putus asa. Tidak mau mencoba melangkah lebih jauh lagi untuk mendapatkan masa depan demi sisa hidupnya.            "Masa depan katamu?" Dia terkekeh sinis. "Kamu tau keinginan saya dulu itu apa?" Aku terdiam. Jelas aku tahu dia ingin menjadi seorang atletik renang. "Saya ingin jadi atletik renang. Saya ingin menjadi juara di Asia, di Internasional, di mata semua orang, tapi apa setelahnya? Saya rusak diperkosa, saya rusak, saya menjadi aib di keluarga, mama meninggal karena saya. Seandainya aja mama nggak mengantarkan saya ke rumah sakit untuk mengecek kandungan saya mungkin mama masih hidup sampai sekarang dan kamu pun punya kesempatan banyak untuk membuat bangga mama," terangnya dengan nada cepat tanpa henti seakan mengatakannya dalam satu tarikan napas. "Itukan keinginan kamu," tukasnya tajam. Ia menghela napas. Masih menatap kosong ke arah di luar jendelanya yang terbuka lebar. "Kamu mau sama seperti saya tapi saya menghancurkan semuanya. Diri kamu, diri mama, nyawa anak saya semua udah hilang dan hancur karena saya. Sekarang liat kondisi saya, buta dan lumpuh. Masa depan seperti apa lagi yang harus saya harapkan? Toh, papa saja tidak mau mengakui saya sebagai darah dagingnya." Ia memutar kursi roda tersebut sampai membelakangi ku. Menoleh ke samping dan mengatakan dengan intonasi penuh penekanan. "Dia membuang saya ke sini. Kamu bisa paham, 'kan penderitaan saya seperti apa?" []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN