"Seimbang itu apabila ada kejahatan dan kebaikan bukan hanya kebaikan saja."
***
Akhirnya Devan dan Nadine pun memutuskan untuk ke sekolah mengikuti permintaan Danisya untuk bisa sekelas dengan Charlotte. Charlotte memandang Danisya remeh mana bisa anak sekecil dia sok-sok an langsung melewati lima kelas sekaligus. Walaupun Charlotte juga anak yang termasuk unggul di kelasnya dia bahkan tidak pernah lompat kelas.
"Ma, Pah. Makasih ya udah mau nurutin permintaan Danisya buat sekelas sama Kakak," ucap Danisya bangga sambil di gandeng Papa dan Mamanya sedangkan Charlotte berjalan lebih dulu di depannya.
"Kamu yakin bisa, Danisya?" tanya Devan lagi.
"Yakin Papa," jawab Danisya antusias.
"Jangan terlalu yakin, harapan hanya menghancurkan kamu tahu!" ucap Charlotte tanpa menoleh sedikitpun kepada Danisya. Danisya menekuk wajahnya mendengar kata-kata Kakak angkatnya barusan.
"Kakak, Danisya janji bakal bisa nanti kalau tes lompat kelas supaya bisa bareng Kakak, dan kalau sampai Danisya mampu Kakak harus nurutin semua yang Danisya mau. Bagaimana?" tantang Danisya membuat Charlotte terhenti dari jalannya.
"Okey siapa takut?" kata Charlotte memandang wajah Danisya dengan tampang meremehkan lalu dia beralih memandang Mama dan Papanya.
"Pa, Ma aku ke kelas duluan ya," pamit Charlotte menyalami kedua orang tuanya. Dia mengelus kepala Danisya, "Selamat berjuang gadis kecil," ucap Charlotte meledek Danisya. Dia yakin Danisya tidak akan mampu lagian gadis itu kan sebelumnya tidak pernah sekolah.
Danisya mendengus dengan remehan Kakaknya itu. Dalam hati dia berujar lihat saja pasti Aku bakal bisa dan Kakak akan menuruti semua yang aku mau.
....
Semua tes dikerjakan Danisya dengan lancar, tidak sedikitpun dia terlihat kesulitan dalam mengerjapkan. Para guru yang memberikan tes-tes kepada Danisya benar-benar menggelengkan kepalanya. Anak ini benar-benar. Berapa IQ anak itu sebenarnya.
"Baik Danisya kami sudah mengecek semua soal yang para guru kasih ke kamu. Jujur kami semua sangat takjub dengan hasil yang kamu kerjakan. Tidak ada salah sedikitpun dalam mengerjakan." Devan dan Nadine yang masih berada di ruangan yang sama pun ikut takjub mendengar ucapan kepala sekolah tersebut.
"Terimakasih Pak atas pujiannya," jawab Danisya tersenyum puas.
Kepala sekolah itupun mengangguk, "Jadi, saya memutuskan bahwa Danisya boleh lompat kelas hingga satu kelas dengan Charlotte Kakaknya," jawab Kepala sekolah itu.
"Ini benar tidak terjadi kesalahan, Pak, Bu?" tanya Nadine yang masih heran pula.
"Benar bu, kami pun sama takjubnya dengan Ibu tapi memang itu kenyataannya Danisya mengerjakan soal-soal dengan sangat sempurna. Di setiap soal yang dikasih sesuai tingkatannya."
"Jadi Danisya boleh sekelas dengan Kakaknya benar, Pak?" tanya Devan sekali lagi.
"Benar Pak, tapi bukan sekarang. Mungkin minggu depan baru bisa, hari ini hingga sabtu besok Danisya masih harus berada di kelasnya sekarang."
"Oh gitu baik Pak. Terimakasih sebelumnya," ucap Devan dan Nadine bersamaan.
"Sama-sama Pak. Dan satu lagi mungkin saya berencana untuk mengulurkan Danisya ini untuk ikut olimpiade cerdas cermat tingkat provinsi langsung. Saya yakin Danisya mampu," ucap Kepala Sekolah itu.
Devan dan Nadine benar-benar tak habis pikir dan tidak menyangkal sebelumnya kalau Danisya secerdas itu. Makan apa dulu dia sebelum kenal dengan keluarganya. Ataukah buku yang dimasukkan ke otak atau kamus yang dia makan perlembar-lembar setiap harinya. Entahlah dia hanya mampu menerka-nerka akan hal itu.
....
Kepala Sekolah dan gurunya sudah memberitahukan dirinya bahwa Danisya akan pindah kelas. Banyak ocehan tidak terima dari teman-temannya namun tidak dipedulikan oleh Danisya.
Sebelum dia pindah kelas alangkah baiknya dia sedikit membuat kejutan untuk teman-temannya. Dia mengeluarkan pulpenya dari saku. Pulpen tersebut bukan pulpen biasa pulpen itu adalah jarum yang tintanya itu berisi racun. Membunuh dalam ketenangan. Bukan membunuh tanpa menyentuh ya beda lagi itu. Ini lebih berkelas dari membunuh tanpa menyentuh.
Danisya mendekat ke arah Zoy dari awal dia sudah malas melihat anak itu banyak bicara dan cenderung ganjen. Anak kecil saja udah ganjen bagaimana besarnya nanti.
"Hai Zoy," sapa Danisya ramah mendekat ke arah Zoy yang sedang berbincang dengan teman sebangkunya.
"Ya kenapa Danisya? Kau rindu aku ya karena sebentar lagi kau akan pindah kelas. Lagian kenapa harus pindah kelas ini nanti akan sepi tanpa kamu Danisya," ucap Zoy gombal.
'Cih' batin Danisya menyepelekan.
Namun, Danisya tetap memasang wajahnya dengan senyum manis, "Iya, Zoy mungkin kamu benar. Makanya aku minta maaf ya kalau ada salah sama kamu," ucap Danisya mengulurkan tangannya ke Zoy.
Zoy menerima uluran tangan itu sedikit dengan terkejut, seperti tersentrum rasanya. Tapi, Danisya hanya diam dan tersenyum dalam hati. Pulpennya memang bentuknya hanya kecil menempel di tangan, jadi mungkin Zoy tidak sadar dengan itu. Dia segera menyembunyikan tangannya ke dalam saku lalu beralih ke teman-teman yang lainnya. Pulpennya tidak langsung bereaksi dia harus menunggu 30 menit ke depan baru akan bereaksi. Kita tunggu saja pasti dalam beberapa saat kelas akan riuh seketika.
Tiga puluh menit kemudian satu persatu mulai tumbang jatuh tiba-tiba dari bangkunya. Tidak semua hanya sebagian saja untuk menghindari kecurigaan. Guru yang mengajar pun seketika panik dan berteriak meminta tolong.
"Astaga kenapa mereka tiba-tiba pingsan seperti ini. Ayo kalian bantu Ibu, Ibu akan memanggil ambulance dan guru yang lain sekarang!" Guru tersebut langsung ke luar untuk meminta tolong ke guru lain.
Danisya hanya tersenyum sinis melihat teman-temannya yang pingsan tiba-tiba. Wajah mereka berubah menjadi keungu-unguan seperti habis di pukuli, padahal tidak. Salah satu murid melihat ke arah Danisya curiga. Danisya yang sadar pun menengok ke arah Wina, Wina yang tertangkap basah memperhatikan Danisya pun mengalihkan pandangannya dan pura-pura membantu mereka.
"Ternyata ada juga yang sadar," ucap Danisya pelan.
"Sadar apa Danisya?" tanya salah satu teman di sampingnya yang sedang membantu Fani salah satu murid yang pingsan.
"Enggak kok, eh ini kenapa tiba-tiba wajah mereka berubah seperti ini," ucap Danisya mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya.
"Iya betul ini kenapa dengan wajah mereka," sahut temannya yang lain.
Mereka pun mundur perlahan-lahan saat wajah keunguan itu mengeluarkan binatang aneh melata membuat mereka bergidik ngiri.
"Kenapa kalian tidak membantu teman kalian, kenapa malah di belakang seperti itu," ucap guru itu datang bersama guru lain dan beberapa tenaga medis.
"Itu Bu Guru takut mukanya menjijikan," ucap salah satu dari mereka. Guru-guru itu pun sama terkejutnya dengan mereka. Tapi mau tidak mau mereka harus membawa anak-anak tersebut. Mereka satu persatu membawa anak-anak itu ke ambulan.
Setelah semua beres pihak sekolah menelepon orang tua mereka masing-masing untuk menjemput anaknya di sekolah. Mereka terpaksa dipulangkan sekarang karena hal aneh ini. Danisya hanya diam tertawa sinis dalam hatinya. Ini belum seberapa teman-teman. Masih banyak kejutan yang akan Danisya munculkan nanti.