MUKA DUA

1171 Kata
"Jangan mencurigai aku atau kalian dalam bahaya." ****     Beberapa hari menjadi anak baik sudah cukup bagi Danisya. Rasanya membosankan jika setiap hari hanya diisi kegiatan yang sama setiap harinya. Sekolah, mendengarkan guru mengoceh dan hal-hal membosankan lainnya. Beberapa hari ini juga Danisya menjadi dikenal oleh banyak siswa karena nilainya yang selalu unggul dibandingkan yang lainnya padahal pelajaran itu belum diajarkan kepadanya.       "Papa, Mama aku mau langsung satu kelas sama Kakak supaya aku tidak dekat dengan Kakak," ucap Danisya saat mereka sedang menonton televisi bersama. Pandangan mereka semua langsung tertuju pada gadis kecil itu. Mana mungkin anak baru kelas satuberusia lima tahun mau langsung lompat kelas sampai kelas TERTINGGI tepatnya kelas enam. Dan artinya dia hanya bersekolah dua tahun saja mana mungkin.      "Enggak usah mimpi kamu! Kamu unggul di kelasmu belum tentu bisa unggul di kelasku bodoh."       "Charlotte jaga ucapan kamu." Devan langsung mengertak Devan yang mengatakan Danisya bodoh itu adalah ucapan yang kasar dan selama ini Devan tidak pernah mengajarkan Charlotte itu seperti itu.      "Okay Papa Charlotte minta maaf. Danisya aku minta maaf," ucap Charlotte menyesal mengatakan hal itu. Dia hanya refleks saja dengan keinginan Danisya.     "Enggak papa, Kak. Danisya yang salah. Danisya cuma enggak mau jauh dari kakak, Danisya mau sekelas sama Kakak," jawab Danisya merengut.     "Gini ya Danisya, Mah, Pah. Mana mungkin Danisya bisa langsung ke kelas Charlotte dia aja masuk sekolah baru beberapa hari dan pelajaran Charlotte kan pelajaran yang diulang dari kelas sebelumnya, gimana bisa Danisya bisa ngikutin pelajaran Charlotte sekarang. Uhuk ... uhuk...." Charlotte terbatuk, ah rasanya penyakitnya kambuh sekarang. Dadanya terasa sesak menghimpit pernafasannya.       Dia terus terbatuk-batuk, saat Nadine ingin mengambilkan obatnya Danisya lebih dulu mencegahnya, "Biar Danisya aja, Mah. Ini semua kan gara-gara Danisya. Sebentar Danisya ambilkan," kata Danisya segera ke belakang mengambilkan obat untuk Kakaknya.      Di dapur Danisya mengeluarkan kotak obat dari sakunya menukar obat Danisya dengan obat yang dibawanya. Salah sendiri bermain-bermain kok dengan Danisya. Sok meragukan kepintaran Danisya lagi.     "Danisya buruan Kakak  kamu semakin sesak, Nak," teriak Nadine memanggil Danisya.     "Iya, Ma sebentar lagi Danisya kesana. Lagi isi air minumnya, Ma," jawab Danisya, setelah mengisi penuh minumannya dia langsung saja mengantongi obat yang tadi, dia akan simpan dulu sementara obatnya itu.     Danisya berjalan cepat untuk memberikan obat itu kepada Charlotte dan diapun segera menegaknya sampai habis. Danisya tersenyum puas, obat itu bukan menyembuhkan tapi akan semakin membuat Charlotte lemah. Untung saja dulu Pamannya sempat mengajarkannya untuk bermain halus dengan kelinci percobaan. Perlahan-lahan tapi bermain dengan sangat apik. Itulah permainan Danisya.      "Udah enakan sayang?" tanya Nadine sambil mengelus punggung Charlotte.      Charlotte agak bingung dengan tubuhnya setelah meminum obatnya. Tidak seperti biasanya dirinya langsung terasa enteng.      "Kenapa sayang?" tanya Nadine yang melihat Charlotte diam saja.      "Danisya kamu kasih apa ke Charlotte?" Tanya Nadine sedikit mengertaknya membuat Danisya pura-pura gugup di buatnya.       "Enggak kasih apa-apa kok, Mah. Obatnya yang biasanya," jawab Danisya dengan wajah muram.     "Aku enggak papa kok, Ma. Malah badan aku lebih enakan," jawab Charlotte membuat Nadine tenang sekaligus merasa bersalah. Danisya berbalik arah untuk masuk ke kamarnya dia akan pura-pura nangis supaya Devan membelanya. Nadine dan Charlotte itu memang benar-benar harus disingkarkan sepertinya.      "Kamu terlalu keterlaluan Nadine, lagian kenapa kamu bilang kayak gitu ke Danisya. Dia kan masih kecil mana mungkin berbuat jahat sama Charlotte, lagian Charlotte juga enggak papa kok," ucap Devan menggertak balik Nadine. Dia terkejut kenapa suaminya malah ikut menyalahkannya lagian dia kan tadi hanya panik sesaat jadi tidak bisa menahan emosinya.      "Maaf, Mas. Cuma kan tadi aku enggak sengaja, Mas. Aku refleks marahin dia," jawab Nadine lagi. Devan menggelengkan kepalanya Lalu bangkit dari sana. Dia ingin ke kamar Danisya, gadis itu pasti terkejut dimarahi oleh Nadine.      "Mah enggak papa kok, Papa juga emosi sesaat nanti juga minta maaf lagi," kata Charlotte tersenyum kepada Ibunya. Rasanya dia sangat mengantuk sekali sekarang.     "Mah aku ke kamar dulu ya, ada PR yang harus aku kerjakan," ucap Charlotte pamit untuk ke kamar.     "Iya sayang. Selamat malam," ucap Nadine mengecup kening anaknya. ....       Devan masuk ke kamar Danisya yang tidak di kunci. Dia melihat Danisya membelakangi pintu kamarnya. Bahunya bergetar sepertinya gadis itu sedang menangis karena ucapan Nadine tadi.      "Danisya...." Devan mendekat ke Danisya lalu mengelus pundak gadis itu.      "Papa Danisya cuma nyusahin kalian ya. Danisya disini nakal ya Papa," kata Danisya melihat ke arah Papanya.       "Enggak kok sayang, Danisya enggak nakal. Danisya juga enggak nyusahin kita. Kenapa Danisya bilang kayak gitu?" tanya Papanya sambil menyampirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah anaknya.     "Tapi, kenapa Mama dan Kakak kelihatan tidak suka dengan Danisya Papa? Tadi Danisya cuma mau bantu Kakak tapi kenapa Mama langsung nuduh Danisya yang enggak-enggak Papa."      "Maafin Mama ya, Mama lagi emosi tadi, Mama sebenernya Sayang Danisya kok, besok pasti Mama udah baik lagi ke Danisya. Udah ya Danisya enggak usah mikirin yang aneh-aneh. Kita sayang Danisya kok," ucap Papanya memeluk Danisya sambil mengelus kepala Danisya.     "Tapi Papa...."      "Kenapa sayang?" tanya Devan.     "Aku mau sekelas sama Kakak Papa. Aku enggak suka di kelas aku, aku mau langsung satu kelas sama Kakak," kata Danisya sambil memohon.     Devan berfikir sejenak bingung harus mengatakan apa juga, "Ehm ... Danisya Bobo aja dulu ya, nanti kita omongin masalah ini lagi."     "Tapi, Mama masih marah sama Danisya soal tadi pasti ya Pa? Danisya takut, Pa."     "Danisya enggak perlu takut, besok Mama udah enggak marah lagi kok."      "Papa janji ya, jangan buang Danisya dan percaya semua yang Danisya bilang. Danisya takut Papa buang Danisya dan Danisya ketemu orang-orang jahat seperti kemarin." Devan melihat raut wajah Danisya yang sepertinya trauma akan hal itu. Berbeda dengan Danisya dalam hatinya dia tersenyum licik, aktingnya dengan wajah polos mampu membuat Devan percaya bahwa dirinya gadis yang baik.     "Iya Papa janji sayang, apapun yang terjadi Danisya akan jadi anak Papa."     "Makasih Papa. Danisya sayang Papa," jawab Danisya bahagia sambil memeluk Ayahnya.     "Yaudah kamu tidur ya besok sekolah," kata Devan membaringkan anaknya untuk tidur. Dia menarik selimut sebatas d**a Danisya.     "Selamat tidur anak Papa. Mimpi yang indah," ucap Devan mengecup kening anaknya.      "Selama Malam Papa," jawab Danisya tersenyum. Devan kemudian berjalan ke luar kamar lalu menutup pintu Danisya. Ternyata sedari tadi Nadine berada di luar kamar Danisya. Memperhatikan mereka berdua dari jauh.     "Kamu lain kali jangan terlalu kasar sama Danisya. Dia masih kecil dan traumanya belum hilang. Jangan kamu perparah dengan kecurigaan dia," tegur Devan membuat Nadine terkejut lagi-lagi suaminya menyalahkannya karena Danisya.     "Kamu kenapa malah nyalahin aku terus sih, Mas. Kan aku tadi udah bilang enggak sengaja," ucap Nadine lagi. Devan tidak menggubris ucapan Nadine lalu berjalan untuk masuk ke kamarnya.      "Mas tunggu."      "Udahlah Nadine aku capek mau istirahat besok kerja," ucap Devan enggan untuk bertengkar.      Danisya mengintip mereka yang saling beradu argument karena Devan yang lebih memilih membelanya. Dia tersenyum puas, sudah lama dia tidak melakukan aksinya. Nadine merasa ada yang mengikutinya pun lantas menengok ke arah belakang. Tidak ada siapa-siapa. Lalu, dia segera masuk ke kamarnya menyusul sang suami.  Sedangkan Danisya untungnya memiliki badan yang kecil sehingga mudah mengumpat di balik vas bunga besar beruntung lampunya gelap susah untuk melihatnya juga. Setelah aman dia langsung saja menuju ke kamarnya. Mempersiapkan Hari esok yang lebih menakjubkan bersama Danisya. ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN